Dompet peduli Jawa Pos Radar Tulungagung kembali menyerahkan uang tunai Rp 12.765.452 dari pembaca untuk diserahkan kepada pasangan suami istri (pasutri) Siyanto dan Nuri Sulistyowati, orang tua Aldrine Dimas Yudistira yang didiagnosis mengalami kerapuhan tulang.
AGUS DWIYONO
Tidak mudah mencari rumah Aldrine Dimas Yudistira, terutama bagi orang yang kali pertama menginjakkan kakinya di wilayah lingkungan Desa/Kecamatan Kauman. Rumah Aldrine, anak pasutri Siyanto dan Nuri Sulistyowati itu berada di tengah-tengan permukiman, sekitar 500 meter dari jalan raya alternatif Tulungagung-Kediri. Apalagi banyak gang kecil di sekitar kawasan tersebut sehingga bisa membingungkan.
Dari kantor Kecamatan Kauman, ternyata rumah Aldrine tidak begitu jauh. Yakni masuk ke arah timur di salah satu gang yang terdapat di timur jalan, lantas diperkirakan 300 meter sampai SDN 3 Kauman, mengambil ke arah kiri atau utara hingga berjarak 200 meter, sampai di rumahnya.
Rumah Aldrine sangat mudah dikenali. Selain halaman samping rumah yang lebar, juga terdapat banner besar yang bergambarkan jaranan dan barongan.
Saat wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung mengetuk pintu berwarna cokelat itu, langsung dibuka dan dipersilakan masuk ke ruang tamu dengan lebar sekitar 3x6 meter tersebut. Tampak Aldrine di depan televisi dan main handphone (HP).
Selang beberapa waktu, salah seorang wanita memberi sambuatan ramah. Setelah memperkenalkan diri, ternyata dia ibu kandung dari Aldrine yakni Nuri Sulistyowati.
Air mata Nuri tidak terbendung, mengiringi saat Koran ini menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan waktu itu. Pasalnya, bocah 10 tahun tersebut yang masuk dompet peduli melalui Jawa Pos Radar Tulungagung, sudah terkumpul sumbangan dari donatur sebesar Rp 12.765.452 untuk diserahkan kepada keluarga bersangkutan.
“Saya tidak mengira jika akan diberikan bantuan. Saya kira diberikan bantuan seadanya atau malah barang seperti pempers dan lain-lain, tapi malah merepotkan,” ungkapnya sambil menahan tangis.
Ibu dua anak itu mengaku sangat terbantu dengan bantuan masyarakat yang membaca koran terbesar di wilayah Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar ini. Hingga kini anaknya terus bergantung pada obat-obatan dan pemberian oksigen.
“Sewaktu-waktu kami selalu berada di dekatnya. Selain kami beri obat terus, anak juga butuh oksigen. Paling sering saat suasana hatinya lagi kesal,” ungkapnya.
Dia mengaku, uang tersebut akan digunakan berobat Aldrine. Termasuk keperluan penunjang kesehatan, di antaranya oksigen dan alat untuk memberikan obat di dalam paru atau nebulizer. Sebab, hingga kini oksigen yang digunakan tersebut dari sewa.
“Uang ini bermanfaat sekali untuk Aldrine. Bayangan kami akan dibelikan oksigen dan nebulizer agar tidak sewa terus,” jelasnya.
Menurut dia, sudah beberapa minggu ini kondisi Aldrine terus tidak stabil. Dengan begitu harus terus ada oksigen di sampingnya. Sebab, yang merasakan dan yang meminta jika sulit bernafas itu anaknya sendiri.
“Minggu-minggu ini memang kondisi anak saya drop. Saya khawatir jika tidak ada tabung oksigen di dekatnya. Sebab, tiba-tiba kalau dia merasakan sesak langsung meminta dipasang,” ungkapnya.
Dia tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca dan donatur yang telah membantu meringankan biaya pengobatan dan keperluan Aldrine.
Selain itu, kepada karyawan dan direktur Jawa Pos Radar Tulungagung, dia sangat berterima kasih sudah peduli kepada dirinya.
“Hanya doa yang bisa kami panjatkan kepada donatur, pembaca, dan seluruh keluarga besar Jawa pos Radar Tulungagung telah peduli kepada kami,” ungkapnya. (*/ed/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra