Menggelar acara resepsi pernikahan di tengah massa pandemi Covid-19 bukanlah perkara mudah. Protokol kesehatan harus benar-benar diterapkan secara ketat. Ini untuk mencegah penularan korona bagi keluarga ataupun tamu yang hadir. Seperti yang terlihat dalam pernikahan Diana Dewi Oktaviana.
Hujan gerimis mengguyur sebagian wilayah Kota Blitar sore itu. Tak terkecuali di kawasan Jalan Riau, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan. Rumah itu terlihat berbeda. Di depan rumah terdapat tenda lengkap dengan meja kursi yang dibungkus kain putih.
Ternyata pemilik rumah sedang menggelar resepsi pernikahan. Namun, ada banyak hal yang berbeda dalam rangkaian resepsi tersebut. Beberapa botol hand sanitizer diletakkan di atas meja yang juga dipenuhi jajanan. Selain itu, hanya tampak beberapa tamu undangan yang datang berkunjung ke rumah tersebut.
Diana Dewi Oktaviana merupakan mempelai wanita dalam resepsi pernikahan itu. Acara tersebut bakal menjadi yang tak terlupa dalam hidupnya. Bukan hanya karena bahagia, tapi juga dilaksanakan di tengan pandemi Covid-19. "Senanglah yang pasti, tapi juga lumayan was - was," ungkapnya.
Dia juga menceritakan, mengadakan pernikahan di tengah masa pandemi bukan perkara mudah. Semua rencana yang sudah dirancang sejak setahun lalu harus dirubah total.
Membayangkan acara pernikahan berlangsung sesuai rencana sebelumnya, nyatanya tak terlaksana. Rasa egois pengantin harus dibuang jauh untuk keselamatan serta kesahatan semua pihak. "Semua rencana berubah, kami semua putar otak. Bagaimana caranya acara jalan tapi keselamatan kami juga aman," ujarnya.
Pada awal 2020, perempuan berhijab itu mengaku sudah mulai memilih vendor serta gedung untuk resepsi pernikahan. Namun, penyebaran Covid-19 yang tak kunjung melandai di Kota Blitar, merubah semuanya. Akhirnya, resepsi pernikahan ala drive thru menjadi pilihan. Tujuannya, pernikahan tetap dapat digelar meski di tengah pandemi.
"Jadi resepsi yang kami lakukan itu sangat terbatas. Baik tamu dan waktunya. Tamu yang kami undang hanya bisa datang, say hi ke kami. Tamu lantas diberi nasi kotak dan suvenir. Sudah selesai. Singkat memang, tapi harus bisa dilakukan," terangnya.
Segala persiapan juga dilakukan di rumah pengantin perempuan. Terutama sarana prasarana yang menunjang protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Di antarnya, menyediakan tempat cuci tangan di depan gerbang masuk, puluhan botol handsanitizer, masker, serta face shield untuk penerima tamu. "Kebetulan kami juga tidak menyediakan makanan prasmanan untuk tamu, karena makanan prasamanan itu rentan banget," terang Diana.
Tak sampai disitu, mempelai pria serta keluarga ataupun pengiring pengantin wajib untuk mengantongi surat sehat. Surat itu diperoleh jika sudah menjalani rapid test. Pasalnya, pengantin pria berasal dari luar Kota Blitar, yakni Kota Malang. Karena itulah, untuk meminimalisir penyebaran virus, keluarga pengantin pria harus dipastikan sehat. "Saya wanti - wanti benar ke dia (penggantin pria, red), kalau tidak rapid test tidak usah ikut nganter ke sini," katanya.
Diana yang juga merupakan salah seorang petugas medis di salah satu rumah sakit di Kota Blitar itu paham betul dengan kondisi saat ini. Oleh karena itu, semua rangkaian acara pernikahannya dibuat se-efisien dan seaman mungkin. Baginya, tak masalah harus memangkas separuh lebih jumlah tamu undangan yang hadir. Menurutnya, demi kelancaran acara serta keselamatan kesehatan bagi semua keluarga menjadi hal yang paling utama.
"Keluarga saya maupun keluarga pengantin pria memang sudah sepakat semua dengan keputusan ini. Alhamdulillah semua menerima perubahan rencana acara kami, ya walaupun pasti tetap ada sedikit rasa kecewa," ujarnya lantas tersenyum. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana