Seolah tak pernah kehabisan bibit literatur, Blitar selalu memiliki orang-orang yang bisa dibilang getol dalam kegiatan tulis-menulis. Termasuk Forum Lingkar Pena (FLP) Blitar. Komunitas ini bukan hanya jadi ajang kumpul, tapi juga jadi sebuah "pabrik" bagi buku-buku literasi yang ditelurkan komunitas ini.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Sananwetan, Radar Blitar
"Iya tak sambi ngetik ya ini Mas," kata pria itu saat diwawancarai wartawan Koran ini sore hari kemarin. Pria itu adalah Hendra Burhanudin, ketua komunitas FLP Blitar yang sudah tergabung dalam komunitas ini sejak tahun 2016 lalu. Di tengah kesibukannya, Hendra coba bercerita tentang kegiatan-kegiatan komunitasnya.
Ayah satu orang anak ini menuturkan, sejak berdiri pada tahun 2008 lalu, komunitas ini memang dimaksudkan sebagai wadah bagi penggila literasi di Blitar Raya. Dia menyebut, antusiasme pegiat literasi di Blitar cukup baik. Buktinya, hingga kini tercatat ada puluhan orang tergabung ke dalam FLP. "Kalau secara administratif itu anggotanya sekitar 32. Itu belum termasuk yang belum terdaftar secara administratif. Jumlahnya banyak," sebutnya.
Bukan cuma puisi, komunitas ini mewadahi beragam literasi lain. Sebut saja, mulai dari esai, jurnal ilmiah, fiksi hingga cerpen pun mampir di komunitas yang disebut Hendra sangat cair. "Yang dominan memang puisi. Tapi semua ada. Ini komunitas netral," kata pria 30 tahun ini.
Beberapa judul buku pun jadi pembuktian bagi komunitas ini bahwa mereka bukan sekadar "eksis", melainkan produktif. Tak kurang tiga judul buku puisi pun sudah dicetak. "Kita launching tiga buku. Semua buku puisi," kata salah seorang anggota FLP, Zulfa Ilma Nuriana.
Remaja 19 tahun ini menerangkan, banyak kegiatan yang biasa dilakukan FLP seperti pertemuan sharing, bedah buku atau menulis bersama. Namun, adanya pandemi Covid-19 memaksa komunitas ini untuk mengurangi intensitas bertemu secara lain dan lebih banyak membuat forum dengan memanfaatkan media daring. "Sekarang jadi agak bertemu. Jadi kegiatannya secara online," ujar mahasiswi semester tiga jurusan psikologi Islam, IAIN Tulungagung ini.
Dia menyebut, kegiatan menulis bukan sekadar menyalurkan hobi. Melainkan juga sebagai cara bertanggung jawab kepada diri sendiri juga orang lain. Terlebih tulisan yang dibuat dimaksudkan untuk dipublikasikan kepada khalayak umum. "Bukan kumpul saja, tapi tukar pikiran. Karena karya kita akan dikritik anggota yang punya pandangan masing-masing. Karena kita mendakwahkan tulisan, ada tanggung jawabnya," kata Zulfa dengan nada tegas. (*)
Editor : Choirurrozaq