Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sempat Jadi Tukang Batu, Sukses Jadi Perajin Warangka Keris

Choirurrozaq • Jumat, 12 Juni 2020 | 02:00 WIB
sempat-jadi-tukang-batu-sukses-jadi-perajin-warangka-keris
sempat-jadi-tukang-batu-sukses-jadi-perajin-warangka-keris

Butuh waktu sekitar dua tahun bagi Supendi belajar membuat warangka keris. Belajarnya secara otodidak, hanya mengandalkan pengalaman. Namun, kini dia telah sukses menjadi perajin warangka keris. Bahkan karyanya sempat terjual hingga ke luar negeri. 



HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Pogalan, Radar Trenggalek


 


SEBELUM memutuskan menjadi perajin warangka keris, Supendi adalah seorang tukang batu. Tentu itu berat baginya. Pasalnya, memerlukan tenaga yang ekstra dan rela kepanasan saat bekerja. Pada 2005 lalu, Supendi mendapat angin baru. Dia ikut nimbrung dengan teman-teman kolektor keris. Dari teman-teman itu ada yang menyemangatinya untuk menjadi perajin warangka keris. 



Mulanya, Mpu Pendi -sapaan akrab Supendi- mengaku iseng mencoba membuat warangka keris. Modalnya hanya tatah dan palu. Tapi dia tetap memberanikan diri untuk belajar membuat warangka. Mpu Pendi ingat dulu saat awal-awal membuat warangka, yakni jenis Sandang Walikat dan Warangka Tombak. Referensinya pun hanya sebatas dari sketsa gambar dari teman-temannya. “Belajarnya itu dengan cara menirukan gambar itu,” ungkapnya. 


 


Proses belajar menjadi perajin warangka itu membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Baginya, suatu hal yang menjadi kendala saat belajar itu adalah keterbatasan alat atau masih manual. Dulu, teknologi grenda dan bor itu belum punya. Sehingga dengan keterbatasan alat itu pun membuat proses pembuatan warangka jadi lebih lama. “Minimal untuk satu warangka itu butuh waktu sekitar 4 hari, itu dari pukul 08.00 hingga 16.00,” kata dia. 


 


Beberapa kali dia sempat patah semangat saat belajar membuat warangka. Pasalnya, tatah demi tatah harus dijalani secara sabar dan telaten. Sehingga dalam membuat warangka itu bukan sekadar cepat selesai, melainkan harus bagus dan berkualitas. “Ternyata beranjak ke tahun kedua itu, secara tak sadar mulai banyak yang pesan warangka,” ujarnya.


 


Tak pelak, Mpu Pendi pun mencium peluang baru sebagai pekerjaan. Pada tahun kedua itu, pekerjaan awal sebagai tukang bantu itu pun mulai dia tinggalkan. Memutuskan untuk menjadi perajin warangka keris. “Saya berpikir pekerjaan tukang batu itu berat, tapi penghasilannya minim. Jadi, saya putuskan untuk menekuni pekerjaan ini, yang bekerja di rumah bisa dan tidak kepanasan,” cetusnya. 


 


Betapa tidak, lanjut dia, harga sekali membuat warangka itu mulai Rp 500 hingga Rp 1,5 juta. Sedangkan menjadi tukang batu itu sebatas Rp 80 ribu per hari. Selain itu, sehari minimal ada dua konsumen yang pesan. Sehingga dia pun berpikir lebih menguntungkan bekerja menjadi perajin warangka keris. 



Selama 15 tahun kerja menjadi perajin, Mpu Pendi mengaku sempat mengalami kejadian tak masuk akal ketika membuat warangka keris-keris lama. Ada yang bilang keris itu masih ada isinya. Tak ayal, sering kali ketika membuat warangka itu dia bermimpi bertemu sosok manusia yang diduga perwujudan dari keris tersebut. “Sering begitu, saya tidak takut,” kata dia. 



Dalam pembuatan warangka keris, Mpu Pendi tidak membuat ritual-ritual khusus seperti berpuasa dan sebagainya. Pembuatan warangka itu murni menggunakan alat-alat modern dan tanpa ritual. “Karena ini adalah bagian dari seni, ada variasi tiap warangka yang saya buat,” sambungnya. 



Kiprah selama 15 tahun menggeluti perajin warangka, konsumen dirinya sudah menyentuh hingga ke luar negeri. Menurut dia, sempat ada orang Malaysia yang beli warangka darinya. Sementara konsumen dalam negeri itu pun hampir di seluruh pulau di Indonesia. “Luar Jawa itu pernah dari Lampung, Kalimantan, danSulawesi. Kalau untuk di Jawa, biasanya dari Ponorogo, Trenggalek, Blitar, dan Malang,” kata ayah dengan dua anak itu. 


 


Mpu Pendi tak memungkiri, minat generasi muda kian minim dalam melestarikan keris. Dia berharap, untuk mengenalkan kembali budaya warisan leluhur itu memang harus melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan, seperti pameran keris. “Keris itu budaya asli dan memiliki estetika seni,” tegasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq
#trenggalek