Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Barongsai, Seni Tionghoa yang Tidak Membedakan Ras dan Suku (3 Habis)

Didin Cahya Firmansyah • Sabtu, 23 Februari 2019 | 10:00 WIB
barongsai-seni-tionghoa-yang-tidak-membedakan-ras-dan-suku-3-habis
barongsai-seni-tionghoa-yang-tidak-membedakan-ras-dan-suku-3-habis

Seni barongsai kini bukan sekadar menjadi hiburan warga keturunan Tionghoa. Namun, barongsai sudah membumi di Indonesia. Di Blitar, barongsai kini semakin digemari warga pribumi. Bahkan, mayoritas pemainnya malah orang pribumi.


 


 


MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH


 


 


 


 Akhirnya Ndaru dan teman-temannya, anggota perkumpulan silat kera sakti, bergabung. Ada sekitar 20 anggota yang bergabung. "Kami mulai dilatih gerakan dasar. Baik yang barongsai maupun naga liong. Latihannya setiap Jumat dan Sabtu sore," ungkap pemuda lajang ini.


 Menurutnya, bermain barongsai maupun liong itu gampang-gampang susah. Setiap gerakan dan teknik harus dipelajari dengan baik. Yang lebih sulit itu barongsai. "Sebab, bermainnya pasangan. Ini membutuhkan koordinasi. Jika tidak, bisa terjatuh," jelasnya.


 


 Kini jumlah pemain barongsai maupun liong yang dibina di Kelenteng Poo An Kiong mencapai sekitar 40 orang. Setiap tahun ada regenerasi. Rata-rata anggota merupakan kalangan pelajar.


 Kebanyakan anggota merupakan pribumi. Pemain keturunan Tionghoa ada, tetapi jumlahnya bisa dihitung jari. "Memang paling banyak itu warga pribuminya. Kami tidak masalah. Yang penting seni barongsai ini tetap lestari dan lebih dikenal masyarakat luas," ungkap pria ramah ini.


 


 Bahkan, kini pertunjukan barongsai semakin banyak dilakukan di sejumlah acara. Seperti karnaval hingga acara pemerintah untuk prosesi penyambutan tamu. Apalagi, barongsai kini ikut aktif memeriahkan kegiatan karnaval di desa-desa.


 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#blitar