Kelangkaan dan melonjaknya harga masker yang terjadi di wilayah Bumi Menak Sopal menggugah jiwa sosial Siti Marlena untuk mengembangkan masker jenis kain dengan harga yang lebih ekonomis. Dia memilih masker jenis kain daripada sponbun karena masker jenis kain lebih tahan lama dan dapat digunakan berkali-kali.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Tugu, Radar Trenggalek
SALAH satu industri kecil menengah (IKM) konveksi partai besar terdapat di Dusun Krajan, Desa Nglongsor, Kecamatan Tugu. Waktu itu Jumat (10/4) sekitar pukul 13.00, rumah Siti Marlena tampak sepi.
Di depan pintu rumah, tampak ada alat mencuci tangan. Alat itu memiliki desain seadanya, tapi tak mengurangi fungsinya. Contohnya, alat untuk menampung air terbuat dari timba. Pada bagian bawah timba tertancap keran air. Timba itu tidak berukuran besar, tapi sedang. Sedangkan timba itu diletakkan tepat di atas kursi kayu. Selain itu, agar cuci tangan bisa maksimal, tak jauh dari timba itu telah disediakan sebuah botol yang berisi sabun cair. Spot cuci tangan yang terletak di halaman luar itu telah menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan, apalagi di tengah pandemi global virus korona atau Covid-19.
Beranjak dari jejak usaha konveksi milik salah satu warga Desa Nglongsor ini, dari awal Siti Marlena sudah memikirkan tentang bagaimana bisa membuka lapangan usaha bagi masyarakat Bumi Menak Sopal. Hingga akhirnya, Marlena -panggilannya- mulai menerapkan sistem baru untuk usahanya. Dia menerapkan sistem kelompok di dalam usahanya.
Tak ayal, sistem itu ternyata bisa berkembang dengan sangat efektif. Selama dua tahun, kelompoknya semakin meluas. Baru-baru ini pertumbuhan kelompoknya tercatat ada di 13 kecamatan di Trenggalek. “Kecuali Kecamatan Panggul karena kami belum punya link (jaringan, Red) di situ,” ungkapnya.
Secara teknis, tiap kelompok sedikitnya ada empat orang itu memiliki keahlian menjahit. Mereka secara swadaya membeli alat jahit sendiri. Sedangkan peran Marlena sebagai pihak yang mendistribusikan bahan baku kain dan nantinya kain itu akan digarap tiap kelompok tersebut. “Saya membeli kain beberapa gulung, nanti saya jahitkan ke kelompok-kelompok,” ujarnya.
Memasuki bulan Maret lalu, isu virus korona merebak ke seluruh daerah di tanah air. Secara tiba-tiba stok masker menurun signifikan karena jumlah permintaan melebihi ketersediaan barang. Jiwa sosial Marlena kembali muncul. Dia berharap bisa membantu orang lain, mengingat masker semakin susah didapatkan. Kalaupun ada, harga masker pasti dibanderol dengan harga yang tinggi.
Kemudian dia teringat dengan basis keahliannya selama ini sebagai penjahit. Ibu dengan tiga putra itu mulai mencari bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai masker. Akhirnya beberapa jenis bahan seperti oxford, jumping, dan sebagainya. Bahan-bahan itu dia dapatkan dari Kabupaten Tulungagung. “Mulai sepekan lalu saya memproduksi masker kain,” ungkapnya.
Wanita berjilbab itu lebih memilih menggunakan masker yang berbahan dasar kain, bukan sponbun. Menurut dia, kain bisa lebih tahan lama dan bisa digunakan berkali-kali. Sedangkan apabila menggunakan sponbun, orang cuma bisa menggunakannya sekali saja. “Kasihan kalau terus bolak-balik hanya untuk beli masker,” kata wanita ramah itu.
Harapan awal bisa membantu sesama untuk mendapat masker akhirnya bisa kesampaian ketika dia memproduksi hingga 1.200 masker untuk masyarakat. Masker itu dia berikan kepada bupati Trenggalek agar bisa didistribusikan ke masyarakat yang membutuhkan.
Belum lama memproduksi masker, ternyata penyelenggara pemerintah daerah mulai melirik usahanya. Betapa tidak, dari bupati Trenggalek, wagub, atau dinas-dinas, semakin banyak yang memesan masker kepadanya. Agar bisa memenuhi permintaan itu pun Marlena juga harus memproduksi masker dengan skala besar. “Produksi per hari sekitar 1.000 hingga 1.500 masker,” kata dia.
Selama sepekan memproduksi masker dengan partai besar, kata dia, tetap ada kendala yang muncul. Dia mengaku, untuk mencari bahan-bahan baku masker semakin susah. Belum lagi aturan penutupan pabrik-pabrik untuk menghindari kerumunan. Bagi dia, kendala itu masih belum ada jawabannya. Sebab, hingga kini dirinya terus meluaskan jaringan untuk mencari pihak yang menjual bahan baku kain. “Semakin sulit mencari bahannya,” tegas dia.
Dari sisi penjualan masker, beber Marlena, tiap masker memiliki harga yang berbeda-beda. Namun, harga ecernya mulai dari Rp 3.750 hingga Rp 5.400. Seperti masker jenis kain oxford itu dibanderol Rp 3.750 per biji. Sedangkan masker dobel, yakni masker yang bisa diselipkan tisu basah sebagai penyaring dihargai Rp 5.400 per biji. “Kalau omzetnya dari modal 25 gulungan kain itu bisa mendapat Rp 25 juta hingga Rp 30 juta,“ jelasnya.
Dia pun berharap wabah Covid-19 bisa segera berlalu sehingga situasi bisa normal kembali. Pasalnya, kondisi yang mengharuskan semua kegiatan hanya boleh di rumah (lockdown, Red) tentu menghambat aktivitas masyarakat. “Berharap kami bisa membantu saudara kami yang membutuhkan melalui jasa menjahit kami. Semoga teman-teman tetap bisa menghasilkan meski hanya dari rumah,” ujarnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah