Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sering Didatangi Turis Mancanegara, 1.700 Keris Diboyong ke Belanda

Dharaka Russiandi Perdana • Kamis, 16 Juli 2020 | 02:10 WIB
sering-didatangi-turis-mancanegara-1700-keris-diboyong-ke-belanda
sering-didatangi-turis-mancanegara-1700-keris-diboyong-ke-belanda

Belasan tahun Jatayu Sumitra Jaya menerapkan work from home alias bekerja dari rumah. Bukan karena dampak korona, dia memang tidak perlu kemana-mana. Pembeli maupun penjual sering kali datang dengan sendirinya. Cangkrukan hingga pagi hari harus dilakukan untuk melayani calon pembeli.


Rumah Jatayu Sumitra Jaya nyaris tak memiliki halaman. Ratusan bahkan ribuan benda antik memenuhi bagian depan hunian di Jalan Mahakam, Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo ini. Mulai dari lukisan, patung berbagai ukuran, pusaka, hingga benda-benda kuno yang jelas sangat sedikit jumlahnya alias langka.


Siang itu, Amin salah seorang pekerja tampak sibuk membersihkan lukisan tepat di depan pagar rumah. Mengenakan kaus dalam, dia tampak acuh dengan panasnya terik matahari. “Ini bukan air, tapi lem. Gunanya untuk melindungi cat,” ujarnya.


Saat wartawan Koran ini melawati pagar rumah, suasananya hampir mirip dengan museum. Bedanya, benda-benda antik di rumah ini hanya ditata sekenanya. Selain menyesuaikan dengan tempat, fungsi utama display kepada calon pembeli tetap diperhatikan. Jalur menuju teras atau ruang tamu rumah itu tak kurang dari semeter lebarnya. Karena, terhimpit oleh benda-benda antik di sisi kanan dan kiri.


“Ini namanya tanduk kambing hutan, ini barang istimewa harganya juga istimewa,” kata Jatayu kepada seorang pengunjung yang kelihatannya sudah sering membawa barang antik dari tempat itu.


Sayangnya, si pengunjung lebih tertarik dengan beberapa batu permata yang ada dalam kontak kecil berwana merah di atas meja. Jatayu pun lantas mempersilahkan melihat lebih dekat. Ada  koleksi batu permata maupun batu akik jenis virus yang memiliki nilai cukup tinggi ini. “Kalau yang ini harga pertemanan, sepuluh juta saja,” sambung Jatayu.


Kalimat-kalimat khas pedagang kawak menjadi pemandangan siang itu. Lumrah, belasan tahun jatayu menggeluti bisnis barang barang antik. Karena jam terbang yang cukup tinggi, dia juga tidak perlu kelayapan mencari barang. Biasanya pedagang maupun penjual datang dengan sendirinya ke rumah ini. Ada yang dijual kembali, ada pula yang dipertahankan.


Jatayu mulai menjajakan barang antik di Kota Patria sejak 2001 atau 19 tahun yang lalu. Tak heran ada banyak koleksi barang antik di rumahnya. Rumah tersebut juga menjadi jujugan tokoh- tokoh lokal maupun luar daerah yang gandrung dengan  barang lawas. Beberapa foto mereka terpajang di teras rumah. “Di sebelah sini, dulu ada lemari besar berisi koleksi keris,” katanya sambil menunjuk salah satu sisi halaman.


Area tersebut kini dihuni patung-patung besar, lukisan, dan beberapa senjata zaman Belanda berikut helm khas prajurit zaman dulu.


Beberapa tahun lalu, lanjut Jatayu, ada seorang warga negara Belanda yang berminat memiliki keris-keris miliknya. Tidak hanya satu atau dua bilah keris yang diinginkan, melainkan semua koleksi yang ada di lemari itu. Total ada sekitar 1.700 bilah keris lengkap dengan warangkanya yang diboyong ke Belanda. “Dibeli Rp 650 juta, ya sudah tak kasihkan,” tuturnya.


Transaksi dengan warga asing, sudah menjadi hal biasa bagi Jatayu. Selain keris, koleksi lukisannya juga sudah terkirim ke sejumlah negara tetangga. Harganya juga lumayan fantastis. Mencapai ratusan juta bahkan konon ada yang sampai satu miliar lebih.


Warga Kelurahan Tanjungsari ini juga cerdik. Dia bekerja sama dengan pengusaha pariwisata di Kota Blitar. Dengan begitu setiap kali ada wisatawan mancanegara, selalu ditawarkan tempat yang memilik banyak benda-benda antik. Dari sini, komunikasi dengan pembeli asing sering kali terjadi.


Jatayu tidak pelit terhadap mereka yang membawakan turis yang demen dengan benda antik selalu ada imbalan. “Saya pernah belikan kendaraan, karena kebetulan nilai transaksinya besar,” ujarnya.


Dalam proses transaksi barang antik ini, Jatayu tidak melulu berpatokan pada uang. Tak jarang dia menerapkan sistem barter. Bisa dengan barang antik yang cocok dihati, ataupun dengan benda lain, misalnya kendaraan. “Wah, kalau nuruti orang yang mau tukar dengan mobil, ini halaman bisa jadi showroom. Saya nggak punya tempat,” katanya.


Meski begitu, bisnis barang antik ini tidaklah gampang. Selain pengetahuan, dibutuhkan kesabaran dan ketahanan fisik. Minimal siap melayani diskusi panjang dengan calon pembeli hingga larut malam atau bahkan dini hari. Hal itu sering kali dilakukan Jatayu. Khususnya untuk orang-orang tertentu yang memang sengaja menghindari keramaian. “Perilaku pembeli itu kan beda-beda. Ada yang datang siang, ada yang datang malam,” tuturnya.(*)

Editor : Dharaka Russiandi Perdana