20 tahun beternak perkutut Bangkok secara mandiri. Selama itu tak sedikit ilmu yang diperoleh. Mulai cara riset untuk menghasilkan burung yang unggul.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Sananwetan, Radar Blitar
Sejumlah pasang perkutut dalam kandang itu diamatinya satu persatu. Melewati lorong kandang, Tonny mengecek kondisi perkutut untuk memastikan adakah yang sudah bertelur atau belum. Hasilnya, sebagian ada yang sudah bertelur dan ada yang belum.
Setiap pasang perkutut itu menghasilkan rata-rata dua butir telur. Telur perkutut itu diletakkan di sebuah wadah kecil yang sudah disediakan dan ditaruh dalam kandang. Jika ada yang bertelur, Tonny langsung mencatatnya di potongan kertas yang ditempelkan di pintu kandang.
Yang dicatat adalah tanggal bertelurnya. Kemudian, ketika telur menetas juga dicatat. "Jadi saya catat semua untuk lebih mempermudah dalam memantau pertumbuhan perkutut. Juga bisa tahu usia perkututnya," kata pria bernama lengkap Tonny Hartono kepada koran ini di kediamannya di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, kemarin (4/11).
Kini ada sekitar 700 pasang perkutut yang ditangkarkannya. Belum lagi perkutut lainnya hasil penangkaran yang jumlahnya mencapai ratusan. Semua perkutut itu merupakan perkutut Bangkok.
Sudah 20 tahun Tonny menggeluti bisnis penangkaran perkutut bangkok itu. Dia memanfaatkan lahan kosong di utara rumahnya sebagai tempat penangkaran. Lahannya seluas sekitar 2.350 meter persegi.
Penangkaran perkututnya itu menggunakan kandang besi. Ada dua model kandang yang digunakan sesuai dengan fungsinya. Satu kandang untuk bertelur yang berisi sepasang perkutut dan kandang satunya untuk pembesaran. "Kandang untuk pembesaran itu lebih besar. Burung-burung yang usianya sudah satu bulan saya pindah ke kandang untuk dibesarkan. Bakal calon indukan," katanya sambil menunjukkan kandang tersebut.
Bisnis penangkaran yang digeluti Tonny itu berawal dari hobi. Kala itu dirinya memelihara beberapa perkutut saja untuk sekedar menyalurkan hobi. Keistimewaan dari burung tersebut yakni suara kicaunya.
Dari hobi itu akhirnya Tonny mencoba menangkarkan sejumlah perkutut Bangkok. Waktu itu pengetahuannya tentang seluk beluk penangkaran perkutut masih minim. Namun kondisi itu tak membuat tekadnya lemah. "Saya terus belajar dan belajar. Bertanya ke teman-teman," ujar peternak 56 tahun itu.
Seiring berjalannya waktu, penangkaran perkutut miliknya semakin berkembang. Jumlah perkututnya terus bertambah. Hingga kini sudah ada sekitar 700 pasang perkutut bangkok.
Dari ratusan pasang itu, tentunya sudah banyak yang menghasilkan perkutut. Bisa dibilang, saat ini Tonny merupakan satu-satunya peternak perkutut terbesar di Blitar Raya. "Saya belum tahu peternak dengan jumlah banyak seperti saya," klaimnya.
Dalam sebulan, rata-rata Tonny bisa menghasilkan 300 ekor perkutut. Hampir setiap 25 hari sekali, indukan perkututnya selalu bertelur. Kemudian menunggu sekitar dua minggu untuk menetas.
Selama satu bulan, anakan perkutut itu dibiarkan satu kandang dengan indukannya. Selepas satu bulan, anakan perkutut itu bisa dipisahkan dan dipindahkan ke kandang pembesaran.
Tonny menyebut, perkutut Bangkok usia satu bulan itu sebenarnya sudah bisa dijual ke pasaran. Namun, tidak semua perkutut itu bisa dijual seketika karena masih akan dilihat dulu kualitasnya. "Saya juga harus riset dulu. Mana saja perkutut yang bagus dan berkualitas. Sebab, nanti juga bisa jadi calon indukan," terang bapak satu anak ini.
Untuk perkutut indukan yang sudah siap di"jodohkan" atau dipasangkan yakni yang sudah berusia enam bulan. Untuk menjodohkannya juga tidak sembarangan.
Jauh hari Tonny sudah melakukan riset terlebih dahulu untuk menentukan indukan yang benar-benar bisa menghasilkan anakan perkutut unggul. "Tapi terkadang, indukan unggul itu juga belum tentu menghasilkan anakan yang unggul. Semua tergantung dari faktor perawatannya," ujar pria ramah ini.
Menurut dia, perawatan burung perkutut bangkok tidaklah sulit. Perawatannya sederhana dan tidak begitu membutuhkan banyak biaya maupun tenaga. Untuk nutrisi makananya, hanya cukup milet. Sementara minumnya disediakan air. "Memberi makan sekali saja sesuai takaran wadah. Itu bisa untuk lima hari," katanya.
Sementara untuk kandang perkutut harus di tempatkan di lahan terbuka. Yang penting harus terkena sinar matahari. Sebab, perkutut memang jenis burung yang hidup di alam terbuka. "Untuk kendalanya hanya faktor cuaca saja. Selain itu tidak berpengaruh. Yang penting nutrisi makanan tercukupi," ungkap Tonny.
Selama ini, sebagian besar pembeli perkutut-perkututnya itu datang dari luar daerah. Bahkan juga ada hingga luar pulau Jawa. "Mereka ada yang membeli sepasang. Ada juga yang membeli satuan ekor," ungkapnya.
Untuk harganya, kata Tonny, bervarisi. Semua kembali lagi dari kualitas burung tersebut. Yang menentukan adalah suara kicauan yang dihasilkannya.
Semakin kicauannya bagus maka harganya semakin mahal. Harga perkutut bangkok yang dijual Tonny berkisar Rp 125 ribu hingga jutaan bahkan bisa tak terhingga. "Kalau sepasang perkutut yang bagus misalnya, bisa berharga Rp 1 juta hingga Rp 5 juta," terangnya.
Selama ini, sejumlah perkutut yang berkualitas bagus sebagian ditempatkan di sangkar. Baik itu perkutut jantan maupun yang betina.
Dengan harga yang bisa mencapai jutaan itu, tak dapat dipungkiri Tonny bisa mengantongi omzet hingga puluhan juta. Bayangkan, jika dipukul rata, 300 ekor dalam sebulan dengan harga Rp 100 ribu per ekor maka omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp 30 juta per bulan.
Nah, di masa pandemi ini Tonny justru menuai berkah. Banyak permintaan perkutut dari luar. "Permintaannya mencapai 50 persen," katanya. Namun, kondisi itu tidak sebanding dengan ketersediaan perkutut di kandangnya. "Akhirnya, saya membeli ke mitra-mitra untuk dijual lagi," lanjutnya.
Tonny saat itu memang kewalahan melayani permintaan konsumen. Jika dibandingkan pada kondisi normal sebelum pandemi, sebulan rata-rata bisa menjual 300 ekor, ketika pandemi naik 400-450 ekor per bulan.
Situasi pandemi saat ini memang diakuinya membawa dampak positif. Bukan hanya bagi peternak perkutut seperti dirinya, tetapi bisa juga peternak burung-burung lainnya. "Pandemi ini kan banyak orang di rumah. Memelihara burung dan jenis hewan peliharaan mungkin bisa jadi hiburan untuk mengurangi stres akibat pandemi," ujarnya. (*)
Editor : Choirurrozaq