Aktivitas belajar di rumah ketika pandemi Korona tidak membuat Rajih Tsaqif Abiyyu untuk bermalas-malasan atau bermain. Pasalnya, dia terus membuka buku, sesuai pelajaran ketika di sekolah. Hasilnya, minggu lalu baru saja meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional 2020.
ZAKI JAZAI, Gandusari, Radar Trenggalek
"Medali dan sertifikat belum datang, mungkin masih dikirim kesini," ucap Rajih. Ya, kata-kata polos seperti itu pertama kali yang diucapkan Rajih Tsaqif Abiyyu ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di kediamannya yang berada di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, kemarin (30/11). Bersamaan itu terlihat beberapa buku tertata rapi di atas meja halaman depan rumah. Buku-buku tersebut merupakan buku pelajaran sesuai jadwal pelajaran yang ada di sekolahnya.
Benar saja, ketika itu dirinya baru saja membaja buku mata pelajaran IPA. Bersamaan itu tidak ketinggalan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang guru. Bukan hanya itu, selain tumpukan buku pelajaran, nampak juga beberapa trophy dan sertifikat atas nama dirinya. Itu didapatkan karena berkat kepandaiannya pada pelajaran sains. "Pertama saya mendapatkan penghargaan ketika duduk di kelas I Madrasah Ibtidaiyah (MI) ketika ikut olimpiade sains tingkat kabupaten, dan terakhir minggu lalu," kata bocah yang akrab disapa Rajih ini.
Sebenarnya Rajih tidak menyangka jika berhasil masuk lima besar dan mendapatkan medali emas pada lomba yang dilaksanakan oleh Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia (Posi) secara online atau dalam jaringan (daring) tersebut. Sebab selain harus menghadapi 700 lebih pesaing dari seluruh penjuru tanah air. Ditambahkan pada tiga kali keikutsertaan olimpiade sains sebelumnya yang diselenggarakann oleh pihak lain juga secara daring pada situasi pandemi Korona dirinya gagal. Alasan yang menjadi kegagalannya, tidak diketahui secara pasti. Namun dimungkinkan selain kualitas saingan yang lebih baik, juga pada masa seperti saat ini perlombaan dilakukan lewat online, sehingga kualitas jaringan yang ada juga mempengaruhi. "Kendati demikian saya tidak mau menyerah dan terus belajar," ucapnya.
Untuk proses belajar sendiri sebenarnya tidak ada yang khusus. Sebab pada situasi seperti saat ini dirinya menjalankan kewajiban sebagai pelajar. Sehingga selain pada pagi hari, Rajih juga menambah jam belajar pada malam hari, layaknya proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di madrasah sebelum pandemi Korona. Ditambahkan, selama proses tersebut dirinya sama sekali tidak menonton televisi (TV) apalagi bermain game di HP, karena akan menyita waktu, hingga dirinya lupa belajar.
Dari situ Rajih tetap yakin untuk mengikuti olimpiade sains tersebut. Sebab mapel yang berhububgan dengan sains, seperti Biologi dan Fisika merupakan mapel favoritnya. Sedangkan dalam mengikuti perlombaan yang dilakukan secara online tersebut, dirinya meminjam handphone (HP) milik sang ayah. Sebab dirasa menggunakan jaringan internet dengan telepon selular dinilai lebih stabil dibandingkan menggunakan jaringan internet lewat kabel di rumah.
Akhirnya dengan kualitas jaringan yang lancar dirinya berhasil menyelesaikan seluruh soal dengan baik. Syukurlah karena jerih payah tersebut mampu menghantarkannya menjadi lima terbaik. "Ini bakal menjadi semangat saya untuk berprestasi lebih baik lagi," jelas siswa kelas V MI Gandusasi ini.(*)
Editor : Choirurrozaq