Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Elis Zulva Mastuti, Pembuat Kerajinan Berbahan Kain Perca

Didin Cahya Firmansyah • Sabtu, 25 Agustus 2018 | 22:00 WIB
elis-zulva-mastuti-pembuat-kerajinan-berbahan-kain-perca
elis-zulva-mastuti-pembuat-kerajinan-berbahan-kain-perca

Banyaknya potongan kain yang tidak dipakai (perca), membuat Elis Zilva Mastuti berpikir kreatif. Dia memanfaatkannya untuk kerajinan seperti bros dan lain sebagainya. Kini, karya warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbergempol, itu sudah banyak diminati pelanggan.


WHENDY GIGIH PERKASA


Memiliki usaha butik tidak lantas membuat Elis Zulva Mastuti puas. Dia terus berkreasi. Salah satunya dengan kain perca. Wanita itu mampu mengubah kain perca yang semula langsung masuk tempat sampah, menjadi barang bernilai ekonomi.


Saat wawancara, Elis mengaku memulai usaha membuat kerajinan dari kain perca sejak dua tahun lalu. Awalnya, dia melihat banyak kain sisa potongan baju yang dijahitnya. Potongan itu terus bertambah dan semakin menumpuk. Tidak sedikit yang dibuang ketika belum bisa dimanfaatkan.


Akhirnya, dia mencoba membuat bros dari kain perca itu. Keahliannya membuat bros juga tak lepas dari pekerjaan sehari-hari. Yakni membuat baju dengan beragam model. Bros awalnya dibuat Elis sebagai tanda cinta kepada konsumen. Dia memberikan gratis untuk pelanggannya. “Bahannya dari perca baju yang dipesan. Saya buatkan bros yang sama dengan kainnya. Bisa dipakai di jilbab,” ungkap pemilik butik muslimah El Hijaaz itu.


Ternyata, bros buatan Elis mendapat tanggapan positif. Peluang itulah yang kemudian dimanfaatkannya. Kain perca yang dulu dibuang, disulap menjadi barang bernilai. Pengembangan pun dimulai. Bukan hanya bros, tapi juga ada beragam karya lain. Di antaranya dompet aplikasi kain perca, sarung bantal kursi aplikasi perca, tempat pensil, dan lain sebagainya.


Mengikuti perkembangan mode, ibu tiga anak itu mulai berani mengombinasi karyanya dengan mutiara atau pun permata. Hasilnya pun lebih menarik. Ini tentu saja membuat harga ikut terdongkrak. Begitu pun dengan peminat yang semakin bertambah. “Agar bisa mengikuti tren,” ujarnya.


Wanita berusia 42 tahun itu mengatakan, tempat pensil memakai aplikasi perca biasa dipasok ke sekolah-sekolah. Yakni melalui koperasi sekolah. Bros, mayoritas dibuat sesuai pesanan pelanggan dan sedikit stok di rumah. Ada juga bros yang sudah termasuk dalam pesanan gamis atau jilbab. Ada juga pincushion yakni tempat jarum pentul dari perca. Untuk sarung bantalan kursi, dibuat sesuai pesanan dan sedikit stok saja. Sebab, memang ingin membuat sesuatu yang berbeda, tidak ada di pasaran. Karena itulah tidak diproduksi secara masal. (*/ed/din)


 

Editor : Didin Cahya Firmansyah