Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Iuran untuk Buat Layangan, 2020 Berhenti Karena Covid-19

Choirurrozaq • Selasa, 17 November 2020 | 22:00 WIB
iuran-untuk-buat-layangan-2020-berhenti-karena-covid-19
iuran-untuk-buat-layangan-2020-berhenti-karena-covid-19

Menerbangkan layang-layang bukan hanya permainan anak kecil aja. Kini bahkan  event layang – layang mulai dari tingkat daerah hingga internasional diadakan untuk mewadahi para penggemarnya. Ini seperti yang dilakukan oleh Perkumpulan Arek Telasih (ATS), pemuda pecinta layang-layang asal Trenggalek yang sering meraih juara lomba layang-layang hingga tingkat intenasional.


ZAKI JAZAI, Kota Radar Trenggalek


Ketika cuaca cerah, berada di tanah lapang, atau perkarangan yang luas dengan hembusan angin yang kecang, maka salah satu permainan yang paling mengasyikkan adalah menerbangkan layang-layang. Situasi itulah yang terjadi ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di salah satu rumah masuk Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek kemarin (16/11). Saat itu terlihat tiga orang pria sedang mengeluarkan tiga jenis layang-layang dari dalam rumah. Terlihat mereka asyik menjajar beberapa jenis layangan.


Bukan layang – layang biasa,  yang dikeluarkan layang – layang menarik dengan berbagai macam bentuk. Ada model naga, tokoh pewayangan, hingga panji lambang suatu organisasi siap diterbangkan. Namun beberapa diantaranya masih perlu dirakit kembali. Ya model layang-layang itulah yang pernah mendapatkan juara mulai dari juara sati tingkat provinsi, dan harapan satu tingkat nasional juga internasional. "Semoga saja tidak turun hujan, agar kami bisa bermain layang-layang ini," ungkap Ketua ATS Joko Heriyanto.


Sebenarnya awal mula dirinya dan teman-teman mulai menekuni membuat layang-layang, dan mengikuti berbagai lomba sejak 2017 lalu. Bermula dari pemuda desa tersebut sering berkumpul di area persawahan untuk bermain layang-layang. Bersamaan itu ada suatu event perlombaan layang-layang yang berada di wilayah Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. "Karena itu dari pada hanya sekedar bermain layang-layang kami sepakat mengikuti lomba itu," katanya.


Karena terbiasa bersama, secara otomatis mereka telah memikiki perkumpulan dan sepakat untuk melakukan iuran seiklasnya guna mengikuti lomba tersebut. Sebab karena hanya sebatas perkumpupan biasa, sehingga tidak memiliki kas. Apalagi untuk membuat layang-layang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sebab bahan baku yang digunakan yaitu kain parasut yang cocok hanya bisa dibeli di luar daerah terdekat Tulungagung. Apalagi warna kain yang dibeli harus berbeda, itu dilakukan untuk membuat pola pada layang-layang tersebut.


Belum lagi ada bahan lainnya seperti bambu untuk kerangka, lem, tali dan sebagainya. Sehingga untuk model layang-layang naga, diperlukan biaya sekitar Rp 6 juta untuk bahan bakunya saja. Setelah bahan baku diperoleh barulah proses pembutan yang membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Itu terjadi lantaran proses pembuatannya dilakukan pada malam hari, sebab pada pagi hingga sore, semua anggota sibuk bekerja. "Jadi proses pembuatannya dilakukan ketika teman-teman longgar makanya sedikit lama, sebab jika setiap hari fokus pasti hanya dibutuhkan waktu sekitar satu minggu," tutur pria 35 tahun ini.


Sementara itu Sugeng Prianto salah satu anggota komunitas lainnya menambahkan, sebelum diikutkan lomba, layang-layang minimal harus menjalani tiga kali uji coba terbang. Ini dilalukan untuk memenuhi setingan tali layang-layang yang tepat, agar mudah diterbangkan juga bisa imbang. "Jadi isitilahnya tali goci layang-layang harus pas, sebab penilaian pada lomba utamanya harus tenang ketika diterbangkan," imbuhnya.


Karena itulah, ketika baru pertama kali mengikuti perlombaam tersebut, lasung mendapatkan juara satu di kabupatan. Dari situ berhak mewakili Trenggalek di tingkat provinsi di tahun berikutnya dan juga lasung mendapatkan juara satu. Sehingga dengan torehan tersebut komunitas diminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti ajang serupa di tingkat nasional sekaligus nasional yang diselenggarakan di pantai Parangkusumo, Jogjakarta. Saat itu selain harus bersaing dengan peserta dari dalam negeri, mereka harus bersaing dengan peserta lain dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Republik Rakyat Tiongkok, dan sebagainya.


Dengan tekat yang kuat akhirnya mereka mampu bersaing dengan peserta lain dan mampu meraih juara tiga pada jenis layang-layang naga yang diikuti. Hal serupa dilakukan pada 2019, namun untuk tingkat internasional di tempat yang sama, hanya mendapatkan juara harapan 1 pada layan-layang kreasi. Sebenarnya dengan prestasi tersebut, mereka juga berhak mengikuti lomba tersebut pada 2020 ini.


Namun hal itu harus dikubur karena pandemi virus korona yang ada. Kendati demikian ada bulan depan, ada kabar bahwa perlombaan tersebut bakal dilaksanakan kembali. "Kami tengah melakukan persiapan untuk membuat layang-layang jika jadi dilaksanakan lagi. Sebab setiap tahun harus merubah model layang-layang jika ingin ikut lagi," jelas Sugeng.(*)

Editor : Choirurrozaq