Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suka Duka Petugas Perawatan Rel Kereta Api Blitar

Choirurrozaq • Senin, 19 Oktober 2020 | 23:00 WIB
suka-duka-petugas-perawatan-rel-kereta-api-blitar
suka-duka-petugas-perawatan-rel-kereta-api-blitar


Bekerja sebagai seorang petugas atau teknisi perawatan rel kereta api, memang patut diacungi dua jempol. Sebab, kelancaran jalur rel kereta api menjadi tanggungjawabnya bersama teman-teman. Karena tugas itu, untuk keselamatan banyak orang. Seperti dilakoni Eki Budi Prayitno, yang harus standby 24 jam menerima panggilan.


FIMA PURWANTI,Kanigoro, Radar Blitar


Sejumlah alat ataupun perkakas dengan berbagai jenis, bentuk, dan ukuran, dibawa dalam karung berukuran sedang. Ya, menjadi salah satu petugas bagian teknisi lapangan, mengharuskannya untuk membawa perlengkapan atau perkakas yang tidak bisa dibilang ringan itu.


Dia adalah Eki Budi Prayitno, salah seorang teknisi perawatan rel kereta api. Tugasnya, adalah memperbaiki serta melakukan pengecekan rel kereta api yang berada di wilayah Blitar dan sekitarnya. Rute atau jalur rel kereta api yang menjadi tugas pengecekannya meliputi, piket 00 (106 km) di Bajang, Kecamatan Talun, hingga piket 78 (138 km) di Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.


Eki, lelaki yang memiliki postur tubuh tinggi itu menuturkan, mulai bergabung dengan teknisi rel kereta api sejak 2015 lalu. Tepatnya, setelah lulus dari salah satu SMK di Kota Blitar. Pada saat itu, dia ingin melanjutkan kuliah, namun terkendala biaya. Sehingga, harus mencari pekerjaan agar bisa melanjutkan jenjang pendidikan.


"Pokoknya abis SMK, ikut daftar disitu (teknisi rel kereta api, Red) meskipun agak gak nyambung dengan jurusan otomotif yang saya ambil. Karena emang kepingin kuliah, dan gak mungkin kalau terus-terusan minta orang tua. Sebenarnya sama bapak disuruh nunggu setahun dulu untuk kuliah, tapi saya gak mau. Makanya, dulu daftar kuliah sambil cari kerja yang di area Blitar aja, biar gak usah ngekos," ujarnya.


Penghasilan atau gaji bulanan yang didapatkannya dalam bekerja, sebagai teknisi rel kereta api digunakannya untuk membayar keperluan kuliah. Tak jarang juga, disisihkan beberapa untuk diberikan kepada orang tua. Meskipun tak banyak yang bisa diberikan, tetapi rasa bangga dapat dirasakannya saat bisa memberi uang dari hasil keringatnya sendiri. 


Pemuda asal Kelurahan Satreyan, Kecamatan Kanigoro itu mengaku, tidak mudah menjadi seorang teknisi rel kereta api. Sebab, tak hanya dituntut untuk terampil dalam memperbaiki rel kereta api, tetapi juga harus cepat dan tanggap. Siaga 24 jam setiap hari, harus dilakoninya agar dapat mengecek atau bahkan memperbaiki rel kereta api yang bermasalah.


"Ya meskipun gak setiap hari ada masalah, tetapi setiap hari harus stanby terus. Jadi kalau sewaktu-waktu ada panggilan, ya kita bisa datang. Kebetulan untuk area Blitar ada tiga tim, masing-masing sembila orang, ya jadi bisa gantian juga," tuturnya.


Pemuda yang juga mahasiswa jurusan ekonomi manajemen itu memaparkan, tugas yang kerap dikerjakannya, seperti memasang hingga menguatkan kembali baut pada rel kereta api, memasang bantalan rel kereta api di jembatan, hingga memasang persimpangan rel (wesel).


"Yang paling berat itu kalau ngganti bantalan rel jembatan, itu beratnya hampir 2 kuintal, dan yang ngangkat cuma sekitar empat orang aja. Ya mau gak mau harus bisa, lumayan juga untuk nambah kekuatan otot," ujarnya tertawa. (*)


Editor : Choirurrozaq
#blitar