Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Turut Perkenalkan Penggunaan Bahasa Jawa Baku Dengan Video

Didin Cahya Firmansyah • Selasa, 22 Januari 2019 | 02:05 WIB
turut-perkenalkan-penggunaan-bahasa-jawa-baku-dengan-video
turut-perkenalkan-penggunaan-bahasa-jawa-baku-dengan-video

Bahasa Jawa memang bahasa ibu yang paling banyak digunakan di Tulungagung. Namun, tak semua orang mengetahui seperti apa bentuk bahasa yang baku dari bahasa Jawa. Dari sinilah Rahmad Setyo Jadmiko, dosen salah satu perguruan tinggi di kabupaten ini berupaya memperkenalkannya melalui cover lagu.



Bahasa Jawa memang memiliki banyak dialek, khususnya yang dipengaruhi letak geografis penggunanya. Seperti yang dilansir Wikipedia, paling tidak ada 18 dialek yang digunakan orang Jawa. Di antaranya Banyumasan, Mataraman, Pesisiran, Surabayan, dan lain sebagainya. Kendati demikian, yang dianggap baku adalah dialek bahasa Jawa dialek Mataraman yang melingkupi Jogjakarta maupun Surakarta.



Dari sinilah, Rahmad Setyo Jadmiko, dosen salah satu perguruan tinggi di Kota Marmer tergerak untuk memperkenalkan lebih luas. Media yang digunakan pun cukup familier di kalangan generasi sekarang. Yakni video yang diunggah di Youtube. Namun, isinya bukan berupa percakapan, melainkan cover lagu berbahasa Indonesia atau Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. “Pada dasarnya, saya memang berupaya terus menjaga eksistensi bahasa Jawa di kalangan masyarakat,” katanya Minggu (20/1).



Beruntung, bekal untuk membuat konten seperti itu mencukupi. Sebab, dia pernah menempuh pendidikan di jurusan pendidikan bahasa daerah di Universitas Negeri Surabaya. Sehingga dia cukup paham mengenai kata baku itu seperti apa. Nantinya, itu diinterpretasikan pada lirik lagu yang sudah diterjemahkan. “Diakui atau tidak, banyak orang yang kurang tahu kata baku. Karena biasanya sudah berubah menjadi istilah lokal,” jelas warga Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut ini.



Dia mencontohkan, kata ada. Jika dalam kata baku adalah ana, tapi di Tulungagung menjadi enek. Ada juga kata pancet yang berubah menjadi panggah yang artinya tetap dan lain sebagainya. Namun semua dikemas dalam lirik lagu dengan iringan gamelan.



Dari situ, Jadmiko -sapaan akrabnya- memberi pesan jika gamelan Jawa masih ada dan terus eksis di tengah arus modernisasi. “Yang pasti, harus tetap bernuansa Jawa biar tidak cepat pupus ditelan zaman,” ujarnya sambil tertawa.



Untuk membuat video, ayah dua putra ini harus benar-benar membagi waktu dengan waktu mengajar di kampus. Tak jarang, lokasi pengambilan gambar itu tidak berada di Tulungagung. Jadi dia harus memiliki waktu yang benar-benar longgar agar tidak ada urusan lain yang menghantui aktivitasnya hari itu. “Membuat konten video memang bukan perkara mudah, tetapi juga tak sulit. Yang pasti, banyak tahap yang harus dilakukan karena semua dipelajari secara mandiri,” paparnya.



Dengan berjalannya waktu, ternyata beberapa rekannya pun ada yang berminat untuk membuat konten yang serupa dan dia memposisikan diri sebagai manajer. Dia pun bisa menawarkan bantuan untuk membuat terjemahannya agar tidak ada yang meleset dari arti. “Saya tetap mendapatkan bantuan dari rekan lainnya. Tak jarang juga berkolaborasi dengan pemilik channel lain yang memiliki konten serupa. Yang pasti, saya ingin bahasa Jawa terus ngrembaka dan lestari,” tandasnya. 

Editor : Didin Cahya Firmansyah