Tidak selamanya pendidikan akademis yang dijalani sama dengan pekerjaan yang nantinya digeluti. Itulah yang kini dijalani Dika Rahmaddana dan Diki Rahmaddani. Si kembar yang juga dikenal dengan D2 itu justru lebih menekuni musik gambus Arab. Padahal mereka sarjana jurusan Pertanian.
WHENDY GIGIH PERKASA
Tidak sedikit orang meraih hasil cukup memuaskan berkat ketekunan dan keuletannya. Seperti halnya Dika Rahmaddana dan Diki Rahmaddani. Warga Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, itu sudah gemar bermain musik sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.
Uniknya, meski mahir dalam bermusik, keduanya tidak menuntut ilmu di sekolah khusus seni musik. Melainkan jurusan lain, yakni pertanian di Universitas Tulungagung (Unita).
Meski terlihat kontras, semua dijalani si kembar dengan baik. Mereka pun berhasil menjadi sarjana.
Ternyata, bakat seni lebih kuat dimiliki si kembar. Buktinya, kini mereka tetap tekun mengembangkan kemampuannya dalam bidang kesenian, khususnya musik. Hebatnya lagi, mereka lebih memilih aliran musik gambus. Gambus merupakan alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Timur Tengah. Gambus dipasangi paling sedikit tiga senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang.
“Kami bermain musik sejak tahun 2009. Awalnya musik salawat beralih ke gambus Arab,” ungkap Dika.
Dia bersama saudara kembarnya, yakni Diki, sudah cukup lama belajar musik. Itu tidak lepas dari faktor keturunan dari keluarga yang juga suka dengan musik. Yakni buyut, paman, serta ayah. Namun untuk belajar, si kembar lebih banyak otodidak.
“Belajar dari YouTube dan dikembangkan sendiri,” ujar pria berusia 28 tahun itu.
Dia menceritakan, belajar musik gambus cukup lama. Sudah sekitar lima tahun. Hingga dia dan Diki juga terus belajar mengembangkan kemampuan mereka. Suka aliran gambus karena musiknya lebih enak dan nyaman saat didengar. Membuat hati tenang. Serasa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta. Selain itu, lirik lagu berbahasa Arab meskipun suasana isi lagunya berbeda-beda. Ada yang sedih dan juga gembira. “Terus dilihat dari tariaannya lebih asyik dan energik sehingga membuat semangat,” jelas Dika.
Saat tampil, Dika dan Diki memainkan alat musik berbeda. Dika memainkan bas, sedangkan Diki bisa dua alat. Yakni keyboard dan biola. Meski demikian, si kembar ini selalu kompak dan memberikan yang terbaik dalam setiap penampilan.
Sudah banyak job yang diterima untuk tampil dalam berbagai acara di berbagai daerah. Beberapa di antaranya Solo, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Madura, dan lokal sekaresidenan. Saat manggung dalam suatu acara, musik gambus lebih doiminan dimainkan. Tapi juga ada selingan lain. Seperti India, dangdut, atau pun pop. Tapi cenderung irama gambus. Contohnya irama jalsa, baladi, disco Arabic, dan India.
Meski sudah cukup terampil, ada saja pengalaman yang dialami si kembar. Misalnya lupa peralatan musik. Pernah juga blank lagu akibat faktor kelelahan.
Bagaimana dengan jadwal latihan? Diki menjawab tidak ada permasalahan. Latihan lebih banyak dilakukan seminggu satu kali dengan durasi sekitar empat jam. Namun tidak jarang jadwal latihan ditambah sesuai kebutuhan bersama rekan dalam grup. “Latihan di rumah ya sama Dika, tidak ada gurunya. Terkadang saya panggil teman-teman latihan bareng. Tapi lebih sering latihan berdua sama Dika,” ujarnya.
Diki mengaku pernah membuka les gitar dan biola. Namun karena jadwal yang padat, les lebih sering libur. Karena itulah Diki berpikir lebih baik ditutup.
Selain aktif sebagai pemain musik gambus Arab, Diki sementara juga bekerja sebagai sopir di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sedangkan Dika bekerja sebagai karyawan toko emas. Mereka berharap ke depannya ilmu semakin bertambah. Selain itu, ingin menambah koleksi lagu dan terus belajar agar cita-cita menjadi seorang musisi gambus yang berkualitas dan terkenal bisa terwujud. (*/ed/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra