Akuarium mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat Bumi Menak Sopal. Namun, akuarium berisi ikan dan tanaman hias masih jarang yang bisa membuatnya. Inilah yang membuat Noviandra A. B. Tsany Utomo terus menekuninya, sekaligus mengisi aktivitas belajar di rumah selama pandemi korona. Dia pun mendapatkan berkah dari aktivitas tersebut.
ZAKI JAZAI, Pogalan, Radar Trenggalek
Kendati belum ada penetapan resmi dari pemerintah, aktivitas kehidupan normal baru (new normal) sejatinya sudah ada di wilayah Kota Keripik Tempe. Sepertii yag terjadi ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung ke salah satu rumah, masuk wilayah Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, kemarin (9/6). Di rumah yang menjual ikan hias tersebut, terlihat tempat cuci tangan di bagian depan. Para calon pembeli sebelum masuk dan memilih ikan hias, terlebih dulu harus mencuci tangannya. Selain itu, juga diwajibkan memakai masker. Jika ada yang datang tanpa masker, disediakan masker gratis bagi mereka.
Saat itulah di salah satu sudut ruangan terlihat seorang anak tengah sibuk dengan berbagai peralatan seperti gergaji, tang, lem, dan sebagainya. Juga ada beberapa kelengkapan seperti bak akuarium, pasir, silika, hingga akar berbagai tumbuhan air juga ikan hias. Terlihat keseriusan anak tersebut dalam memotong akar tanaman dan mengelemnya untuk menjadi suatu bentuk yang diinginkan. Saat itu dia juga mulai menata pasir dan perlengkapan lain pada bak akuarium.
Ya, anak yang juga pemilik rumah itu adalah Noviandra A. B. Tsany Utomo. Tercatat masih menjadi siswa kelas VIII MTsN 1 Trenggalek yang juga perajin aquascape. Apalagi pada situasi pandemi saat ini, aktivitas belajar dilakukan di rumah sehingga dia memiliki banyak waktu untuk mengasah kemampuannya tersebut. “Sekolah tetap memberikan tugas secara online, makanya aktivitas membuat aquascape ini saya lakukan setelah menyelesaikan tugas itu," ungkap Noviandra A. B. Tsany Utomo kepada Koran ini.
Bersamaan itu, dia mulai bercerita terkait cara membuat kerajinan tersebut yang dimulai dari langkah awal, yakni susunan media tanam. Tujuannya, mempertahankan nutrisi yang ada dalam media tersebut. Mengingat yang nantinya diletakkan adalah tumbuhan hidup. Sehingga kandungan pupuk dan beberapa yang dibutuhkan tanaman harus tersedia. “Selain susunan medianya, yang utama dalam membuat aquascape ini adalah filter air dan cahaya agar ganggang atau lumut yang nantinya merusak keindahan tidak bisa tumbuh,” katanya.
Maka dari itu, dirinya melakukan penyusunan media yang harus ada. Seperti rumah bakteri yang nantinya untuk menjaga kandungan makanan tumbuhan dan bisa untuk makan ikan. Setelah itu, di atasnya diberi pasir kasar yang terbentuk dari lahar bekas letusan gunung berapi atau disebut pasir malang. Seterusnya secara berurutan diberi media lain meliputi pupuk, pasir malang, soil, pasir malang yang halus untuk mengikat kandungan nutrisi, dan silikon. Jika semua selesai, baru diberi hiasan seperti batu-batu dan akar tempat tumbuhan air. Saat itulah tumbuhan air bisa langsung ditanam pada media dasar atau media lain, yaitu pada batu dan akar. Terpenting, jika ditanam pada media, akar diusahakan dari tumbuhan yang kadar getahnya minim agar air mudah jernih.
Pemilihan tanaman harus tepat dan harus hati-hati karena aquascape didominasi tumbuhan air. Tujuannya, agar tanaman tersebut tidak perlu diberi suntikan gas karbodioksida (CO2). Perlu memahami karakteristik setiap tanaman agar bisa hidup cukup dengan pemberian lampu sebagai pengganti cahaya matahari dam filter air.“Dalam pembuatannya, yang tersulit yakni memahami karakteristik tumbuhan. Makanya harus berhati-hati dalam memilih,” ujar bocah 15 tahun ini.
Untuk jenis tanaman air yang cocok, ada sembilan jenis. Meliputi africa water fern, amazon sword, anubias nana, cryptocoryne becketti, green tiger lotus, java moss, jaa fern, hypgrophililia difformis, dan lilaeopsis. Sedangkan untuk ikan hias yang bisa digunakan, yakni jenis ikan hias yang kecil agar bisa berenang di antara tanaman dan hiasan lainnya. Jenis ikan kecil yang cocok tersebut seperti angel fish, chili rasbora, discus, dan sebagainya.
Aktivitasnya sebagai perajin aquascape telah dimulai sejak kelas V SD. Sejak kecil dirinya hobi memerihara ikan hias dalam akuarium. Dari hobi tersebut, dirinya ingin menemukan hal yang baru, yaitu membuat aquascape. Karena itulah dirinya terus belajar bagaimana cara membuatnya dari perajin, khususnya sang ayah yang juga perajin akuarium.
Untuk pemasaran, dengan bantuan kedua orang tua, aquascape-nya telah banyak dikirim ke beberapa kota besar. “Harganya bervariasi tergantung permintaan konsumen. Sebab beda penampilannya, pasti beda harganya. Namun, saya pernah menjual ini dengan harga termurah Rp 250 ribu hingga jutaan rupiah,” jelas pria yang akrab disapa Tsany ini. (*)
Editor : Choirurrozaq