Apa guna banyak ilmu jika tak diamalkan. Itulah prinsip Anak Thoriqah Indonesia (ATI) dalam membuat bimbingan belajar (bimbel) gratis yang diperuntukkan kepada anak-anak, khususnya anak yatim dan tidak mampu yang membutuhkan pendidikan. Selain itu adanya bimbel gratis juga merupakan sebuah kritik sosial, bahwa banyak anak yang tidak mendapat pendidikan karena tidak memiliki uang. Maka kami berusa memberikan pendidikan tanpa harus tergantung pada uang.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung.
Tampak keceriaan menghiasi wajah dari puluhan salik (peserta didik, red) yang sedang menerima materi pemberlajaran di Pendopo Sajroning Manah (Puncak ATI) yang berada di Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Tulungagung. Pembelajaran tersebut dikenal sebagai new normal education. Jadi para salik akan mendapatkan materi langsung dari pengajar dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, karena saat ini tengah pandemi Covid-19.
Founder ATI, Muhammad Balyahu mengatakan, program bimbel gratis ini merupakan wujud sumbangsih ATI dalam memberikan manfaat kepada masyarakat. Selain itu adanya bimbel gratis juga sebagai bentuk kritik sosial. Karena seperti banyak orang ketahui, banyak anak yang tidak bisa mendapatkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Padahal pendidikan merupakan hak setiap anak bangsa. Maka dari itu pihaknya menginisiasi untuk membuat bimbel gratis agar anak-anak yang kurang mampu dan yatim bisa mendapatkan pendidikan.
“Jadi para salik ini tidak dipungut biaya sepeser pun selama bimbel di ATI. Bahkan, kami juga menyediakan alat tuli dan alat pelindung diri (APD) secara gratis kepada para salik. Karena kami mengutamakan untuk anak yang tidak mampu dan yatim agar tetap bisa mendapatkan pendidikan,” tuturnya.
Gus Balya, –sapaan akrabnya menjelaskan, bimbel ini sudah berjalan sejak tiga bulan yang lalu. Tercatat ada sekitar 70 salik dan yang aktif sekitar 60 salik. Mereka terbagi menjadi tiga kategori yakni untuk TK yang mau masuk ke SD, kelas 1 sampai 3 SD, dan kelas 4 sampai 6 SD. Dalam satu pertemuan para salik akan mendapatkan dua materi yakni hadist dan bahasa inggris. “Untuk kurikulumnya kami membuat sendiri. Jadi awal salik akan diajarkan berdoa seperti di madrasah, kemudian dilanjutkan dengan belajar hadist sekaligus asbabun nuzulnya. Setelah itu baru masuk belajar bahasa Inggris,” jelasya.
Pria ramah itu menambahkan, dengan seperti itu para salik akan diajarkan ilmu agama sejak kecil guna membangun pondasi pemahaman agama yang kuat. Tentu bimbel gratis ini tidak bisa berjalan tanpa ada para pengajar yang mau mengabdikan dirinya di ATI. Dan ini sangat positif sekali, karena para pengajar yang baru lulus tidak hanya memikirkan pekerjaan saja, tapi juga mengamalkan ilmu yang telah didapat selama dibangku perguruan tinggi.
“Pengajar di sini juga sesuai dengan latar belakang pendidikanya. Dan alhamdulillah mereka mengamalkan ilmunya kepada para salik. Karena seharusnya para lulusan sarjana tidak hanya memburu pekerjaan saja, tapi juga harus mengamalkan ilmunya,” tambahnya.
Pria berjenggot ini berharap, semoga dengan adanya bimbel gratis ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Selain itu juga memperdayakan para pemuda yang tergabung didalam ATI untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah didapat. Agar ilmu tersebut tidak menjadi sia-sia. “Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat. Dan tidak akan ada gunanya jika kita memiliki ilmu tapi tidak diamalkan,” pungkasnya.(*)
Editor : Choirurrozaq