Pandemi korona membuat perekonomian seperti lumpuh, sebab segala macam kegiatan yang menghimpun kegiatan banyak harus ditiadakan. Hal itu juga dirasakan para seniman yang tergabung dalam Forum Perupa Trenggalek (FPT), yang tidak bisa melakukan pameran. Sehingga untuk mengisi waktu luang mereka membuat lukisan di papah kelapa yang disebut Tetek Molek.ZAKI JAZAI, Kota Radar TrenggalekSeperti biasa, terlihat aktivitas para pegawai yang melakukan aktivitas kerja di area Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek. Sebab, kendati pandemi korona dan memasuki bulan suci ramadan, aktivitas kerja di kantor tersebut tetap berjalan seperti biasa, hanya jam bekerja saja yang dikurangi. Namun pemandangan yang berbeda terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung ke halaman belakang dinas yang berada di area Jalan Brigjend Soetran tersebut kemarin (11/5).Saat itu terlihat beberapa papah kelapa atau biasa disebut bongkoan, terlihat terkumpul di salah satu area halaman belakang. Bersamaan itu terlihat sekitar delapan orang sedang asyik menggambar pada papah kelapa tersebut. Tangan mereka begitu lihai dalam menggoreskan kuas yang telah dilumuri cat berwarna pada media tersebut. Sesekali mereka bergurai satu sama lain, tentang bentuk gambarnya. Ternyata mereka kompak menggambar wajah raksasa atau biasa disebut buto pada media yang biasa digunakan sebagai kayu bakar tersebut. Ya, kedelapan orang tersebut ternyata para anggota FPT, yang telah bekerja sama dengan disparbud untuk membuat tetek molek. "Lima hari ini (kemarin, red) kami membuat tetek molek disini," ungkap koordinator para perupa Ridwan Yunaedi.Itu bermula, ketika FPT bekoordinasi dengan disparbud mengenai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat di tengah pandemi korona saat ini. Tentu saja, kegiatan tersebut tetap mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah dalam usaha mencegah penyebaran virus korona. Sehingga terfikirlah untuk membuat tetek molek. "Dari situ, kami langsung bekoordinasi sesama anggota, mengenai siapa yang punya waktu luang dan siap, hingga ada delapan anggota yang sanggup," katanya.Sedangkan mengapa kegiatan tersebut dipilih, karena selain ingin mengisi waktu luang, para perupa juga ingin melestarikan tradisi nenek moyang yang sempat hilang. Sebab, pada zaman dahulu jika terjadi wabah, atau semacam penyakit yang langsung menyebar dan berdampak signifikan, seperti banyak masyarakat yang sakit hingga kematian orang, atau hewan ternak, kebanyakan memasang tetek molek di area tempat tinggalnya. Baik itu dirumah, maupun di jalan-jalan pintu gerbang menuju area perkampungan.Sebab, tetek molek mengandung banyak filosofi jika diterjemahkan. Seperti terbuat dari papah pisang yang disebut bongkokan, dan cara pemasangnya hanya ditaruh pada tembok juga tiang yang disebut di sendekne. Hal itu mengandung masud dalam menghadapi wabah yang ada selain melakukan kegiatan untuk mencegah kedatangannya, juga pasrah kepada sang pencipta. Sedangkan sosok raksasa yang digambarkan mengandung arti sebagai penjaga yang menyeramkan, sehingga yang menyebabkan wabah takut untuk masuk. "Jadi kegiatan kami ini juga sebagai upaya untuk nguri-nguri budaya yang sempat hilang," imbuh pria yang juga sebagai Ketua FPT ini.Rencananya, para anggota nanti akan membuat sekitar 500 tetek molek. Selesainya itu, tetek molek akan dipasang pada area wisata di seluruh Trenggalek. Tujuannya selainbmenolak balak agar wabah tidak masuk ke area wisata tersebut, jika pandemi korona telah berakhir dan tempat wisata kembali dibuka, wisatawan tahu jika di tengah masyarakat ada budaya semacam itu. Selain itu juga bisa difungsikan sebagai tempat berfoto. "Bedanya jika dulu menggunakan tinta putih dari gamping, sekarang diganti cat agar bisa tahan lama. Semoga saja wabah ini segera berakhir namun budaya nenek moyang tetap lestari," jelas warga Desa Sugian, Kecamatan Kampak ini.
Editor : Choirurrozaq