Dibutuhkan waktu yang tak sebentar bagi tim gabungan untuk mengevakuasi korban tenggelam di Sungai Brantas yang melintasi sejumlah wilayah di Kota Marmer. Cuaca yang tak bersahabat menjadi salah satu pemicu lamanya proses pencarian korban. Berikut penuturan dari personel Pos SAR Trenggalek.
AGUS MUHAIMIN
Hari kedua, sejumlah peralatan datang dari Surabaya. Salah satunya, fish finder. Salah satu peralatan yang biasanya dimanfaatkan oleh para nelayan atau pemancing untuk mencari spot ikan. Alat ini memang tidak bisa menampilkan secara visual posisi mobil yang masuk ke Sungai Brantas. Namun, dengan sarana ini setidaknya bisa diketahui gambaran di dalam sungai. Berwujud garis-garis pada layar alat tersebut.
Pada hari kedua, alat tersebut dimanfaatkan dengan menyisir beberapa spot yang dinilai menjadi tempat kendaraan berada. Pada salah satu titik tak jauh dari lokasi kendaraan terjatuh, petugas mensinyalir ada benda aneh yang diduga sebagai bodi kendaraan. Jadi hanya kelihatan garis-garis. Ada semacam bentuk kotak yang kami duga itu adalah bodi kendaraan,” katanya. Petugas lantas menurunkan jangkar pada titik tersebut. “Nyangkut,” imbuhnya.
Namun, saat coba ditarik nyatanya selalu gagal. Hal ini terjadi dua kali. Kemungkinan kaitan jangkar terlepas karena saat itu arus sungai yang cukup deras.
Menjelang sore, proses pencarian terpaksa dihentikan sementara lantaran wilayah Ngunut dan sekitarnya dilanda hujan yang cukup deras.
Pada hari ketiga, selain dari personel gabungan yakni Pos SAR Trenggalek, BPBD setempat serta personel lainnya, ada tambahan dari Taifib TNI AL. Pada hari itu juga disiapkan seperangkat kamera under water tiba di lokasi tersebut. Sayang, jarak pandang di dalam sungai 0 sehingga peralatan itu tidak bisa berfungsi secara maksimal. “Jadi kalau menyentuh objek baru kelihatan di dalam jarak pandang 0,” terangnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah