Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Melihat Aktivitas Nelayan Prigi saat Cuaca Sedang Tak Bersahabat

Didin Cahya Firmansyah • Minggu, 13 Januari 2019 | 22:30 WIB
melihat-aktivitas-nelayan-prigi-saat-cuaca-sedang-tak-bersahabat
melihat-aktivitas-nelayan-prigi-saat-cuaca-sedang-tak-bersahabat

Beberapa pekan terakhir ini, cuaca di pesisir selatan Pulau Jawa sedang tidak begitu bersahabat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sempat menegaskan adanya gelombang tinggi sekaligus angin kencang. Ternyata juga membawa dampak, khususnya bagi nelayan jaring tarik yang mencari ikan di pinggiran.


 




Agus Muhaimin




 


Gemuruh debur ombak Pantai Prigi seolah-olah tak memiliki waktu jeda Jumat (11/1). Kendati begitu, sejumlah perahu nelayan terlihat masih lalu lalang tak menghiraukan ombak yang cukup tinggi di perairan tersebut. Mereka membawa jaring dari pinggir pantai. Di tepian pantai, terlihat belasan orang siap dengan tali ditangan. Ya, mereka adalah segerombolan nelayan yang disebut sebagai nelayan jaring tarik.



Tak setiap hari nelayan jaring tarik ini beraktivitas. Namun, sore itu terdapat lebih dari tiga kelompok nelayan jaring tarik yang mengadu peruntungan menangkap ikan dari tepian pantai ini.


Sarana yang mereka gunakan sama seperti nelayan lain, yakni jaring. Namun, khusus untuk nelayan jenis ini, juga menggunakan tali yang panjangnya ratusan meter. Tali tersebut wajib hukumnya karena dipakai untuk menarik jaring yang sebelumnya sudah ditebar di tengah laut. “Minimal 500 meter panjangnya,” kata Dian, salah seorang nelayan.



Dibutuhkan waktu minimal 4 jam untuk menarik jaring yang sudah ditebar di tengah laut tersebut. Biasanya, akan menjadi lebih lama jika cuaca atau kondisi air sedang tidak baik. Semisal ombak atau arus air di bawah permukaan cukup kencang. “Ini tadi sudah ditebar sejak habis Jumatan. Masih sejam lagi, baru sampai pantai jaringnya,” ujarnya sambil menyodorkan jam tangan yang sudah menunjukkan lebih dari pukul 16.00 Wib.



Aktivitas nelayan jaring tarik ini ternyata juga telah terorganisasi dengan baik. Ada puluhan nelayan jaring di Pantai Prigi. Mereka bergantian menebar jaring sesuai dengan jadwal yang sudah mereka atur bersama sebelumnya. Jadi tidak mungkin ada persoalan mengenai jatah menebar jaring di lingkungan nelayan ini.



Jika ada nelayan yang berhalangan untuk menebar jaring, biasanya mereka segera berkoordinasi dengan nelayan lain yang memiliki jadwal tebar berikutnya. “Jadi sudah ada nomornya. Kalau pas nomornya gak bisa, diserahkan ke nomor antrean berikutnya,” ungkap warga Tasikmadu ini.



Ada beberapa hal yaang bisa membuat nelayan ini enggan menebar jaring. Salah satunya karena ombak terlampau tinggi. Ombak yang tinggi ternyata berdampak tidak baik bagi nelayan. Jaring mereka akan rusak saat ombak tinggi. “Naik turunnya air bisa merusak jaring,” imbuhnya.


Di sisi lain, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan aktivitas tersebut. Minimal untuk sekali menebar jaring, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 1,5 juta. Itu sebagai upah pekerja yang bertugas menebar jaring. Dengan begitu, para pekerja ini tidak harus menanggung risiko saat hasil tangkapan ikan sedikit.



Atas dasar itu pula, para nelayan jaring tarik harus pandai melihat kondisi alam. Tidak hanya sekadar mempertimbangkan cuaca, mereka juga harus memiliki insting yang kuat sehingga tidak mengalami rugi setelah menebar jaring.


Kedati demikian, keberuntungan menjadi faktor yang paling diharapkaan oleh nelayan. Perhitungan dan pengalaman menjadi nelayan jaring tarik ternyata tak cukup memberikan jaminan mereka bisa mendapatkaan tangkapan melimpah. “Sering banget. Kadang cuma satu keranjang, kadang satu kotak boks ikan, kadang juga dapat beberapa keranjang,” ungkapnya.



Kini di pesisir sedang musim ikan layur. Harganya cukup baik, berkisar di angka Rp 20 rbu per kg. Jika mendapatkan satu keranjang ikan ini, berarti mereka hanya impas karena bobot satu keranjang ini sekitar 70 kg sampai 80 kg.


Antok, salah satu pekerja mengaku tidak setiap hari beraktivitas di jaring tarik. Namun beberapa hari ini cuaca memang cukup memungkinkan untuk beraktivitas di jaring tarik. “Ini tadi sudah dua kali narik,” katanya.


Dia mengaku tidak ada ruginya menjadi pekerja nelayan jaring tarik. Sebab, yang mengeluarkan modal untuk aktivitas tersebut adalah nelayan yang memiliki jaring dan perahu. Di sisi lain, jika memang hasil jaring tersebut cukup lumayan, mereka juga mendapatkan bagian sebagai tambahan.



Sekitar pukul 17.00 Wib, jaring yang ditarik beberapa jam oleh Antok dan rekan-rekannya sampai di bibir Pantai Prigi. Satu keranjang tak penuh ikan didapatkan sebagai hasil 5 jam menarik jaring. Sayang, ada banyak komponen lain dalam keranjang itu. Selain ikan, ada lumpur dan sampah plastik yang juga ikut terbawa oleh jaring. Tentunya patut menjadi perhatian bahwa menjaga ekosistem air dari sampah juga sangat penting dan berdampak pada hasil tangkapan nelayan.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#trenggalek