Masih segelintir orang yang mengetahui sejarah sepeda doltrap. Ciri khusus sepeda itu terletak pada gear-nya yang paten. Sepeda itu pun dinilai ekstrem untuk dipakai di muka umum karena sistem pengereman masih konvensional. Bagi komunitas Legiun Sepeda Doltrap (LSD) Trenggalek, hal-hal berbau ekstrem itu justru membuat ketagihan meski mempertaruhkan nyawa.
UNIKNYA, anggota komunitas LSD Trenggalek justru waswas ketika melihat sesama pengendara sepeda doltrap. Mereka khawatir karena sepeda doltrap penuh dengan risiko dan berbeda dengan sepeda-sepeda lainnya. Salah satu anggota LSD Trenggalek, Jati Pramudya Darmastuti bercerita, sebutan doltrap berasal dari kata doortrap (paten). Sepeda doltrap dikenal sebagai sepeda generasi tertua di bumi karena sepeda itu hanya memiliki satu gigi dengan sistem pengereman yang masih konvensional. Teknik pengereman sepeda tersebut masih dengan cara mengayuh pedal ke arah belakang, yang membuat roda belakang memutar secara terbalik.
Jati mengaku, karena mekanisme pengereman sepeda doltrap yang masih konvensional, pemerintah pun melarang sepeda itu digunakan dimuka umum. Sepeda jenis tersebut hanya boleh digunakan untuk para profesional. Biasanya, sepeda itu digunakan untuk sepeda balap di dalam velodrom (arena balap). Sementara dalam perkembangannya, kata Jati, masyarakat yang tertarik dengan sepeda doltrap kemudian memakai sepeda itu di jalan-jalan umum. Namun, dia mengaku, tidak semua pengendara doltrap mengetahui betapa berisikonya sepeda tersebut.
Bagi alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2018 itu, dia menyukai sepeda doltrap karena sejarah di balik sepeda tersebut. Bahkan, dia mempelajari sejarah perkembangan sepeda sejak masih duduk di bangku SMP. Bermula dari sejarah tersebut, menggugah pria kelahiran 1995 itu menjadi rider sepeda doltrap.
Jati sadar risikonya ketika mengendarai sepeda doltrap di jalan umum, tapi hal itu tidak membuatnya takut. Meski gigi sepeda tipe fixed gear (tak bisa diubah-ubah) dan kondisi rem belum mekanik, dirinya mampu gowes dengan kondisi geografis tanah Bumi Menak Sopal yang pegunungan. “High risk (risiko tinggi) bagi rider sepeda doltrap, tapi tetap tergantung minat khusus,” ujarnya.
Alumni SMP 1 Trenggalek itu mengatakan, rider sepeda doltrap bisa ditandai dari bergonta-ganti sepatu. Pasalnya, ketika melintasi jalan yang menurun, pedal berputar layaknya gasing. Kedua kaki sudah tak lagi mampu menahan putaran pedal sehingga sepeda melesat tanpa kendali. Sedangkan hanya ada satu cara untuk mengerem sepeda tersebut, yaitu dengan memasang sepatu secara berhimpitan dengan roda belakang. “Sudah pasti membuat alas sepatu menimbulkan bekas ban, sepatu pun cepat rusak,” kata dia.
Pria yang kini berumur 25 tahun itu tak memungkiri, sepeda doltrap atau fixie itu sebetulnya hanya digunakan jalan-jalan yang datar karena hanya memiliki satu gigi. Namun, dia mengaku kondisi geografis Trenggalek yang pegunungan membuatnya tak punya pilihan lain sehingga mengendarai sepeda hanya dengan satu gigi itu di medan yang naik-turun.
Tidak sebatas satu atau dua kali, tapi sering kali Jati mendorong sepedanya ketika menemui tanjakan. Ukuran gigi sepedanya paten 48 x 16 inci sehingga berat ketika untuk tanjakan terjal. Dia mengaku tak masalah dengan kondisi tersebut karena itu ciri khas pengendara sepeda doltrap. “Kalau tidak kuat ya didorong, tapi itu menjadi cerita,” kata dia.
Untuk mendapatkan sepeda doltrap, kata Jati, tidaklah mahal, tergantung pemiliknya. Mayoritas pengendara doltrap memilih merakit sepeda sendiri daripada membeli standar pabrik. Biaya perakitan lebih murah karena rata-rata merogoh kocek antara Rp 1,5-3 juta. “Ongkos operasional tiap bulan yang cukup mahal karena ban, rantai, atau gigi itu mudah rusak. Jadi rajin-rajin mengganti. Sementara onderdilnya bervariasi, mulai dari Rp 45 ribu hingga ratusan ribu,” cetus dia.
Alumni dari SMA 2 Trenggalek itu bersyukur tidak pernah mengalami kecelakaan selama mengendarai sepeda doltrap. Menurut dia, karena dia selalu memperhitungkan tingkat risiko sebelum menemui medan yang berbahaya. “Belum pernah sampai cedera patah tulang,” ujarnya.
Sementara anggota komunitas LSD Trenggalek, Saga Tanjung Ilham mengaku, jatuh dari sepeda hingga patah tulang pernah dialaminya. Namun, itu belum cukup untuk membuatnya berhenti menjadi pengendara sepeda doltrap. Bagi dia, sepeda yang ekstrem itu bisa memacu adrenalin. “Ketika sepeda melaju kencang di jalan menurun, sudah pasrah saja kalau jatuh atau menabrak itu risiko. Sebab, biar pun direm pakai sepatu, tak membuat laju sepeda berhenti mendadak,” ungkapnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana