Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenal Motif Tenun Khas Trenggalek dari Fitri Murdianti

Choirurrozaq • Rabu, 14 Oktober 2020 | 01:30 WIB
mengenal-motif-tenun-khas-trenggalek-dari-fitri-murdianti
mengenal-motif-tenun-khas-trenggalek-dari-fitri-murdianti

Banyak cara untuk mengenalkan produk-produk asli dari Kabupaten Trenggalek, sama halnya yang dilakukan Fitri Murdianti. Sebagai pengusaha tenun, dia berinovasi mengangkat potret keaslian Bumi Menak Sopal melalui motif alam dan sektor pertanian.


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Karangan, Radar Trenggalek,


OUTLET tenun Fitri Murdianti berada di Desa Buluagung, Kecamatan Karangan, tepat di sebelah selatan jalan raya yang menghubungkan Trenggalek - Ponorogo. Cukup mudah orang mengenali outlet tenunnya, karena puluhan kain tenun terpampang rapi dibalik pintu masuk rumahnya. Bahkan, dinding yang berwarna dasar putih itu nyaris tidak terlihat karena tertutup kain-kain lembaran, hingga ruangan itu pun memiliki kesan ramai.


Fitri tinggal bersama Rohmat Ismail (suaminya, Red) dan kedua putrinya. Di tengah menjalankan kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Fitri dengan telaten menenun. Fitri menghabiskan banyak waktunya bersama alat tenun yang berada di dekat outlet, tersekat oleh aluminium. Dan, dengan telaten yang penuh kesabaran Fitri mengoperasikan alat tenun tersebut dengan kedua tangannya.


Pagi itu cuaca cerah, suasana outlet tenun Fitri sejuk. Sembari kedua tangannya sibuk mengatur pengikat benang, diceritakanlah keinginannya dalam menjalankan usaha tenunnya. Fitri berharap bisa membuka lapangan pekerjaan dari usaha yang turun-temurun dari keluarga suaminya. Dan kini dia memiliki tiga karyawan. "Tidak semua orang bisa menenun karena butuh kesabaran, kejelian, kehati-hatian," ujarnya.


Dia bercerita, usaha itu bukan hanya sebagai ajang untuk mencari rezeki. Di balik itu ada nilai-nilai sosial dan kecintaannya dengan Kabupaten Trenggalek. Wanita berjilbab itu mengatakan, potret Trenggalek itu bersemayam di balik filosofis motif hasil tenunannya. "Motif cengkih, manggis, dan paradise," ungkapnya.


Fitri menjelaskan, ketiga motif tersebut sebagai ciri khas Kabupaten Trenggalek karena sektor hasil pertanian kebun Cengkih dan Manggis mendominasi di kabupaten ini. Sedangkan motif Paradise diambil dari pesona alam pantai. "Semisal pantai Mutiara, Prigi, dan sebagainya. Sebenarnya Trenggalek kaya dengan pesona pantai," ujarnya.


Motif-motif yang diambil dari potret Trenggalek pun mampu membuka pangsa pasar hingga ke luar pulau Jawa. Bahkan, diakui Fitri konsumen tenunnya pernah dikirim ke Madura, Sulawesi, hingga Sumatera. "Dimulai tenun dari bahan katun, sutra, semi sutra," ucapnya.


Tentu, ibarat proses tak pernah mengkhianati hasil. Konsistensi industri rumahan tenun di Desa Buluagung ini pun diapresiasi pemerintah kabupaten (pemkab) melalui kebijakan untuk mengenakan motif khas Trenggalek tiap hari Kamis. Selain itu, omzet Fitri pun hingga Rp 30 juta per bulan. "Harganya bervariasi, untuk kain tenun per potong Rp 190 - 200 ribu, semi sutra Rp 400 ribu per potong, dan sutra Rp 600 ribu per potong," ungkapnya.


Namun pandemi Covid-19, kata Fitri, berdampak signifikan terhadap omzetnya. Pasalnya, sejak adanya pandemi virus SARS-Cov-2 tersebut membuat konsumennya terjun bebas hingga menyentuh 50 persen. Kondisi itu diakuinya terjadi ketika sedang marak pandemi. Untuk saat ini, kata dia, kondisi pasar mulai normal kembali. "Kalau akhir-akhir ini sudah mulai normal," ungkapnya.(*)

Editor : Choirurrozaq