Pasar Gandusari kini tengah dibangun. Pedagang disediakan tempat relokasi di sisi barat pasar tersebut. Separo lapak di los tersebut tidak ditempati karena pedagang mencari lokasi berdagang sendiri.
AGUS MUHAIMIN
Buah–buah yang banyak menggantung di lapak pedagang tidak lagi terlihat di jalan raya Gandusari. Di depan kantor Kecamatan Gandusari hanya tampak pelat berwarna silver sebagai pengaman aktivitas pembangunan Pasar Gandusari. Pemandangan yang demikian sudah ada sejak beberapa bulan terakhir, tepatnya sejak Oktober tahun lalu.
Karena pasar sedang dibangun, otomatis pedagang harus meninggalkan area tersebut. Mereka disediakan sarana perdagangan di belakang atau di barat pasar yang kini dibangun. Meski begitu, masih saja ada beberapa pedagang yang mencoba peruntungan dengan menjajakan dagangan di samping pelat pengaman proyek ini.
Akses menuju tempat perdagangan sementara ini juga cukup mudah dijangkau dari jalan raya Gandusari. Tak sampai semenit, los berisi lapak-lapak itu memanjang lebih dari 100 meter ini bisa ditemukan.
Bangunan sederhana bertingkat kayu tahunan dan beratap asbes ini juga terlihat dari area persawahanan setelah turunan Kedekan, Desa Jatiprahu. Karena lokasinya di antara hamparan persawahan Desa Sukorejo, pandangan pengguna jalan di area ini bisa melihat garis putih yang sebenarnya adalah atap dari bangunan pasar sementara tersebut.
Sayang, ketika Koran ini tiba di lokasi, nyaris tak ada lagi aktivitas pedagang. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Hanya ada tumpukan bangku atau kursi di sisi timur. Sedangkan sebagian di sisi barat tidak ada tanda-tanda sarana perdagangan tersebut dimanfaatkan.
Pada hari-hari biasa, pedagang pasar masih menjajakan dagangan hingga malam. Namun karena mereka memanfaatkan lapak, sementara kebiasaan ini berubah. “Pasarnya ramai itu waktu subuh,” kata Mak Ti, seorang penjual es di sekitar area proyek.
Pasar Gandusari ini termasuk pasar yang menganut sistem pasaran. Artinya, hanya di hari-hari tertentu saja pedagang beraktivitas secara keseluruhan. Yakni pasaran Wage dan Legi. Selebihnya, ada beberapa pedagang yang tak jualan.
Rabu (16/1) sebenarnya momen pasaran Legi di Pasar Gandusari. Seharusnya aktivitas perdagangan di lokasi ini juga lebih lama dari hari biasa. Mungkin karena cuaca kurang bersahabat (mendung tebal, Red), pedagang di pasar ini memutuskan pulang lebih awal. “Sebelum dibangun, setiap saat ada pedagang. Sekarang kan masih dibangun, jadi tidak bisa disamakan lagi,” imbuhnya.
Kepada Koran ini, warga Desa Sukorejo ini mengatakan, tidak semua pedagang di Pasar Gandusari menempati lapak yang disediakan di tempat relokasi. Sebab, lokasi tersebut kurang strategis untuk perdagangan. Mereka berpencar, mencari lokasi sendiri. Baik itu di pinggir jalan raya atau sewa tempat di depan rumah warga yang ada di samping jalan raya. “Itu toko emas juga pindah ke sana,” katanya sambil menunjuk sebuah kios kecil yang menjajakan emas.
Jika dilihat lebih teliti, memang terdapat sisa-sisa sarana perdagangan di pinggir jalan raya Gandusari ini. Semisal bangku atau kursi yang sudah dirapikan oleh pemiliknya. “Saya juga dapat jatah lapak (di tempat relokasi, Red), tapi gak tak pakai,” kata Nizar, seorang pedagang buah yang memutuskan menempati area kosong di sempadan jalan raya Gandusari ini.
Menurut dia, ada banyak rekan lain memilih mencari lokasi sendiri saat pasar tersebut dibangun. Tak heran jika sebagian lapak, khususnya di sisi barat sarana perdagangan sementara itu kosong. Baginya, lokasi tersebut kurang strategis menjajakan dagangan seperti buah. “Kalau di sana kan sepi, tapi sebentar lagi pasarnya jadi. Kami juga akan pindah ke pasar yang baru,” katanya.
Dia berharap, di lokasi baru nanti lebih baik dari sebelumnya. Artinya, dari sisi kebersihan serta kenyamanan dalam berdagang. Kendati demikian, juga ada sedikit rasa waswas di hati Nizar jika melihat model pasar yang dibangun kini tak jauh beda dengan Pasar Bendo. Sebab, jumlah kios di pasar itu terbatas, sedangkan model lapak pedagang juga relatif kecil. “Kalau untuk pedagang buah, kan butuh area yang cukup luas untuk display dagangan,” akunya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah