Tidak banyak orang bisa merajut hingga menghasilkan karya yang bernilai jual tinggi. Selain butuh ketelatenan, merajut juga harus mengikuti zaman. Terutama model. Konsekuensi itulah yang dipilih Niken Mayasari. Dia terus mengembangkan usaha merajutnya hingga sukses.
WHENDY GIGIH PERKASA
Setiap usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh, pasti membuahkan hasil manis. Itulah yang sudah dibuktikan Niken Mayasari. Sejak setahun terakhir, dia tekun mengembangkan usahanya. Yakni merajut.
Dia mengaku, belajar merajut secara otodidak sudah dilakukannya sejak kecil. Namun, ketika itu, hasil rajutan belum rapi dan belum layak jual.
Seiring perkembangan zaman, Maya juga belajar bersama teman-temannya dan tak segan ikut workshop. Tujuannya, menambah ilmu dan pengalaman. Salah satunya berkaitan dengan model-model rajut terbaru dari berbagai daerah.
Setelah merasa cukup mampu, Maya memberanikan diri menawarkan hasil karyanya kepada masyarakat. Ternyata memperoleh respons positif. Karyanya banyak diminati dan laku dijual.
Dia pun semakin termotivasi dan terus mengembangkannya, termasuk beragam model terbaru.
Hingga kini, ada berbagai kerajinan rajut yang sudah diproduksi. Beberapa di antaranya gantungan kunci, sling bag tas kerja, tas pesta, sepatu, topi, baju bayi, kopiah, tas pinggang, dan lain sebagainya.
Hebatnya lagi, usaha itu sudah mampu menembus pasar hingga ke luar pulau. Di antaranya Kalimantan, Lombok, Bali, Palembang, dan lain sebagainya. Bahkan, belum lama ini ada permintaan dari Hongkong. Strategi pemasaran yang dipakai, salah satunya melalui bazar atau pun event seperti car free day. Untuk harga, mulai Rp 15 ribu sampai ratusan ribu. Tentu saja selalu mengutamakan kualitas. “Motto kami, we sell quality not quantity. Merajut dengan hati,” ungkap pemilik galeri Sultanagung 78 itu.
Untuk melayani pesanan, wanita berusia 32 tahun itu dibantu sekitar 25 perajut. Rata-rata per orang bisa merajut tiga tas ukuran besar atau pun lima tas ukuran sedang per minggu. Agar lebih efisien dan cepat selesai, setiap perajin memiliki tugas masing-masing. Misalnya khusus membuat handle, bagian finishing, membuat furing, dan lain sebagainya.
Dia ternyata memiliki perhatian dan memberdayakan santri untuk ikut membuat rajut. Karena itulah, perajut yang membantunya memenuhi pesanan merupakan santri dari pondok pesantren. Salah satu alasannya, untuk menggali dan mengembangkan potensi santri sesuai bakat masing-masing. Para santri juga dituntut selalu kreatif dalam membuat model yang dicontohkan oleh Maya.
Wanita berusia 32 tahun itu mengaku juga tidak mudah melatih para santri untuk merajut. Terlebih, mereka sama sekali tidak pernah memegang alat rajut. Yakni jarum rajut dan benang. Namun dengan kesabaran dan ketelatenan, ditambah mau disiplin, mereka pun menikmati merajut. “Kami ada agenda merajut bersama di kantor Sultanagung 78 setiap Minggu pagi,” jelasnya.
Selain melatih santri sendiri, Maya juga melatih rajut di pesantren lain. Di antaranya Jombang, Pare, Wlingi, dan ibu-ibu PKK di Tulungagung serta Trenggalek.
Ada beberapa bahan yang dipakai untuk membuat berbagai produk rajutan. Di antaranya beberapa jenis benang nilon sesuai grade-nya. Untuk meminimalkan harga, biasanya handle dibuat dari rajutan. Bisa juga request kulit sintetis atau pun kulit asli. Meski sudah piawai membuat kerajinan rajut, dia tidak menampik sempat mengalami kesulitan. Terutama pada awal merintis usaha. Misalnya terkait bahan baku atau pun sulit menstandarkan kualitas. Karena itulah, harus ada quality control di setiap perajut yang menyetorkan karyanya. (*/ed/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah