Produk-produk ecoprint atau cetak alami menggunakan daun tengah diminati oleh kaum hawa. Peluang ini yang dimanfaatkan Suci Suprihatin untuk membuat sepatu dan tas ecoprint. Selain menambah kesan natural, juga dapat mempercantik tampilan.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Gondang, Radar Tulungagung
Kain-kain shibori dan ecoprint tergantung rapi di sebuah galeri milik Suci Suprihatin di Dusun Krajan, Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang. Di antara kain-kain yang tertata rapi tersebut, terdapat sebuah etalase kaca untuk display hasil karyanya. Mulai dari tas pesta hingga sepatu aneka model. Yang menarik, sepatu-sepatu dan tas ini merupakan pengembangan dari teknik ecoprint hasil karya Suci Suprihatin. “Jadi saya memanfaatkan ecoprint tidak hanya untuk busana saja, melainkan juga untuk tas dan sepatu,” jelasnya sembari mengeluarkan beberapa pasang sepatu dari etalase.
Suci mengatakan, sepatu dan tas ecoprint miliknya tergolong baru. Sebab baru sekitar 5 bulan terakhir ini ia mengembangkan bisnisnya. Sebelumnya, ibu dua anak ini bergelut dengan bisnis shibori sejak 2015 silam. Selanjutnya sekitar satu tahun terakhir ia pun mencoba belajar teknik ecoprint. “Fashion dan seni itu dinamis, jadi sebisa mungkin saya harus tetap berpikir kreatif, akhirnya saya memutuskan membuat sepatu ecoprint ini setelah selesai workshop,” terangnya mengawali cerita.
Wanita 42 tahun ini mengatakan, karena untuk tas dan sepatu, media yang digunakan pun diganti dengan kulit. Namun secara garis besar teknik hampir sama dengan teknik ecoprint pada umumnya. Yakni dengan memanfaatkan warna alami dari tanaman, seperti bagian bunga, dan daun.
Pertama-tama lembaran kulit dicuci bersih menggunakan air biasa. Selanjutnya dilanjutkan dengan proses mordan. Yakni proses merendam kain dengan larutan aluminium asetat. Proses ini berfungsi untuk membuka pori-pori kain agar dapat menyerap tanin (zat warna) dari daun maupun bunga. Proses ini memakan waktu sekitar 30 menit.
Sembari menunggu kulit yang direndam, dapat dilanjutkan dengan menyiapkan kain katun tipis polos sebagai pentransfer warna. Rendam kain katun ke dalam cairan pewarna. Selanjutnya masuk pada tahap cetak printing. Yakni menyiapkan plastik bening sebagai alas kulit. “Kulit yang telah direndam tadi dibentang dan ditempeli dengan daun maupun bunga sesuai keinginan. Letak seninya di sini karena hasil akan berbeda-beda terkadang lebih cantik dari ekspektasi awal,” urainya.
Jika daun sudah ditempel, selanjutnya ditutup dengan kain katun yang telah direndam ke dalam pewarna, untuk selanjutnya di-wrapping (bungkus). Setelah terbungkus dengan plastik, lembaran kain pun diinjak-injak agar warna daun dan bunga dapat menempel sempurna pada kulit. Jika sudah dilanjutkan dengan menggulung lembaran kulit untuk selanjutnya direbus ataupun dikukus selama 90 menit agar warna lebih meresap.
Wanita kelahiran 1 Februari 1978 ini melanjutkan, proses pengukusan atau perebusan ini yang harus diperhatikan. Sebab kulit harus direbus pada suhu 60 derajat dengan durasi waktu 90 menit. Jika lebih dari itu, dikhawatirkan kulit akan berkerut dan tidak dapat digunakan. “Bisa-bisa kulitnya kusut berkerut dan matang, jadi tidak bisa digunakan lagi. Untuk itu suhunya harus pas dan durasinya juga pasa,” imbuhnya.
Jika sudah, gulungan kulit pun selanjutnya dibentangkan agar cepat kering. Namun tidak menjemur kulit di bawah sinar matahari secara langsung. Karena akan merusak tekstur kulit. Selanjutnya setelah melalui tahap finishing, lembaran kulit ecoprint pun dapat dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan. Seperti tas maupun sepatu. “Digambar dulu polanya kemudian dijahit seperti membuat tas atau sepatu pada umumnya,” terangnya.
Suci tak menampik, meskipun tergolong baru, namun sepatu dan sandal ecoprint miliknya telah dilirik oleh pasar nasional. Buktinya penjualannya pun telah melanglang buana hingga Sumatera dan Kalimantan.
Disinggung mengenai bahan baku, ia mengaku mencari bahan baku tergolong mudah. Sebab hampir semua jenis daun dapat digunakan untuk ecoprint.Terutam daun yang memiliki tekstur bulu. Ini karena tanaman dengan jenis tersebut memiliki zat pewarna yang cukup kuat. Seperti daun jati, katuk, dan jarak wulung. Untuk itu Suci pun bertekad terus untuk mengembangkan bisnisnya dengan berbagai teknik ecoprint maupun shibori yang telah ia pelajari. (*)
Editor : Choirurrozaq