Kertas karton yang kerap digunakan sebagai bahan kotak makanan, kartu, atau paper bag, apabila di tangan Samsudin maka akan berbeda. Kertas itu disulapnya menjadi wayang. Tujuannya, selain untuk melestarikan budaya, dari segi produksinya pun lebih ekonomis.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Pogalan, Radar Trenggalek
Duduk di Gazebo, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, tempat dimana Samsudin bertandang tiap harinya. Sejumlah wayang tersusun rapi yang bersandar pada alat Gazebo. Sekilas, tidak ada yang berbeda bentuk wayang buatan Samsudin. Namun ketika diamati dari dekat, maka akan terlihat tekstur kertas karton, yang membedakan media wayang pada umumnya, yakni menggunakan kulit hewan.
Samsudin bukanlah pria yang kekar lagi, usianya sudah 85. Di usia lanjutnya, dia masih bersemangat bekerja menjadi perajin wayang karton. Alasannya pun bisa dimaklumi, karena dia tidak punya pekerjaan lain. Pria lanjut usia itu mensyukuri apa yang menjadi pekerjaan kini yang terpenting halal. "Sudah enam tahun saya buat wayang, saya belajar sendiri," ungkap Samsudin sambil melihat lalu-lalang kendaraan.
Pria ramah itu bercerita, menemukan inspirasi membuat wayang dari karton bermula ketika dirinya sering melihat pagelaran wayang kulit. Semasa kecil, pertunjukkan wayang sering menjadi tontonan favoritnya. Belum ada tontonan variatif lainnya, karena teknologi yang terbatas kala itu.
Kreativitas Samsudin menuntunnya bisa membuat wayang. Awalnya, wayang buatan Samsudin memakai bahan kardus, tetapi ternyata lambat laun ada orang yang tertarik dengan wayang buatannya. Untuk itu, warga Desa Ngadirejo itu berinisiatif menggunakan kertas karton sebagai bahan dasar. "Dari harga bahan dasarnya murah, jadi jualnya tidak terlalu mahal. Kalau pakai bahan kulit malah," ujarnya.
Kertas karton dibeli Samsudin dari toko atau menggunakan kardus-kardus tak terpakai. Dia mengakui, nyaris seluruh potongan karton bisa termanfaatkan. "Biasanya potongan karton dibuat untuk tangan, seperti kardus yang sudah dipakai itu bisa digunakan untuk membuat tangan wayang." jelasnya.
Dari segi harga, wayang buatan Samsudin dibanderol Rp 75 ribu per item, jauh lebih murah dibanding wayang berbahan kulit kambing, sapi, atau bahkan kerbau. Dibalik itu, wayang buatannya bisa menipu mata orang ketika melihatnya dari kejauhan. Pasalnya, bentuk dan pewarnaannya detail.
Tak dimungkiri, hasil tidak akan mengkhianati prosesnya. Sebab, membutuhkan waktu 3 - 5 hari untuk Samsudin membuat satu wayang. Lama-tidaknya pembuatan wayang bergantung dengan tingkat kerumitan. Selain itu, ternyata cuaca juga mempengaruhi dalam pembuatan wayangnya. "Kalau musim kemarau, bisa cepat buatnya, karena keringnya cat bisa lebih cepat, jadi ketika ditimpa dengan warna lain bisa, warnanya tidak rusak," imbuhnya. (*)
Editor : Choirurrozaq