Bagi seorang seniman mengekspresikan ide bisa menggunakan beragam media. Termasuk tembok. Inilah yang dilakukan sekelompok mahasiswa di Kota Blitar. Mereka membuat mural wayang beber.
Gedung Kesenian, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, masih sepi kemarin (20/8). Bangunan gedung berada di lahan cukup luas. Di sudut depan sebelah kanan, terlihat beberapa pria menggambar di tembok. Mereka ternyata masih berstatus mahasiswa. Beberapa di antaranya merupakan warga Kota Blitar.
Ada yang menarik dengan gambar yang dibuat. Para mahasiswa itu membuat mural. Yakni bertema wayang beber dengan cerita Panji Asmoro Bangun.
"Termasuk saya berarti ada enam orang yang menggambar mural ini," ungkap salah seorang koordinator pembuat mural, Ramon Rendra Cipta.
Dia mengatakan, mural dibuat secara berkelompok. Melibatkan enam orang setiap kelompoknya. Itu sudah dimulai sejak 5 Agustus lalu. Dia juga menceritakan, bersama rekannya menerima tawaran mantan gurunya saat SMK. Yakni untuk membuat mural tersebut.
Menurut Ramon dan rekannya, tawaran itu kesempatan bagus untuk mengekspresikan jiwa seni mereka. Utamanya selama berada di Kota Blitar. Ya, Ramin dan lima rekannya itu merupakan mahasiswa seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.
"Kebetulan selama masa pandemi ini kami semua pulang ke sini. Kemudian diminta tolong guru SMK untuk membuat mural ini. Ya daripada nganggur di rumah. Bisa untuk sarana mengasah pengetahuan seni kami," ujarnya.
Proses menggambar mural diawali dengan membuat sketsa langsung pada tembok. Butuh sekitar tiga hari untuk sketsa. Maklum, tembok yang menjadi media memiliki panjang sekitar 40 meter. Setiap tiga meternya dihitung satu blok persegi. Sedangkan, panjang tembok yang telah melalui tahap sketsa yaitu sekitar 27 meter.
Ramon melanjutkan, mural yang dibuat bercerita tentang Panji Asmoro Bangun. Gambar tokoh wayang direalisasikan dalam setiap blok berbeda-beda. "Sebenarnya temanya wayang beber dengan cerita Panji. Jadi kami akan buat sembilan cerita. Pokoknya tiga blok itu berisi dua cerita," paparnya.
Menggambar mural tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran lebih dan konsentrasi tinggi. Sebab, saat mulai pewarnaan atau pengecetan, harus memperhatikan setiap detail ataupun motif yang ada pada tokoh. Selain itu, kombinasi warna harus diperhatikan.
"Paling susah itu member warna detail motif pada wayang atau pernik-perniknya. Ya memang effort banget untuk hasil yang bagus," katanya sambil mengoleskan kuas pada dinding.
Bagi Ramon dan rekan-rekannya, pembuatan mural tersebut dapat melatih mental. Terlebih sebagai seorang seniman yang nantinya karyanya akan dilihat banyak orang.
"Kami senang kalau diapresiasi dan diberi ruang seperti ini. Toh nantinya karya - karya kami juga akan dihargai dan diapresiasi oleh orang banyak," pungkasnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana