Menikmati suasana embung memang bisa dilakukan di berbagai waktu. Bahkan saat hujan rintik-rintik pun bisa menikmatinya. Apalagi dengan air yang berwarna hijau, tentu sejuk dipandang mata. Seperti embung di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, yang memiliki banyak manfaat bagi warga sekitar.
DHARAKA R. PERDANA
Hujan deras yang berujung melubernya air di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, beberapa waktu lalu, justru berdampak positif pada debit air di embung setempat. Kini ketinggian air sudah mencapai pintu saluran pembuangan. Meskipun belum terlihat ada air yang mengucur turun dalam jumlah banyak.
Salah satu warga setempat, Fery Wahyudi mengatakan, setelah hujan deras beberapa minggu lalu, debit air di dalam bendungan mini di desanya memang berangsur normal. Permukaan air memang lebih tinggi dibanding saat pertengahan musim kemarau lalu yang terlihat dangkal. “Air di embung itu memang berangsur normal,” katanya.
Menurut dia, air yang mengalir ke embung berasal dari air terjun kecil yang berada di sisi barat bangunan itu. Kini kucuran air yang berasal dari sumber di atas gunung memang terhitung lumayan. Sebab, sudah bisa mengisi volume air waduk yang pada kemarau silam terhitung cukup kritis. “Waktu di puncak kemarau, hanya tersisa di bagian tengah saja,” jelasnya.
Meski demikian, kini dia belum melihat adanya debit air dalam jumlah besar turun melalui saluran pembuangan. Padahal, air yang dari situ cukup membantu kaum petani dalam mengairi sawah. “Masih sedikit yang mengalir ke bawah,” ujarnya.
Sekadar mengingatkan, debit air di embung Bantengan menyusut drastis dan menyisakan daratan kering yang pecah-pecah pada Agustus lalu. Akibatnya, tidak mampu lagi mengairi lahan persawahan di sekitar perdesaan tersebut.
Penyusutan debit air waduk mini di perbukitan itu sebenarnya sudah diprediksi saat awal kemarau mendera wilayah tersebut. Dengan begitu, sumber air yang mengaliri embung pun berkurang dengan drastis sehingga berpengaruh pada ketersediaan air embung itu sendiri.
Editor : Didin Cahya Firmansyah