Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Tulungagung mulai bergeliat lagi setelah vakum lima tahun. Kini mereka berencana untuk membuat kampung bonsai di wilayah Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru.
AGUS DWIYONO
Suasana asri sangat terasa saat melintas di kawasan Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, kemarin (23/6). Betapa tidak, di gang masuk lingkungan RT 03/RW 09 tersebut, banyak tumbuhan yang dirawat oleh warga sekitar.
Tampak ratusan pohon dengan segala jenis tertata rapi di setiap halaman rumah.
Aktivitas warga sekitar belum terlihat. Maklum, jam tangan wartawan Koran ini masih menunjukkan pukul 08.00.
Mungkin mereka masih melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih rumah dan istirahat. Pasalnya, Sabtu (23/6) lalu bertepatan dengan hari libur para pegawai dan karyawan.
Saat menyusuri gang jalan aspal yang baru selesai dibangun, Jawa Pos Radar Tulungagung mengarah ke salah satu rumah milik warga dengan halaman cukup luas.
Uniknya, di dalam rumah yang memiliki halaman sekitar 15 x 7 meter tersebut, tampak ratusan pohon berukuran mini terdapat dalam pot. Ya, pohon tersebut merupakan milik Dirman, seorang warga Desa Tapan.
Saat kaki mulai melangkah di sela-sela tumbuhan mini tersebut, seseorang memakai topi koboi menghampiri. Ya, dia adalah Gatot Sugihardjo, ketua PPBI cabang Tulungagung.
Selain ratusan bonsai dengan jenis tumbuhan berbeda berjajar rapi, tampak di sebelah kiri tanaman tersebut puluhan kursi yang tengah disiapkan untuk halalbihalal anggota PPBI se-Tulungagung.
Mengetahui maksud kedatangan wartawan ini, pria berkacamata itu mulai menceritakan jenis-jenis tumbuhan yang paling digemari penggemar tanaman bonsai.
Selain itu, juga bercerita terkait nilai jual bonsai yang terletak pada bentuk dan filosofi tersendiri. Semakin lama bonsai dan semakin banyak filosofi yang terkandung, maka makin mahal pula harganya.
“Ini harga setiap bonsai tergantung dalam bentuk dan filosofinya,” katanya.
Dia melanjutkan, nanti ada demo dari pakar bonsai saat acara dimulai. Mengenai jenis bonsai yang paling digemari adalah tumbuhan fikus seperti beringin dan kapak yang cenderung tahan banting dan tahan cuaca.
Pria 53 tahun ini mengaku, kegiatan yang kini dilakukan tersebut merupakan kali pertama yang dilakukan pihaknya dengan mendatangkan penggemar bonsai se-Tulungagung.
Tujuannya, menyatukan persepsi dan misi antara penggemar bonsai agar mewujudkan mimpi yang sama.
“Karena nuansanya masih Lebaran, kami gunakan kesempatan ini untuk berkumpul dan halalbihalal. Selain itu, melakukan kegiatan yang sering kami lakukan dan tidak jauh dengan pembahasan bonsai yang kami gemari. Sebab, ini juga kegiatan pertama setelah sekitar lima tahun vakum tidak ada kegiatan,” jelasnya.
Selain dilakukan demo oleh pakar bonsai pada acara halalbihalal itu, juga ada lelang bonsai yang dianggap memenuhi syarat untuk dilakukan pelelangan.
“Juga ada pelelangan untuk yang dilelang tumbuhan berkualitas tentunya,” katanya.
Menurut dia, kegiatan kali pertama ini dapat menjadikan Tulunggagung mempunyai destinasi wisata baru, yakni destinasi wisata kampung bonsai. Sebab, di wilayah ini sudah banyak warga berkiprah di bidang bonsai. Mulai dari petani bonsai, hingga pembuatan vas bunga dan lain sebagainya.
“Ini kan masih merintis. Kalau harapan ke depan sebagai destinasi wisata dan akan mendongkrak perekonomian masyarakat sendiri. Jangan kalah seperti kampung cokelat di Blitar dan kampung pelangi di Malang,” ujarnya.
Dia mengaku, mengenal bonsai kuliah tahun 80-an. Namun, kala itu harganya lumayan mahal. Dirinya hanya sering melihat dan mulai mengumpulkan uang untuk meminang salah satu.
“Awalnya hanya suka lihat, lama-kelamaan kok bagus dan ada niatan membeli,” jelasnya.
Hal itu dibuktikan setelah lulus kuliah hingga saat ini, dirinya rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan tumbuhan yang sangat diharapkan. Hal itu sebagai bukti dirinya sebagai pecinta tumbuhan.
“Namun, di segi lain, dengan bonsai ini juga bisa dibuat sebagai bisnis, jual beli tumbuhan bonsai juga,” jelasnya.
Menurut dia, proses membentuk bonsai memakan waktu lama.
Sebab, tumbuh kembang bonsai sesuai dengan perawatan yang diberikan. Artinya, semakin bagus perawatan dan pembentukan akan semakin bagus pula hasilnya.
“Butuh waktu sekitar empat sampai enam tahunan untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan dan terus dirawat,” ujarnya. (*/ed/and)
Editor : Anggi Septian Andika Putra