Bersepeda menjadi olahraga favorit di masa adaptasi kehidupan baru (AKB) Covid-19. Bagi Sefrizal Rio, stay at home (menetap di rumah) bukanlah satu-satunya alasan berhenti berinovasi. Fenomena sedang naik daunnya sepeda pun menjadi peluang untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah, walau sebatas kerja dari rumah.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Gandusari, Radar Trenggalek,
KONSUMEN silih berganti menghampiri kediaman Sefrizal Rio di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Mereka datang dengan memasang wajah penasaran, sesekali bola mata mereka mengintip ke arah garasi yang bersekat dengan ruang keluarga. Rio yang mengetahui maksud konsumen pun menjawab dengan sopan kalau sepeda yang ditunggu-tunggu mereka sudah selesai diperbaiki.
Sembari menuntun sepeda ke halaman rumah, Rio bercerita sebenarnya dia bukan usaha bengkel sepeda, melainkan menjual sepeda fullbike dan onderdil-nya. Raut wajah konsumen pun riang saat melihat sepeda mountain bike (MtB) keluar dari sela-sela pintu kayu berwarna coklat. Bergegas konsumen merogoh saku untuk membayar biaya perbaikan. “Suka saat melihat kepuasan muncul dari wajah mereka,” ucap Rio sambil melangkahkan kaki kembali ke garasi.
Duduk di atas dingklik (kursi kecil terbuat dari kayu, Red), Rio mulai menceritakan cara menemukan jiwa usaha. Cerita itu masih berkaitan dengan sosok orang tuanya. Dimana sang ayah berprofesi sebagai aparatur sipil negara—guru mata pelajaran olahraga, di sisi lain juga menekuni belantik sepeda motor. Pengalaman dari sosok kepala keluarga itu yang kemudian menginspirasi Rio berjiwa pengusaha.
Rio tertarik dengan sepeda sejak SMP. Pemuda kelahiran 1994 itu berangkat dan pulang sekolah selalu naik sepeda. Masa remaja membuat jiwa ekspresifnya muncul. Ditandai dengan Rio yang kian berani mewarnai sepedanya dengan cat semprot atau menggonta-ganti onderdil sepeda-nya. Dia mencoba bereksperimen namun membuatnya makin paham seluk-beluk sepeda. “Awalnya dari apa yang disukai,” kata dia.
Jiwa wirausaha Rio tumbuh, selepas lulus SMA. Anak dari pasangan Janu Harnowo dan Suyati itu mengawali usahanya dengan menjual sepedanya sendiri Merk Polygon Premier 4 seharga Rp 3,3 juta pada 2014. Dua tahun kemudian atau pada 2016, ternyata sepeda itu masih laku dengan harga Rp 3 juta. Kesan pertama menjual sepedanya sendiri tu membuatnya tersadar, ada keuntungan dibalik sebagai pedagang. “Selisih harga beli dan jual itu tidak begitu banyak, dan setidaknya saya sudah pakai sepeda itu selama 2 tahun. Dari situ saya tertarik berjualan sepeda,” ujarnya.
Selama ini, metode penjualan Rio melalui situs jual beli online. Mulanya, Alumni SMA 2 Trenggalek 2012 itu membeli sepeda fullbike yang kemudian memutilasinya. Bagian-bagian yang terpisah nantinya dia unggah ke media jual beli online. Penjualan onderdil sepeda selama pandemi Covid-19, kata Rio, makin ramai. Kurun waktu tiga hari, onderdil-onderdil itu pun habis diburu pelanggan. “Saya lebih memilih membeli sepeda sekon secara offline, jadi saya bisa menilai sepeda itu barangnya masih layak dijual secara online atau tidak,” ujarnya.
Berangkat dari hobi, Mahasiswa STKIP PGRI Trenggalek itu pun bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan caranya sendiri. Dia mengaku, omzet dari penjualan onderdil sepeda mencapai Rp 2,5 juta per bulan selama Covid-19. “Lumayan buat mencari pengalaman sebelum masuk dunia kerja,” ungkapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq