TULUNGAGUNG - Arus hiburan modernis yang cukup santer perlahan meminggirkan produk seni dan budaya lokal. Salah satunya wayang kulit. Lamuni, seorang tukang tatah wayang kulit mengaku sudah puluhan tahun menekuni profesinya tersebut. Tepatnya pada 1975, kemampuannya dalam tatah wayang kulit didapatnya belajar dari buku.
Melihat ada peluang besar, lantas untuk mendalami kemampuannya dia belajar ke salah satu warga desa di Kecamatan Gondang yang merupakan perajin tatah wayang kulit. "Ya, awalnya belajar otodidak. Ternyata hasilnya bagus. Kemudian disempurnakan dengan belajar ke perajin secara langsung," katanya
Di masa itu, kata Lamuni, wayang kulit masih banyak diburu. Selain untuk dimainkan para dalang, juga sering dipesan untuk hiasan dinding. Berbeda dengan sekarang, hiburan modernis yang cukup santer akhir-akhir ini perlahan meminggirkan hiburan seni. Termasuk pertunjukan wayang kulit. Sepertinya hal itu berdampak pada perajin.
Kendati demikian, Lamuni mengaku terus bertahan. Bahkan tetap menjadikan perajin tatah wayang kulit sebagai pekerjaan utama. "Paling banyak kini ya dipesan untuk hiasan saja. Kalau untuk dimainkan oleh dalang juga ada, tapi tidak banyak hanya langganan saja," katanya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah