Limbah mebel sering kali dibuang atau dijadikan kayu bakar. Namun di tangan kreatif Hartoyo, limbah berupa potongan kayu tersebut dapat disulap jadi kerajinan bernilai seni tinggi. Yaitu sebuah hiasan dinding berbentuk relief dan wayang kayu dengan tokoh-tokoh pewayangan Jawa. Seperti Punakawan, Anoman, dan lainnya.
Siapa pun jika berkunjung ke rumah Hartoyo, akan merasa nyaman dan kerasan. Pasalnya, sejumlah tanaman bunga yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, membuat suasana rumah yang beralamat di RT 03/RW 01 Nomor 1 Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung ini lebih adem dan sejuk.
Jika dilihat saksama, rumah Hartoyo ini cukup unik. Di depan terdapat pagar besi berwarna hitam dengan gapura masuk yang berhias Candrasengkala. Kemudian, selain dimanjakan banyak tanaman bunga, di sekeliling teras juga akan melihat beberapa hiasan dinding dari genting, kayu, dan lainnya. Bahkan, terdapat sebuah karya ukir relief yang indah terpasang di gazebo teras kecilnya.
Gazebo ini biasa dimanfaatkan Hartoyo untuk melepas penatnya. Sembari berkreasi dengan sejumlah potongan kayu yang merupakan limbah mebel yang didapatnya dari usaha kakaknya. "Kalau ada waktu luang, main sama kayu dengan alat tatah buat relief dan kreasi wayang kayu ini sama cucu," ucapnya membuka obrolan.
Pria ramah ini mengatakan, ide membuat kreasi dari limbah ini muncul pada 2014 lalu ketika sedang berada di rumah kakak sepupunya, Supriyo yang merupakan pengusaha mebel. Ketika itu, dia melihat seorang pekerja bernama Subakat yang sedang mengukir kayu jati sebagai hiasan mebel. Hasilnya tampak indah. Lantas, dia tertarik untuk mempelajari dengan melihat proses pengukiran dan menirukannya ketika di rumah. "Belajar sendiri di rumah. Njajal mengukir limbah kayu itu dengan cutter," katanya.
Kala itu, dia membuat ukiran berupa relief. Tak ada kesulitan yang berarti baginya. Hanya butuh ketelatenan dan ketelitian. Dengan alat seadanya, seperti cutter dan tatah dia dapat membuat kreasi relief yang indah. Bahkan kini sudah ada empat ukiran relief yang dibuatnya dari bahan limbah. Di antaranya, menggambarkan tokoh Joko Tarub dan Nawang wulan, Joko Tingkir, dan lainnya. Kini semua karyanya telah dipasang di dinding dan gazebo rumahnya. "Lebih untuk diri sendiri sih. Karena saya suka juga dengan seni juga. Selain bahan dari limbah mebel, ini (relief, Red) juga saya kreasikan dari batok kelapa yang juga limbah. Sehingga tampak muncul bayangan 3D-nya," terangnya.
Selain relief, mantan Plt kepala Dinas Perhubungan Tulungagung era 2005 ini mengaku juga mengkreasikan limbah kayu jati menjadi wayang kayu. Biasanya wayang kayu ini dia buat sebagai hiasan dinding atau pajangan di meja dan lemari. Dengan tokoh wayang yang beragam seperti Punakawan, Anoman, dan lainnya. "Kalau wayang ini lebih mudah. Karena cukup dimal, ditatah, dan dibantu bor dan pemotongan dengan gergaji, maka jadilah. Beda sama relief, butuh ketelatenan dan ketelitian lebih," terangnya.
Pria sepuh ini untuk menyelesaikan hiasan wayang kayu. Seperti paket Punakawan ini butuh waktu pengerjaan seminggu. Itu terhitung dari awal proses yakni membuat pola atau mal hingga pengecatan. Sedangkan relief butuh waktu lama, bisa lebih dua sampai tiga minggu, tergantung kesulitan desain gambar yang ingin diukir. "Belum ada arah untuk dijual. Ini lebih untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang saja," tandasnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana