Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gagal Beternak Love Bird, Dewo sampai Jual Mobil

Choirurrozaq • Kamis, 9 Juli 2020 | 02:00 WIB
gagal-beternak-love-bird-dewo-sampai-jual-mobil
gagal-beternak-love-bird-dewo-sampai-jual-mobil

Kehilangan pendapatan akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan Sudewo. Hampir tiga bulan, pria asal Desa/Kecamatan Gondang itu tidak mendapat pemasukan. Hal itu karena banyak agenda MC di hajatan ditunda. Bahkan ditiadakan lantaran adanya kebijakan untuk meniadakan kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan untuk sementara waktu, dalam upaya memutus sebaran Covid-19. 



SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH, Gondang, Radar Tulungagung




Pandemi Covid-19 berhasil memukul semua sektor usaha. Tidak terkecuali di bidang enterta­in­ment. Banyak seniman, bahkan pelaku usaha sor terop maupun panggung hiburan merugi. Lan­taran mendadak sepi job. 


Salah satu yang merasakan, yakni Sudewo. Pria yang memiliki nama panggung Dewo Badowi ini hampir 80 persen meng­gantungkan pendapatannya sebagai seorang MC. Sehingga imbas pandemi ini sangat dira­sakannya. Dia pun mengaku kehilangan pemasukan. Itu ka­rena banyak yang menggelar resepsi, tapi ditunda akibat im­bauan untuk menunda semen­tara kegiatan yang melibatkan massa dalam memutus rantai penularan Co­vid-19 di Tulung­agung. “Ternak burung love bird juga tidak jalan. Karena pasarnya juga sepi, har­ganya juga hancur,” ucapnya


Sepinya job akibat ditunda dan bahkan dibatalkan itu sudah dia rasakan sejak Maret lalu. Yak­ni pada awal diumumkan pan­demi. Padahal, di bulan Maret sudah banyak yang boo­king untuk memandu acara resepsi, lamaran, ataupun lain­nya. “Ba­nyak yang sudah boo­king. Tapi karena pandemi, beberapa orang (yang booking, Red) menundanya semua. Ka­rena takut dibubarkan, mengi­ngat hajatan itu kan me­ngundang banyak orang datang,” kata bapak satu anak ini.


Saat kondisi normal, Dewo mengaku mampu mendapat order nge-MC sampai 40 acara tiap bulannya. Namun sekarang, tiga bulan terhitung sejak Maret, dia banyak berdiam diri di ru­mah. Tapi bukan untuk mera­tapi nasibnya kini, melainkan berse­lancar di medsos mencari pe­luang pasar untuk berdagang. 


Tidak mungkin dia harus me­ng­ang­gur lama menunggu Co­vid-19 mereda yang belum pasti kapan­nya. Sedangkan, tanggung ja­wabnya besar untuk menafkahi keluarga. Termasuk untuk biaya kuliah anaknya. “Su­dah habis-habisan ini. Bahkan sampai jual mobil karena tidak ada penda­patan yang masuk. Sedangkan, kebutuhan ini itu banyak. Maka­nya, saya memutar otak bagai­mana mendapat peng­hasilan. Kebetulan saya hobi bersepeda, jadi saya memutuskan berda­gang. Jual-beli sepeda dan spare­partnya,” terangnya.


Dewo mengaku sempat mengi­kuti rapat koordinasi dengan sejumlah seniman dari berbagai bidang seni di Pendapa Trowu­lan, Mojokerto beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu, di­tunjukkan bagaimana peran MC saat mengatur acara di tengah pandemi Covid-19. Peran MC sangat penting untuk menyuk­seskan acara sesuai protokol kesehatan. Sebab, MC harus aktif mengingatkan para tamu undangan untuk tetap menjalan­kan protokol kesehatan seperti jaga jarak, wajib masker, cuci tangan, dan lainnya. “Beberapa kabupaten/kota sudah memper­bolehkan. Dengan catatan, harus mematuhi protokol kesehatan. Tapi di sini belum. Padahal kami berharap segera ada kebijakan tertulis. Apalagi keluh kesah seniman sudah disampaikan ke pemerintah daerah. Ini agar ekonomi kembali berputar,” te­rangnya. (*)

Editor : Choirurrozaq