Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Agar Murai Tak Stres, Masyarakat Trenggalek Pilih Kandang Tak Bising

Anggi Septian Andika Putra • Jumat, 20 Juli 2018 | 19:55 WIB
agar-murai-tak-stres-masyarakat-trenggalek-pilih-kandang-tak-bising
agar-murai-tak-stres-masyarakat-trenggalek-pilih-kandang-tak-bising

Burung Murai Batu Medan merupakan salah satu jenis murai terbaik di kelasnya. Sehingga menjadi salah satu favorit para pecinta burung untuk dikoleksi. Namun jangan salah, di balik itu semua, butuh ketelatenan dan keterampilan khusus untuk menernakannya. Seperti yang dialami M. Asom Suryaning Projo, salah satu peternak Murai Batu Medan di Trenggalek.


 ZAKI JAZAI


Mayoritas, para pecinta burung berkicau pastinya akan kepincut (tergoda, Red) akan keindahan dan kemerduan kicauan yang lantang, agem, bervariasi, sekaligus merdu dari burung yang memiliki nama latin Copsychus malaricus ini. Ini terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung di salah satu rumah yang masuk di wilayah Desa Krandegan, Kecamatan Gandusari kemarin (19/7).


Saat itu, di rumah itu terdapat satu ruang yang difungsikan sebagai tempat kandang burung Murai Batu Medan. Sehingga bisa dipastikan di tempat itu ada puluhan sangkar yang semuanya berisi burung yang terkenal memiliki ekor panjang tersebut.


Bersamaan itu, terlihat seorang pria masuk ke salah satu sangkar besar, yang digunakan untuk kawin sekaligus bertelur burung tersebut. Ya, pria itu adalah M. Asom Suryaning Projo, pemilik rumah yang kini getol peternak Murai Batu Medan.


“Inilah kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Maklumlah, untuk mulai beternak jika ingin berhasil, harus sabar,” ungkap M. Asom Suryaning Projo kepada Koran ini.


Hal itu bukanlah tanpa alasan. Karena pria yang akrab disapa Asom ini sudah mulai beternak burung yang berasal dari keluarga burung turdidae tersebut sejak 2012 silam. Saat itu, di suatu acara pameran burung dirinya tertarik dan langsung membeli sepasang burung tersebut. Bersamaan itu, dirinya langsung mulai belajar bagaimana cara beternaknya.


“Saya beternak burung ini memulainya dari nol. Makanya saat itu banyak mencari ilmu dari peternak lainnya,” katanya.


Dasi situlah Asom mendapatkan cara beternak burung tersebut dengan cara area kandang tidak boleh ada suara bising dan tidak boleh dilihat sembarang orang.


Tujuannya, agar burung tidak stres sehingga bisa betah di kandangnya dan mau kawin hingga bertelur dan menetas. Dengan demikian, sangkar tempat menjodohkan burung tersebut harus ditutupi dengan kelambu atau sejenisnya. Berpedoman ilmu tersebut, dirinya langsung mempraktikkannya.


Namun sayang, setelah mempraktikkan, ternyata tidak berhasil. Sebab, hal itu membuat burung yang dipeliharanya tambah stres, bahkan hingga mati. Kendati demikian, hal itu tidak membuatnya menyerah, justru membuatnya lebih semangat dalam menekuni.


Berdasarkan pengalaman itulah, dirinya kembali membeli sepasang anakan burung tersebut dan mulai beternak kembali dengan caranya sendiri.


Kendati dalam beternak kerap mengalami beberapa kali kegagalan yang dibuktikan dengan gagal menjodohkan burung, telur yang tidak menetas, dan sebagainya, Asom terus mencoba. Hingga pada 2016 silam, dirinya menemukan cara yang tepat untuk beternak. Sebab, setelah empat tahun beternak, dirinya mulai mengerti karakteristik burung tersebut.


“Karena kondisi seperti itu, bisa dikatakan selama empat tahun beternak Murai ini, saya tidak mendapatkan hasil seperti sekarang ini,” ujar pria 29 tahun ini.


Berdasarkan pengalamannya, burung murai merupakan jenis burung yang memiliki daerah atau teritorial sendiri. Sehingga jika sudah menyatakan tempat tersebut merupakan teritorialnya, cenderung mempertahankan. Juga hanya mau kawin maupun mengerami telurnya di teritorialnya tersebut. U


ntuk itu, sebelum memulai proses perkawinan, terlebih dahulu melepaskan indukan betina di sangkar. Jika betina telah menyatakan sangkar tersebut sebagai daerah teritorialnya, langsung dilepaskan sang pejantan.


Tujuannya, kendati sang betina tidak suka akan kedatangan pejantan tersebut dan lama-lama menaunginya, hal tersebut tidak sampai membunuh. Sebab, pada betina tidak ada naluri untuk membunuh. Dari situlah Asom terus menjodohkan murai peliharaannya hingga cocok dan mau kawin.


“Hal yang penting dalam menjodohkan, baik jantan maupun betina, tidak boleh dari satu peranakan dengan gen yang sama. Sebab jika itu terjadi, kondisi perkembangan anaknya pasti tak sempurna,” tutur suami dari Nurhayati ini.


Tak ayal, hal itu membuat Murai Batu Medan ternakannya banyak yang meminati. Sebab, pecinta burung yang akan membeli peranakannya bisa melihat indukannya langsung tanpa takut stres. Sehingga selain dari dalam daerah sendiri, burung ternakannya juga kerap dipesan oleh pecinta dari luar daerah, seperti Solo, Jawa Tengah dan sebagainya.


“Siapapun pecinta burung yang akan membeli peranakan murai dari saya ini pasti senang karena bisa melihat langsung indukannya,” jelasnya. (jaz/ed/tri)


 

Editor : Anggi Septian Andika Putra