Kehilangan pendapatan akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan Sudewo. Hampir tiga bulan, pria asal Desa/Kecamatan Gondang itu tidak mendapat pemasukan. Hal itu karena banyak agenda MC di hajatan ditunda. Bahkan ditiadakan lantaran adanya kebijakan untuk meniadakan kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan untuk sementara waktu, dalam upaya memutus sebaran Covid-19.
SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH, Gondang, Radar Tulungagung
Pandemi Covid-19 berhasil memukul semua sektor usaha. Tidak terkecuali di bidang entertainment. Banyak seniman, bahkan pelaku usaha sor terop maupun panggung hiburan merugi. Lantaran mendadak sepi job.
Salah satu yang merasakan, yakni Sudewo. Pria yang memiliki nama panggung Dewo Badowi ini hampir 80 persen menggantungkan pendapatannya sebagai seorang MC. Sehingga imbas pandemi ini sangat dirasakannya. Dia pun mengaku kehilangan pemasukan. Itu karena banyak yang menggelar resepsi, tapi ditunda akibat imbauan untuk menunda sementara kegiatan yang melibatkan massa dalam memutus rantai penularan Covid-19 di Tulungagung. “Ternak burung love bird juga tidak jalan. Karena pasarnya juga sepi, harganya juga hancur,” ucapnya
Sepinya job akibat ditunda dan bahkan dibatalkan itu sudah dia rasakan sejak Maret lalu. Yakni pada awal diumumkan pandemi. Padahal, di bulan Maret sudah banyak yang booking untuk memandu acara resepsi, lamaran, ataupun lainnya. “Banyak yang sudah booking. Tapi karena pandemi, beberapa orang (yang booking, Red) menundanya semua. Karena takut dibubarkan, mengingat hajatan itu kan mengundang banyak orang datang,” kata bapak satu anak ini.
Saat kondisi normal, Dewo mengaku mampu mendapat order nge-MC sampai 40 acara tiap bulannya. Namun sekarang, tiga bulan terhitung sejak Maret, dia banyak berdiam diri di rumah. Tapi bukan untuk meratapi nasibnya kini, melainkan berselancar di medsos mencari peluang pasar untuk berdagang.
Tidak mungkin dia harus menganggur lama menunggu Covid-19 mereda yang belum pasti kapannya. Sedangkan, tanggung jawabnya besar untuk menafkahi keluarga. Termasuk untuk biaya kuliah anaknya. “Sudah habis-habisan ini. Bahkan sampai jual mobil karena tidak ada pendapatan yang masuk. Sedangkan, kebutuhan ini itu banyak. Makanya, saya memutar otak bagaimana mendapat penghasilan. Kebetulan saya hobi bersepeda, jadi saya memutuskan berdagang. Jual-beli sepeda dan sparepartnya,” terangnya.
Dewo mengaku sempat mengikuti rapat koordinasi dengan sejumlah seniman dari berbagai bidang seni di Pendapa Trowulan, Mojokerto beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, ditunjukkan bagaimana peran MC saat mengatur acara di tengah pandemi Covid-19. Peran MC sangat penting untuk menyukseskan acara sesuai protokol kesehatan. Sebab, MC harus aktif mengingatkan para tamu undangan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan seperti jaga jarak, wajib masker, cuci tangan, dan lainnya. “Beberapa kabupaten/kota sudah memperbolehkan. Dengan catatan, harus mematuhi protokol kesehatan. Tapi di sini belum. Padahal kami berharap segera ada kebijakan tertulis. Apalagi keluh kesah seniman sudah disampaikan ke pemerintah daerah. Ini agar ekonomi kembali berputar,” terangnya. (*)
Editor : Choirurrozaq