Di tengah pandemi Covid-19, ternyata masih ada orang yang mau memfikirkan orang lain. Seperti dilakukan Barbershop Hairgoods yang membuat gerakan potong rambut gratis setiap Jum’at. Meski terlihat sepele, ternyata hal itu sangat membantu sekali kepada masyarakat, khususnya tukang becak dan tukang ojek.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung.
Pagi itu matahari tampak malu memancarkan sinarnya. Di sudut aloon-aloon Tulungagung terlihat beberpa tukang becak yang berjejer rapi dengan balutan tawa sederhana mereka. Secara bergantian tukang becak tersebut menempati kursi yang disediakan untuk dialakukan potong rambut. Sebelum duduk rambut mereka tampak tidak tertata rapi, namun setelah sekitar lima menit duduk di kursi tersbut rambut mereka berubah menjadi rapi dan terkesan lebih muda kembali.
Dan di lokasi yang sama juga terlihat dua pemuda dengan wayah sumringah momotong satu persatu rambut tukang becak itu. Ya merzka adalah pemuda dari Barbershop Hairgoods, yang melakukan kegiatan sosial potong rambut gratis pada setiap hari Jumat. Tak tanggung-tanggung meski gratis pelayanan juga tidak kalah dengan salon atau barbershop pada umumnya. Tukang becak pada saat itu juga bebas menentukan mau dimodel seperti apa rambutnya.
Salah satu pemuda Barbershop Hairgoods, Gigih Ardi mengatakan, kegiatan sosial potong rambut ini berawal dari perbincangan kecil antar ia dan teman potong rambutnya yang bekerja di Barbershop tersebut. Dari malam itu disepakati membuat potong rambut gratis. Sasaranya adalah masyarakat umum, tapi diutamakan orang dengan kelas menengah ke bawah. “Jadi ketika malam itu disepakati, langsung kita eksekusi pada minggu depannya. Kegiatan ini sudah berjalan selama 4 minggu,” tuturnya.
Potong rambut gartis ini tidak pada satu tempat saja. Tapi akan berkeliling untuk menawarkan kepada orang yang ditemui apakah ingin di potong rambuntnya. Jika mau maka langsung menyiapkan peralatanya. Dan kesempatan kali ini bertempat di dekat Kantor Pos Tulungagung yang di situ banyak tukang becak yang menunggu penumpangnya. “Rata-rata per harinya kami bisa memotong sekitar 15 orang. Dari 07.00 hingga 11.00 WIB. Tapi jika setelah Jum’atan kok masih mampu maka dilanjutkan lagi,” ujar pria asal Kecamatan Pakel itu.
Gigih mengungkapkan, meskipun gratis bukan berarti pelayanannya ala kadarnya. Pihaknya tetap profesional, dan mereka boleh memilih style rambut seperti apa yang diinginkan. Cuman kebanyakan dari mereka, karena juga lebih banyak orang-orang tua, lebih memilih rambutnya dipotong rapi dan tidak butuh model yang aneh-aneh. “Kami tetap profesional kok. Bapaknya itu juga bebas memilih model rambut apa yang diinginkan,” ungkapnya sambil menunjuk orang yang sedang dipotong rambutnya.
Pria berkumis tipis itu merasa senang bisa membantu orang lain meski hal itu sederhana di mata orang lain. Tapi dari kegiatan sosial inilah dia mendapatkan pelajaran hidup yang berarti. Dan itu tidak pernah bisa ditebak. Karena kebanyakan yang dipotong adalah orang tua, secara spontan mereka menceritakan pengalaman hidupnya. Bagaimana memaknai kehidupan dan susah senangnya pengalaman yang telah didapatkan. “Banyak nilai kehidupan yang saya dapatkan. Saya dan teman-teman sangat senang sekali dan itu menghilangkan rasa lelah kami,” ujarnya.
Rasa senang juga dirasakan oleh salah satu tukang becak, Subagio. Pria yang kesehariannya mangkal di sudut selatan aloon-aloon Tulungagung itu sangat senang dan membatu sekali. Karena biasanya Subagio memotong rambutnya setiap lima bulan sekali. Tapi dengan adanya kegiatan ini, ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk memotong rambutnya. “Nggeh senang dan membantu sekali, apalagi kami jarang potong rambut kalau tidak lima bulan sekali,” pungkas pria berkumis itu. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana