Meski memiliki tubuh tidak normal, semangatnya dalam berlatih tidak pernah kendur. Itu dibuktikan Kontingen Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-LK) Tulungagung yang ikut lomba Pramuka tingkat Jawa Timur.
AGUS DWIYONO
Keterbatasan tidak mengendorkan semangat ikut kegiatan sekolah. Buktinya, enam siswa sekolah luar biasa (SLB) ikut lomba Pramuka di Pusuruan, kemarin (20/7).
Mereka rela latihan sekitar satu bulan dengan memperbanyak simulasi setiap mata lomba yang akan dilombakan.
“Semangatnya sangat luar biasa, meskipun mereka tidak seperti kita,” ungkap salah seorang pendamping kontingen Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-LK) Tulungagung Lilik Nur Handayati.
Kegiatan kepramukaan tersebut digelar rutin setiap setahun sekali, khusus untuk SLB di Jawa Timur. Tujuannya untuk menambah kemandirian penyandang berkebutuhan khusus dan penguatan karakter.
Wanita berkacamata itu menjelaskan, setiap kontingen kabupaten atau kota harus mengirimkan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan. Yakni putra-putri terbaik dengan seluruh anggota dilibatkan, seperti tuna rungu, tuna netra, tuna grahita, serta tuna daksa.
“Tapi kami hanya bisa mengirimkan dari tuna rungu dan tuna grahita. Masing-masing di tiga yang wakili,” ungkapnya.
Untuk mempersiapkan lomba yang kemarin, pihak butuh waktu satu bulan untuk mempersiapkan. Alasannya, selain keterbatasan pemahaman dari perwakilan peserta, daya ingat dan tangkap juga perlu waktu lama.
“Latihan satu materi pun bisa beberapa hari, terutama bagi anak tuna grahita karena sering lupa. Sehingga harus beberapa kali diulangi,” ungkapnya.
Dia mengatakan, sebenarnya yang dibawa sebanyak tujuh peserta dan disisakan satu untuk cadangan. Sebab, kondisi fisik yang perlu dijaga dan kondisi mood dipertimbangkan. Kalau suasana hati sedang resah atau tidak senang, akan mempengaruhi kondisi fisik.
“Membawa satu cadangan, entah nanti dimainkan atau tidak. Soalnya mereka kondisinya kalau kelelahan, gampang lemah,” jelasnya.
Setiap berlatih, semangat menyelesaikan tugas dan rasa ingin tahu mereka sangat luar biasa. Misalkan dalam membuat gapura, kekompakan dalam menyelesaikan membanggakan yakni dengan gotong royong.
“Mereka kan tidak semua bisa, memiliki kemampuan masing-masing. Namun jika ada kegiatan yang sifatnya kelompok, koordinasinya antara yang tuna rungu dengan tuna grahita sangat apik, tapi kami mengarahkan komunikasinya,” ungkapnya.
Lomba tersebut digelar hingga Minggu (22/7). Harapannya, tentu sesuai dengan usaha selama ini dan bisa membanggakan Tulungagung. “Semoga mendapat nilai maksimal, biar kakak-kakak yang melatih dan pendamping kontingen ikut bangga,” ujarnya.
Selama latihan sebelum lomba, banyak cerita lucu dan menggemaskan. Salah satunya yang membuat haru yakni dalam kerja sama dalam mata lomba menjawab teka-teki, antara tuna rungu dengan tuna grahita dengan cara yang menulis dari tuna rungu yang mengucap dari tuna grahita.
“Kalau ada teka-teki, yang menjawab dengan tulisan harus dari tuna rungu karena tidak bisa mengucap. Sedangkan yang mengucap dari tuna grahita, tapi juga harus bekerja sama,” ungkapnya.
Selain itu, anak-anak peserta tersebut paling suka jika jadwalnya latihan etnho carnival dengan memakai baju adat atau kesenian masing-masing dan dengan gerakan-gerakan tertentu. Sesuai dengan tarian di setiap kabupaten atau kota. “Karena mereka senang kalau ada seperti karnaval itu. Pokok sangat semangat sekali jika dilihat banyak orang,” jelasnya. (*/ed/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra