Menciptakan sebuah karya tentu perlu pengorbanan. Itulah yang dirasakan oleh Nanda Muhammad Alvian, warga Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung. Bahkan dia sempat dianggap tidak mau bersosialisasi hingga stress. Namun dia menjawab dengan karya. Sudah beberapa aplikasi yang dia kerjakan, mulai dari hafalan Alquran hingga aplikasi potensi wisata.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung
Sore itu di tengah keramaian perbincangan orang-orang sambil menikmati kopi, terdengar lirih suara keyboard serta mous yang sedang dimainkan. Semakin tertarik dengan suara itu, mengarahkan pandangan kepada seseorang yang sedang menatap laptop dengan serius disudut cafe itu. Ya, dia adalah Nanda- sapaan akrabnya Nanda Muhammad Alvian.
Sudah beberapa aplikasi yang dia buat. Dalam pengerjaan satu aplikasi, dia butuh waktu tiga bulan agar dapat dinikmati khalayak. Dalam pembuatan aplikasi juga perlu melewati berbagai tahapan. “Tahap pembuatan aplikasi, pertama membutuhkan ide. Hal pertama menjadi sangat penting, karena disinilah kita merumuskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, kita berusaha untuk mewujudkannya,” ungkapnya.
Proses selanjutnya dalam membuat aplikasi adalah prototype atau membuat design, coding, serta uji aplikasi atau test. Ketika rangkaian itu semua sudah berjalan dengan lancar, maka aplikasi sudah dapat dinikmati semua orang. “Terkadang ada yang bermasalah ketika proses test, saya harus mengeceknya dari awal lagi,” ujarnya.
Aplikasi yang sudah lolos dari semua proses tersebut, belumlah selesai. Dia harus berjuang lagi untuk mencari investor untuk mendanai. “Ketika aplikasi sudah jadi, saya harus mencari orang yang mau menjadi investor aplikasi ini. Pernah juga ketika diawal, banyak orang yang meremehkan hasil aplikasi pertama ini. Ya, mungkin karena orang melihat siapa saya, bukan apa yang saya buat,”jelasnya.
Namun dengan berjalannya usaha selama ini dapat terjawab. Banyak orang yang sudah mengakui dan mengapresiasi aplikasi yang dia buat. Hingga membuat dia mendapat panggilan untuk mengisi pelatihan programming.
Selama ini, dia pernah membuat aplikasi hafalan Alquran, setelah melihat banyaknya anak-anak yang berusaha menghafalkan Alquran. Selanjutnya, dia membuat aplikasi wisata di Bali dengan mengintegrasikan fasilitas yang ada di sana. Tidak hanya itu, dia juga membuat aplikasi wisata di Tulungagung, judulnya “Doolan”. Tujuannya, agar potensi wisata di Tulungagung dapat dikenal banyak orang. Masyarakat bisa mengakses di Apple Store.
Nantinya, aplikasi wisata itu sangat membantu traveler untuk menyusun destinasi yang terbaik di Tulungagung. Aplikasi itu menerapkan artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. “Jadi traveler tinggal memilih destinasi yang ingin dikunjungi, selanjutnya AI yang akan menyusun urutan perjalanan wisata, transportasi terbaik, hotel terdekat, serta jadwal di setiap tempat wisata,” ujarnya.
Di balik usaha dia membuat aplikasi, pria empat bersaudara itu juga seringkali mendapatkan stigma dari teman-temannya. Pertama, dia dianggap sebagai orang yang tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Akhirnya, banyak orang yang menjauhi dia karena perilaku seperti itu. “Banyak orang yang salah paham, menggangap bahwa saya tidak ingin bersosial atau sebagainya. Padahal, saya melakukan itu karena saya harus membuat karya. Jangan sampai hari-hari saya terbuang sia-sia,” ungkapnya.
Parahnya, ketika dia kehabisan ide untuk membuat karyanya, kesalahpahaman itu menjadikannya tidak memiliki teman untuk support. Akhirnya, dia harus merasakan stress sendiri. “Terkadang saya merasakan pusing, bahkan stress di saat saya kehabisan ide dalam pengerjaan aplikasi. Minim sekali ada teman yang dapat memahami saya. Namun, dengan banyaknya orang yang memandang saya negatif, ternyata juga ada orang-orang yang berpandangan baik kepada saya dan mensupport saya,” tambahnya.
Hiruk pikuk itu semua merupakan proses yang mahal harganya. Tanpa proses itu mungkin dia tidak akan sampai dapat sejauh ini. Dia berharap agar pemuda di Tulungagung dapat memunculkan karya untuk membangun Tulungagung ke kancah Internasional.
Editor : Didin Cahya Firmansyah