Dunia anak-anak memang identik dengan bermain, namun apa jadinya jika bermainan tersebut juga bisa berlatih. Mungkin inilah yang dilakukan Syifanazia Maheswari. Dengan bermain push bike, berbagai prestasi diraihnya, kendati usianya kini belum genap tiga tahun.
ZAKI JAZAI, Tugu, Radar Trenggalek
Butuh kesabaran, ketelatenan hingga membutuhkan waktu yang tepat agar mau bercerita, ya hal itulah yang nampak terpancar ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berbincang dengan Syifanazia Maheswari. Dengan kondisi seperti itu, waktu yang dibutuhkan agar mau berbicara bisa lebih panjang lagi. Untung saja, bersamaan itu hadir kedua orang tuanya, Ahmad Zaini dan Linda Septiwigati yang beberapa kali mengarahkan dan menggantikannya bercerita.
Saat itu di depan rumahnya di Desa Nglongsor, Kecamatan Tugu terlihat dua unit sepeda tanpa pedal (push bike). Karena dua unit sepeda tersebut baru saja dipakai dia dan sang kakak berlatih. Mengingat minggu depan, dia dan sang kakak akan mengikuti perlombaan push bike mewakili Trenggalek. "Minggu depan akan lomba di Solo," ungkap Syifanazia Maheswari kepada Koran ini.
Setelah itu Zia, -sapaan akrabnya dibantu ayah dan ibunya mulai bercerita terkait ketertarikannya dengan push bike. Hal itu terjadi sekitar pertengahan 2019 lalu. Saat masih berusia satu tahun hingga 15 bulan, dia sering menemani sang kakak bermain juga berlatih push bike. Dari situ dirinya mulai suka, dan meminta diajari cara bermain. "Yang mengajari ayah, dengan meniru kakak dan beberapa kali belajar langsung bisa," katanya.
Sedangkan untuk konsep belajar sendiri cukup mudah, yaitu Zia diajari untuk menjaga keseimbangannya. Sebab memang sepeda roda dua tanpa pedal tersebut didesain untuk anak kecil agar mudah mempelajarinya. Konsepnya sang pengemudi cukup mengayunkan kakinya sebagai pengganti pedal, dan meluncur. Sehingga anak yang memiliki keseimbangan baik, pastinya yang bisa cepat meluncur, dan mudah melewati rintangan yang ada dalam tiap lintasan.
Dengan rata-rata satu minggu dua kali belajar, Zia dengan cepat menguasainya. Sehingga ketika dirinya memasuki usia 18 bulan pada Desember 2019 lalu, sang ayah tidak ragu lagi untuk mengikutkannya dalam sebuah perlombaan push bike tingkat Jawa Timur (Jatim) di Kediri. Ternyata apa yang dilakukan sang ayah tidak sia-sia, sebab saat itu Zia langsung berhasil naik podium sebagai juara IV.
Dari situlah, dirinya hampir tidak pernah absen dalam perlombaan push bike, dan juga naik podium. Perlombaan tersebut seperti masuk lima besar pada Jatim series di Malang, juga terakhir juara 1, begitu pun Pro Grandprix UGM di Jogjakarta pada Febuari lalu. Sebenarnya dari semua itu dirinya bisa menambah lagi koleksi pialanya, namun semua perlombaan di 2020 ini dibatalkan, karena mewabahnya virus korona. "Semoga di Solo nanti saya bisa menang lagi," ujar bocah kelahiran 2018 ini.(*)
Editor : Choirurrozaq