Reihan Bayu Ramadhan, seorang pemain electronic sports (e-sport) PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) mobile Trenggalek, yang pernah beberapa kali meraih juara I tingkat lokal hingga internasional. Perjalanannya sampai bisa menggapai prestasi itu cukup berat. Dulu dia bisa menghabiskan waktu hingga 14 jam sehari, hanya untuk mengasah strategi agar bisa dapat poin tertinggi.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek,
Menggeluti bidang e-sports PUBG mobile bukanlah hal yang mudah bagi Reihan Bayu Ramadhan. Butuh waktu selama dua tahun untuk mengasah kemampuannya. Apalagi, permainan atau game handphone (HP) itu membutuhkan seseorang untuk menggunakan lebih dari dua jari. Sementara untuk membiasakan bermain PUBG mobile menggunakan lebih dari dua jari itu tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Zyee -sapaan akrab Reihan Bayu Ramadhan- mengaku, butuh proses dan bertahap untuk membiasakan diri bermain PUBG mobile menggunakan empat jari. Dulu, Zyee juga menggunakan dua ibu jari, namun tambah telunjuk kiri, kemudian telunjuk kanan. Menurut dia, tiap jari itu punya peran masing-masing, khususnya berguna untuk menggerakkan karakter game, menembak, membuka teropong, dan sebagainya. “Bertahap, dari dua jari, lalu tiga, dan sekarang empat jari,” ungkapnya.
Pria kelahiran 1998 itu mengaku, masih ada banyak kemampuan-kemampuan lain yang harus diasah untuk berkarir di dunia e-sports PUBG mobile. Menurut dia, kemampuan itu bukan sebatas lihai atau tidaknya dalam permainan, tapi juga perlu menjalin chemistry (kedekatan) dengan tim. Sedangkan untuk membangun chemistry, tentu perlu mengenal dekat teman satu tim secara pribadi.
Bahkan acap kali juga rekan setim itu bukan berasal dari Trenggalek, tapi dari luar daerah. Tak ayal, mereka pun berinisiatif untuk mencari waktu longgar bersama dan menyempatkan untuk bertemu. Tujuannya, hanya untuk mengenal rekan setim. Chemistry itu penting karena sangat berpengaruh ketika mengikuti ajang e-sports. “Kita harus mengenal karakter teman setim. Itu berguna untuk keefektifan koordinasi saat ikut turnamen,” kata dia.
Benar bila, warga Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, berhasil mengantongi 13 juara I hingga III di ajang e-sports PUBG mobile. Ajang itu mulai dari tingkat lokal yang digelar STKIP PGRI Trenggalek hingga juara I e-sport online yang diselenggarakan oleh Army Malaysia Official (AMO). Dari sekian kejuaraan itu, Zyee berhasil menyabet 8 kali juara I PUBG mobile. “Poin tertinggi yang menjadi kriteria kemenangan tiap ajang e-sports,” tegas dia.
Capaian karir Zyee di bidang e-sports PUBG mobile pun berbuah manis. Menurut anak kedua dari tiga bersaudara itu, hadiah pada ajang e-sport PUBG mobile itu mulai dari Rp 2,5 juta – Rp. 10 juta. Selain itu, ketika sering dapat kemenangan, tak menutup kemungkinan tim-tim besar akan merekrutnya. Apalagi, sambung dia, sistem perekrutan dari tim-tim besar kini sudah mulai menggunakan model bursa transfer. Sehingga, ada peluang bagi para pemain untuk berkesempatan direkrut tim-tim besar. “Dulu sempat direkrut tim 88 e-sports, tim dari Malaysia,” ungkapnya.
Dia pun menyinggung, para generasi muda Trenggalek dalam permainan PUBG mobile sebenarnya berpotensi berkarir di dunia e-sports. Pasalnya, banyak kalangan yang kini bermain game tersebut. Sehingga membuka peluang untuk melahirkan pemain-pemain yang andal.
Namun kebanyakan dari mereka sulit berkembang, karena minimnya wadah dan dukungan, seperti turnamen-turnamen lokal di Trenggalek masih sedikit. Selain itu, dukungan khususnya dari orang tua juga rendah. “Sering dulu dimarahin ortu gara-gara main game,” kata dia.
Sementara berkarir output dari e-sport itu juga bisa membuka peluang kerja, semisal menjadi joki peringkat PUBG. Dari jasa itu, orang bisa mendapat penghasilan mulai Rp 1,3 - 2 juta. “Biasanya tiga kali ambil jasa joki peringkat itu,” ungkapnya.
Zyee pun berharap, capaiannya kini masih jauh dari mimpinya. Dia bermimpi bisa menjadi anak bangsa yang mewakili Indonesia di bidang e-sports PUBG Mobile. Sebelum mimpi itu terwujud, dirinya pun optimis untuk terus berlatih agar bisa mengejar mimpi tersebut. “Bisa mewakili Indonesia, dan mengharumkan nama baik,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq