Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengalaman Paralayang di Atas Bukit Tunggangan, Kecamatan Durenan

Anggi Septian Andika Putra • Rabu, 4 Juli 2018 | 19:16 WIB
pengalaman-paralayang-di-atas-bukit-tunggangan-kecamatan-durenan
pengalaman-paralayang-di-atas-bukit-tunggangan-kecamatan-durenan

Untuk kali pertama, di Kota Keripik Tempe ada festival paralayang. Bukit Tunggangan di Desa Kendalrejo menjadi spot untuk take off. Karena jalur masih kurang begitu mendukung, dibutuhkan waktu sekitar sejam dari lokasi landing ke tempat take off.


AGUS MUHAIMIN


Beberapa hari ini, ruas jalan raya Trenggalek-Tulungagung, tepatnya di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan, cukup macet. Di kanan kiri jalan terdapat area parkir dadakan untuk mengakomodasi kebutuhan ribuan masyarakat yang ingin menyaksikan paragliding alias paralayang.


Kondisi lebih crowded ada di lokasi landing atau mendaratnya paralayang, yakni di Lapangan Desa Kendalrejo yang ada di selatan ruas jalan nasional tersebut. Sedari pagi, masyarakat yang ingin menikmati hiburan tersebut rela berhimpitan dengan warga lain.


Bahkan ketika panas siang hari mulai menyengat, mereka seolah tak bergeming. Kendati ada juga yang berteduh di bawah rindangnya pepohonan.


Sesekali, terdengar suara panitia melalui pengeras suara yang berkali-kali mengingatkan agar mereka menjauhi area persawahan yang ada di sekitar lapangan karena khawatir tanaman milik petani di area tersebut rusak.


Rencananya, setelah istirahat siang, take off akan kembali dilakukan. Yakni sekitar pukul 13.00 WIB. Diduga karena kondisi angin yang cukup kencang sehingga baru sekitar pukul 15.30 WIB kemarin ada tim yang take off.


“Ini yang main tingkat junior dan siswa. Jadi untuk angin yang seperti ini kemungkinan tidak diperbolehkan oleh panitia,” kata Herda Eka, salah seorang pelatih paralayang.


Untuk mereka yang sudah berkecimpung didunia aero sport, kecepatan angin 25 knot masih tergolong wajar. Namun bagi para pemula, dengan kecepatan ingin tersebut tidak begitu baik.


Sehingga tidak salah menurutnya jika penyelenggara kegiatan tersebut mengedepankan keamanan penerbang paralayang.


Warga asli Mojokerto ini mengatakan, jika dilihat dari sisi kelayakan, Bukit Tunggangan merupakan salah satu spot terbaik yang ada di Jawa Timur (Jatim) untuk take off paralayang. Hanya saja, yang menjadi kendala saat ini adalah persoalan jalur.


Herda menyebut, idealnya dari lokasi take off dan landing bisa ditempuh maksimal 15 menit. Sehingga memudahkan rotasi para penerjun. Terlebih jika kegiatan tersebut berbau kompetisi dengan jumlah peserta yang cukup banyak.


Untuk spot paralayang di Trenggalek ini, dari lokasi landing ke take off dibutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar sejam. Itu pun dengan medan yang tidak mudah.


“Tadi saya juga bawa gantole. Tapi karena medannya sulit, porternya tidak sanggup,” katanya.


Menurutnya, Bukit Tunggangan mempunyai potensi yang baik untuk paralayang. Di sisi lain, ada banyak manfaat jika spot tersebut benar-benar dikelola. Terutama dalam hal kepariwisataan. Karena paralayang selain olahraga juga merupakan obyek wisata yang menurutnya sedang ngehits.


“Aksesnya diperbaiki, jelas itu menjadi daya tarik bagi wisata. Bisa juga ditambahkan aktivitas ekonomi di atas,” ujarnya.


Sekitar pukul 15.50 WIB, sejumlah penerbang mulai landing. Tampak wajah mereka masih tegang setelah mengupayakan agar mendarat di lokasi yang sudah ditentukan. Ada juga yang nyaris masuk ke sawah masyarakat.


“Wah rasanya tidak karuan,” kata Muchiman, salah seorang warga yang kebetulan mendapat kesempatan menjajal olahraga terbang tersebut.


Warga Kota Marmer ini mengaku baru kali pertama mencoba olahraga tersebut. Menurutnya, selain merasakan hembusan angin yang cukup lumayan di langit, dia juga menikmati pemandangan jauh lebih indah ketimbang dari darat. Area persawahan di Kecamatan Durenan ini menurutnya memiliki daya tarik tersendiri saat dilihat dari angkasa.


“Rasanya pingin naik lagi tapi kesempatannya terbatas,” akunya.(ed/tri)

Editor : Anggi Septian Andika Putra