Meskipun hampir seluruh sektor usaha cukup terpukul dengan pandemi Covid-19, beberapa usaha masih tetap survive. Salah satunya dilakoni oleh Muhammad Sjafii Tamam. Budi daya ikan koi miliknya tetap bertahan, bahkan kemudian bisa meraup keuntungan dari kondisi masyarakat banyak berdiam di rumah.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kepanjenkidul, Radar Blitar
Sedikit bergeser ke barat dari pusat kota, kita bakal disuguhkan dengan pemandangan kolam-kolam ikan koi milik salah satu pembudi daya ikan koi di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul. Tepatnya di Jalan Sungai Hilir. Pemiliknya adalah Muhammad Sjafii Tamam. Pembudi daya ikan koi yang sudah berkecimpung di dunia koi sejak 2015 lalu.
Pelataran rumahnya terlihat basah oleh air hujan sore itu. Saat Koran ini mendatangi rumahnya, seorang pria khas dengan peci hitam langsung menyambut. Meskipun tengah asyik mengecek kondisi ikan di kolam di depannya, dengan ramah dia mempersilakan tamunya untuk masuk. "Waalaikumsalam. Monggo, masuk saja kita bicara di dalam," sambutnya ramah sambil tangannya menunjuk ke arah pintu depan rumahnya.
Sembari duduk di kursi panjang di ruang tamunya, Sjafii menuturkan tentang lika-liku usaha budi daya yang digelutinya. Tren budi daya koi justru meningkat semenjak pandemi Covid-19 mulai "hadir" di Kota Blitar. Sebab, banyak karyawan yang terpaksa harus putus kerja dan banyak pengusaha yang harus gulung tikar akibat pandemi. Sehingga sebagian besar dari mereka beralih ke usaha budi daya. Koi salah satunya. "Trennya meningkat karena salah satu usaha di dalam masa pandemi ini yang masih bisa bertahan ya budi daya koi ini," ujar Sjafii.
Uniknya, kini yang jadi incaran para pembudi daya pemula adalah anakan ikan koi. Hal ini justru menjadi angin segar bagi Sjafii yang notabene menjual jenis ikan koi dari berbagai ukuran. Selain itu, akibat dari turunnya daya beli masyarakat, hal itu juga ikut menjadi alasan masyarakat untuk membeli anakan koi karena harganya yang lebih miring. "Yang beli itu kelas menengah ke bawah. Karena pandemic, kemampuan beli turun. Akhirnya menurunkan pembelian ke kelas benih," tuturnya.
Hasilnya? Bisa ditebak. Sjafii menerima cukup banyak permintaan benih koi, setidaknya dalam tiga bulan terakhir. Sebagai gambaran, apabila di kondisi sebelum pandemi, biasanya menjual sekitar 3.000 ekor benih koi per bulan, selama masa pandemi penjualannya meningkat hingga 5.000 ekor benih koi per bulan.
Namun akibat dari banyaknya masyarakat yang kini beralih untuk mencari benih koi, harga koi dewasa pun mengalami penurunan. Karena peminat koi dewasa yang kian menyusut. "Harga koi dewasa sekarang cenderung turun. Dulu Rp 150 ribu per ekor. Sekarang paling Rp 75 ribu per ekor. Itu pun dengan kualitas yang sama," sebut pria 52 tahun ini, sambil sesekali meneguk kopinya.
Sjafii mengaku tak ambil pusing. Sebab, jika budi daya koi tak ubahnya seperti investasi. Boleh jadi harga koi dewasa kini tengah turun. Tapi apabila nanti harganya kembali naik, bisa menjual koi dewasa. "Jadi ini seperti investasi. Nanti kalau saya butuh uang, tinggal jual. Kalau tidak butuh ya disimpan dulu. Lagi pula kalau disimpan, harganya cuma turun sementara waktu," ujarnya tenang.
Disinggung mengenai biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk usahanya. Sjafii mengaku harus merogoh kocek sekitar Rp 25 juta per bulan. Biaya itu sudah termasuk gaji karyawan, listrik, dan pakan ikan. Sedangkan, omzet yang diperoleh berkisar di angka Rp 50 juta per bulan.
Lantas kendala apa yang dialaminya selama ini? Sjafii mengatakan, kendala yang harus dihadapi pada pengiriman luar pulau. Terang saja, di masa pendemi seperti saat ini, biaya kirim ke luar pulau cenderung naik. Padahal, harus mengirim koi kepada pelanggannya di berbagai daerah di Tanah Air, seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Bali. "Yang paling utama biaya pengiriman naik. Ini berpengaruh terhadap permintaan di luar Jawa," kata pria asli Kota Blitar ini.
Meskipun terkendala dan biaya pengiriman naik, berbanding lurus dengan permintaan dari luar pulau tetap datang silih berganti. Dia mengaku, belakangan ini tengah sibuk membuat beberapa kolam yang rencananya untuk menambah kapasitas budi dayanya. Kini, lanjut Sjafii, setidaknya ada enam kolam baru yang sedang digarap. Penambahan kolam ini semata-mata untuk mengikuti permintaan pasar yang cenderung meningkat selama masa pandemi. "Saya bikin lagi itu di depan. Sedang digarap. Rencananya nanti saya tambah (ikan koi, Red) di situ biar makin banyak," ungkapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq