Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bonari, Penulis dari Dongko, Peraih Anugerah Sutasoma 2020

Choirurrozaq • Jumat, 27 November 2020 | 22:00 WIB
bonari-penulis-dari-dongko-peraih-anugerah-sutasoma-2020
bonari-penulis-dari-dongko-peraih-anugerah-sutasoma-2020

Terus berkarya sambil melestarikan sastra Jawa dari leluhur konsisten dijalankan Bonari. Hasilnya, berbagai penghargaan berhasil diraihnya. Terbaru, bulan lalu dia meraih anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) bulan lalu.


Anugerah tersebut diberikan atas jerih payahnya yang terus aktif sebagai sastrawan Jawa lebih dari 30 tahun. Sebab, anugerah Sutasoma adalah hadiah tahunan yang diberikan untuk tokoh, guru berdedikasi, dan buku terbaik dalam hal pengembangan sastra di Jawa Timur (Jatim). "Sebenarnya saya tidak menyangka bisa meraihnya tahun ini," ungkap Bonari kepada Jawa Pos Radar Trenggalek.


Alasannya, di tengah pandemi korona seperti saat ini, terlihat sulit jika anugerah tahunan tersebut diadakan lagi. Jauh-jauh hari Bonari menyatakan kepada panitia agar jangan dipanggil sebagai juri pada event tersebut seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebab dengan kondisi seperti saat ini, dengan berbagai pembatasan untuk beraktivitas, dirinya memilih untuk di rumah saja sambil terus membuat karangan berbahasa Jawa. "Memang biasanya tiap tahun saya selalu diminta sebagai juri untuk menentukan siapa tokoh yang pantas mendapatkan anugerah tersebut. Namun karena pandemi, saya memilih lebih fokus untuk menyelesaikan buku yang nantinya diterbitkan," katanya.


Setelah menerbitkan buku berjudul Gurit Panglipur Wuyung pada pertengahan tahun ini, dirinya ingin tetap menerbitkan buku dengan judul yang berbeda. Apalagi ketika menerbitkan buku tersebut, BBJT juga memintanya sebagai arsip atau koleksi perpustakaan balai. Siapa sangka, buku yang diterbitkan pertengahan tahun ini berisi kumpulan puisi karangannya tersebut, dinilai oleh tim juri dalam anugerah Sutasoma. Dengan penilaian yang matang, buku tersebut masuk nominasi yang nantinya diseleksi kembali dengan buku-buku lain hasil karya sastra di seluruh Jatim. "Ketika ada panitia yang menghubungi dan mengatakan buku saya itu masuk nominasi, saya kaget. Tak mengira sebelumnya," tuturnya.


Tak disangka, ternyata buku karangannya itu terpilih senagai pemenang dalam kategori buku sastra daerah (Jawa). Dari situ, Kamis lalu (15/10) dirinya diundang ke Sidoarjo untuk menerima sertifikat penghargaan, bersama beberapa insan penggiat sastra Jawa lainnya. Perolehan anugerah Sutasoma semakin menambah kepercayaan untuk membuat karya lainnya.


Apalagi tidak mudah untuk memperoleh anugerah tersebut. Ini terlihat dari buku hasil karya yang terpilih merupakan buku berisi kumpulan puisi yang dikarang sejak 1980 lalu. Sehingga butuh proses panjang dalam proses pembuatannya. Sebab, setiap bait puisi saja tidak bisa seenaknya dalam mengarang. Membutuhkan waktu dan niatan tepat untuk menyusun kata-kata agar menarik dan indah.


Kadang kala di tengah proses pengarangan, dirinya beberapa kali kehilangan ide untuk kata apa yang tepat. Sehingga untuk menyegarkan pikiran agar bisa berkarya kembali, dirinya berkebun dengan menanam bunga. Dari situ, jika mendapatkan ide, langsung dituangkan dalam secarik kertas agar tidak lupa. "Biasanya saya mengarang sambil berkebun. Saat ini selain sebagai sastrawan Jawa, juga sebagai pembibit bunga," jelas pria yang dikenal dengan nama pena Bonari Nabonenar ini. (*)

Editor : Choirurrozaq