Belajar di rumah akibat pandemi virus korona tak membuat siswa asal Desa Bogoran, Kecamatan Kampak, bersantai-santai. Di sela-sela waktu luangnya, pria yang bernama Ali Maksum ini semangat mengukir sandal jepit untuk menambah uang jajan.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kampak, Radar Trenggalek
JALAN desa untuk menuju rumah Ali Maksum ini cukup terjal, menanjak, dan berbahaya. Jalan yang terbuat dari material semen bercampur batu itu cukup licin karena berlumut. Tiap warga yang melewati jalan itu pun harus menurunkan kedua kakinya untuk berjaga-jaga. Rumah Ali Maksum tak jauh dengan jalan terjal tersebut.
Sesampai di rumah siswa kelas XI SMAN 1 Kampak tersebut, terlihat Ali sedang sibuk menyileti sejumlah sandal jepit di halaman rumahnya. Ada beberapa figur karakter kartun di dalam sendal jepit tersebut, salah satunya Doraemon. Pria yang berumur 19 tahun itu mengaku menggeluti seni ukir sandal yang pemasarannya hingga lintas kabupaten itu bermula dari sekadar iseng.
Ali menceritakan, awalnya dulu coba-coba menyilet sandal jepit, tapi ternyata beberapa siletan itu menambah inspirasinya untuk membuat karya seni ukir sandal. Tak ayal, bermula dari teman-temannya pun pemasaran seni ukir sandal itu dilirik konsumen. Di samping itu, dia menjual seni ukir sandal tergantung dengan permintaan konsumen. Permintaan itu pun bervariasi karena ukuran kaki tiap konsumen berbeda-beda sebagaimana warna sandal yang diminati. “Produksi biasanya sepasang dalam sehari. Kalau sehari semalam bisa dua pasang sandal selesai,” ungkapnya.
Dalam prosesnya, kata dia, pembuatan sandal jepit ukir itu dimulai dari pemilihan desain menggunakan aplikasi Vector di laptop. Hasilnya berupa siluet yang dibuat sebagai mal di sandal. Anak sulung dari dua bersaudara itu mengaku, tahap desain hingga mengukir sendal itu secara otodidak dia lakukan. Menurut dia, kunci untuk mengukir sendal hanya membutuhkan ketelatenan. “Untuk gambar desain, tergantung permintaan yang pesan. Saya buatkan gambarnya. Kalau yang pesan setuju, baru saya mulai ukir di sandal," tutur dia.
Gambar dijiplak dari desain yang sebelumnya dia buat. Usai gambar teraplikasikan, baru Ali bermain dengan silet kecilnya. Dengan telaten dia melubangi alas kaki secara pelan-pelan. Ali mengaku, pesanan yang datang dalam sebulan rata-rata belasan biji. Kebanyakan yang beli adalah dari teman-temannya. “Dari Blitar juga pernah beli, sandal ukir saya," ucapnya.
Proses pun tak mengkhianati hasil, Ali meraup untung cukup lumayan untuk siswa yang hanya mengisi waktu luang. Ali membeli sandal jepit polos seharga rata-rata Rp 10 ribu per pasang. Ketika sudah diukir, sandal itu menjadi lebih mahal. “Saya jual Rp 25.000 sampai Rp 40.000. Tergantung model dan kesulitan ukiran," kata dia.
Menurut dia, pesanan paling banyak adalah model tokoh kartun seperti Doraemon. Ukiran ini tergolong yang paling mudah dan murah. "Pesanan lain juga yang berupa logo tempat usaha dan tulisan-tulisan. Misalnya waktu Lebaran kemarin, ada usaha jasa pernikahan yang pesan banyak untuk pekerjanya," sambung Ali.
Dia mengaku sejak belajar di rumah akibat pandemi Covid-19, aktivitasnya semakin banyak dialokasikan untuk mengukir sandal. Bahkan pernah dalam sehari, Ali menyelesaikan ukiran dua pasang. "Kadang sampai pukul 03.00 pagi. Soalnya paginya kan enggak masuk sekolah," ungkapnya.
Selain itu, Ali mengaku menikmati aktivitas mengukir sandal karena dia punya kegemaran menggambar dari awal sekolah. Oleh pemesan, sandal ukir buatan Ali biasanya dipakai untuk sekadar unik-unikan. "Biar kalau ke masjid pas Jumatan, sandalnya tidak gampang ketukar," kata dia sembari tertawa. (*)
Editor : Choirurrozaq