Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Miniatur Jaranan Karya Yulfa Nur Amanudin

Anggi Septian Andika Putra • Sabtu, 30 Juni 2018 | 17:07 WIB
miniatur-jaranan-karya-yulfa-nur-amanudin
miniatur-jaranan-karya-yulfa-nur-amanudin

Siapa sangka, tongkat pramuka dan talang air bisa disulap Yulfa Naur Amanudin menjadi barang-barang miniatur peralatan kesenian. Hasilnya pun tak sedikit yang berminat.


AGUS DWIYONO


Suasana di Jalan dr Wahidin Sudirohusodo Nomor 10 masuk RT 2/RW 8 Desa Kedungwaru, Kecamatan Kedungwaru, kemarin (29/6) pukul 16.30 tampak ramai. Maklumlah, jalan tersebut merupakan jalan menuju RSUD dr Iskak dan kebetulan bertepatan jam pulang karyawan setelah beraktivitas pagi dan siang hari.


Di salah satu rumah di jalan itu, ada beberapa miniatur kerajinan jaranan dipasang di etalase kaca dan beberapa perabotan bengkel. Wajar, rumah dengan cat berwarna kuning muda tersebut juga dipakai usaha bengkel.


Tak lama kemudian, setelah memastikan ada orang atau tidak di rumah tersebut, pemilik rumah memakai kaus klub sepak bola dan mempersilakan masuk ke ruangan berukuran 3 x 5 meter kepada wartawan Koran ini. Tak lama, wanita separo baya keluar dari dapur dan membawa secangkir kopi, menambah akrab saat berbincang.


Tampak beberapa peralatandari tripleksberserakan. Miniatur jaranan jadi ditunjukkan pemilik rumah.


“Kalau miniatur gapura masih proses pembuatan mencapai 15 persen. Butuh lama membuatnya,” kata perajin miniatur jaranan, Yulfa Nur Amanudin.


Kemampuan pria 19 tahun membuat miniatur dan suka menggambar ini sudah sejak kecil. Dia dulu pernah buat berbagai miniatur menggunakan bahan kertas dan styrofoam yang diwarnai.


“Saya sejak kecil suka menggambar dan membuat mainan dari kertas. Saya dulu buat seputar jaranan,” jelasnya.


Dia mengaku, lama-kelamaan berinisiatif membuat banyak dan diunggah di media sosial (medsos) untuk pemasarannya. Bahan awal yang digunakan kertas biasa, diwarnai memakai pensil berwarna, lalu dilaminating.


Tujuannya untuk mempercantikdan memperkuat kertas.


“Saya coba memasarkannya dengan mengunggah di medsos pada 2015, tapi bahan masih dari kertas dan kemudian dilaminating, harganya Rp 5 ribu per biji, peminatnya siswa SD,” ungkapnya.


Anak pasangan Sulono Andrianto dengan Sringatin itu menjelaskan, beberapa waktu kemudian, bentuk dan bahan ada pembaharuan, mulai dari pembuatan miniatur barongan dari tongkat pramuka dipotong kecil, kemudian diukir membentuk sebuah miniatur barongan.


“Saya mulai meninggalkan bahan kertas dan fokus membuat barongan dari tongkat pramuka sampai sekarang,” tandasnya.


Semakin lama, tambah kreatif. Terbukti tidak hanya membuat miniatur barongan dari bahan lebih awet, juga beralih membuat jaranan dari kertas tersebut diganti dengan bahan talang air. Itu karena lebih baik, mudah dipola, tahan air dan panas, serta teksturnya kaku mirip kulit.


“Saya menambah karya dari bahan talang air. Hasilnya jauh lebih baik dan kini terus kami buat,” ungkap anak kedua dari dua bersaudara itu.


Menurut dia, membuat miniatur jaranan dari bahan talang air tidak butuh waktu lama. Hanya dua hingga tiga hari. Mulai dari pembuatan pola di atas bahan talang air, pengecatan dasar, hingga melukis untuk mempercantik miniatur agar serupa aslinya.


“Kalau sudah dipola, lantas dipotong dan langsung diberi warna cat dasar putih. Kemudian dicat hitam, dibentuk seperti batik sesuai dengan jarang kepang aslinya,” ujarnya.


Dia mengatakan, membuat miniatur jaranan butuh waktu lama dan harus telatan. Langkah pertama membuat rambut kuda dari rafia dan kedua mengecat menggunakan bermacam-macam warna sehingga bentuk mirip aslinya.


“Saya menggunakan cat mobil karena cepat kering, lebih terang, dan halus. Kemudian kalau bagian rambut dan ekor, paling lama saat menyisir rafia membentuk kecil-kecil menyerupai rambut,” jelasnya.


Dia mengaku, kini mulai membuat miniatur gapura dan peralatan lengkap jaranan seperti celengan dan kucingan. Proses pembuatan peralatan itu perlu waktu satu bulan.


“Saya baru membuat satu set. Nanti jaranannya empat, celengan dua, kucingan dua, dan barongan dua,” ungkapnya.


Dia menambahkan, rata-rata pemborong dan pemesan karyanya dari pecinta seni jaranan dan guru sekolah untuk dijadikan pajangan atau hiasan rumah.


“Kalau jaranan harganya Rp 40 ribu, celengan Rp 30 ribu, dan barongan Rp 100 ribu,” ungkapnya. (*/ed/din)


 

Editor : Anggi Septian Andika Putra