Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Ahmad Sibaweh, PNS Sekaligus Pedagang Trofi

Choirurrozaq • Senin, 30 November 2020 | 22:00 WIB
cerita-ahmad-sibaweh-pns-sekaligus-pedagang-trofi
cerita-ahmad-sibaweh-pns-sekaligus-pedagang-trofi

Jiwa dagang tumbuh dari lingkungan. Kata-kata itu menjadi prinsip awal Ahmad Sibaweh memulai karir jadi seorang pedagang. Dia tak pilih-pilih rekan. Bahkan hingga penjual mainan pun tidak luput menjadi inspirasinya.


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek


 


AKTIVITAS sore dan malam Ahmad Sibaweh sering kali disibukkan dengan merakit trofi (piala, Red). Usaha itu digelutinya sudah sejak 2006 lalu. Kedua tangannya pun lihai ketika memasang tiap bagian-bagian trofi. Bahkan hanya perlu waktu sekitar empat jam, Sibaweh bisa merakit sampai 10 trofi. 


Sibaweh punya usaha cukup profit di Trenggalek. Omzetnya mencapai Rp 20 juta per bulan sebelum masa pandemi Covid-19 dan menyisakan sekitar Rp 8 juta semasa Covid-19. Imbas Covid-19 cukup terasa bagi pedagang trofi. Sebab, trofi berkaitan dengan kegiatan yang mengundang kerumunan. Namun selama ada pandemi, pangsa pasarnya pun lesu. Semua kegiatan perlombaan berujung batal. "Tidak ada event, nihil," kata warga Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek.


Di balik usahanya yang moncer, ternyata Baweh -panggilannya- berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) guru di Kecamatan Bendungan. Yang membuat dirinya membutuhkan rekan kerja perajin untuk usahanya. Karena memang profesi sebagai guru, tidak bisa dia tinggalkan. "Saya suka mengajar," cetus dia.


Bagi Baweh, mendapatkan dua koin mata uang itu butuh kerja keras. Baweh mengaku bukan terlahir dari anak orang kaya. Untuk kuliah, dia harus mencari duit sendiri.


Waktu itu Baweh menjadi guru tidak tetap (GTT) di Kediri pada 1997. Profesi GTT dia dapat tanpa mengantongi ijazah S1, tapi masih dengan ijazah SMA. Namun ketika mengandalkan gaji dari GTT, Baweh mengakui sangat kurang. Dia pun bermimpi bagaimana kalau menjadi pedagang.


Pria kelahiran 1978 itu teringat pesan bapaknya, kalau ingin menjadi pedagang tidak harus menempuh perkuliahan jurusan ekonomi. Kalau ingin sukses berdagang, perlu membaur dengan sesama pedagang.  "Saya mulai mendekati penjual mainan yang biasa jualan di sekitar sekolah. Tanya tentang cara berdagang, omzet, maupun prospek ke depan," kata dia.


Semakin sering Baweh berkomunikasi dengan penjual mainan, ternyata hal itu justru menginspirasinya untuk berjualan mainan. Dia pun mulai pengalaman jualan kali pertama dengan menitipkan mainan di koperasi sekolah dan rekan-rekannya pedagang.


Tak disangka, proses jualan mainan cukup sukses. Tanpa mengurangi kegiatannya sebagai GTT, usaha mainan anak-anaknya juga jalan. Bahkan, duit hasil jualan itu bisa untuk menyewa ruko untuk jualannya pada 2004 lalu. "Isu beredar kalau toko yang saya sewa itu angker, yang sewa akhirnya nggak betah dan usahanya gulung tikar. Tapi saya pikir, ini toko di depan SMP, jadi bagaimana jualan sesuai kebutuhan anak-anak seusia itu," ujarnya.


Baweh pun punya toko pertamanya. Toko itu cukup lengkap barang dagangannya, mulai mainan anak-anak seperti Tamiya, gasing, hingga majalah dan koran. Di antara barang dagangannya, sebetulnya Baweh sudah menjual trofi. "Dulu sampai kenal akrab dengan konsumen, ngobrol-ngobrol santai. Barangkali itu juga yang membuat konsumen potensial," ungkap ayah tiga putra ini.


Sembari punya usaha, Baweh tidak lupa dengan pendidikannya. Dia memutuskan untuk mengambil jurusan pendidikan agama Islam dan lulus sekitar 2005 lalu. "Setelah lulus ikut tes CPNS, ternyata lolos dan mengajar di Trenggalek," ungkapnya.


Profesi guru itu membuat Baweh meninggalkan usaha tokonya di Kediri. Biarpun ada karyawan yang melanjutkan, toko itu tidak bertahan lama. Jarak Kediri-Trenggalek menjadi hambatan tersendiri. Dengan terpaksa toko itu pun dia tutup. "Pelanggan-pelanggan lama masih banyak yang masih komunikasi," kata dia.


Jiwa dagang yang dimiliki Baweh tumbuh kembali, ketika dia mencium peluang usaha trofi custom di Trenggalek yang masih jarang. Bermodal jaringannya, usaha trofi Baweh bisa dikenal di Trenggalek. Pangsa pasarnya pun didominasi di Trenggalek, ada juga di Ponorogo. "Peluang usaha itu bisa dikenali dari sebarapa sering orang bertanya. Misal, ada orang tanya di mana beli ini atau itu. Sebenarnya itu peluang," jelasnya.


Dia menuturkan, lingkungan berperan penting untuk kesuksesan berdagang. Bisa dimulai dari komunitas, organisasi dan sebagainya. Dari lingkungan, mental pedagang akan terus terbentuk. Sehingga ketika ada barang yang tidak laku itu dapat berpikir bagaimana cara bisa laku. "Mengikuti tren tidak kalah penting, saya masih sering tanya tren trofi-trofi secara berkala," tutupnya. (*)

Editor : Choirurrozaq