Barongsai baru masuk di Kota Keripik Tempe sekitar 12 tahun lalu yakni 2007. Beberapa komunitas olahraga sekaligus kesenian tradisional dari Tiongkok ini pun mulai eksis hingga kini. Salah satunya Wushi Nanbai, di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.
AGUS MUHAIMIN
Wita terlepas dari pegangan Fikri. Ia pun terjatuh, sembari memegangi kepala barongsai yang cukup besar. Hal ini terjadi beberapa kali. Sambil tertawa mereka mengulangi atraksi barongsai, sore itu.
Dilihat dari komposisinya, Wita memang tepat bertugas di bagian depan, yakni memanggul kepala barongsai. Tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan Fikri. Namun, dalam memainkan barongsai tidak cukup dengan kekuatan fisik. Kendati hal ini menjadi salah satu syarat untuk menyajikan pertunjukan yang baik. Adalah kesesuian atau kecocokan antar pemain yang menjadi hal utama.
Butuh proses panjang mendapatkan kecocokan antar pemaian. Sehingga, mereka bisa seirama mengikuti lantunan musik dalam sebuah pertunjukan barongsai.
Wita dan Fikri ini sebenarnya partner cukup lama di komunitas barongsai Wushi Nanbai. Namun, demikian masih saja ada kesalahan dalam praktiknya. “ Ya sudah biasa jatuh seperti itu, gak papa,” kata Wita. Menurut dia, hal ini terjadi karena kurang pemanasan. Otot masih kaku, sehingga susah mengikuti gerakan rekan.
Editor : Didin Cahya Firmansyah