Cita-cita itu sudah lama terpendam dan kini bisa terwujud. Ketertarikannya dengan energi sel surya membuat dirinya semakin bersemangat untuk mengekplorasi. Salah satu karyanya adalah sepeda listrik tenaga surya.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Kepanjenkidul, Radar Blitar
Sepeda mini itu melaju cukup kencang di jalanan siang itu. Sesosok pria bertopi dan berkacamata hitam itu pengendaranya. Dia terlihat santai menunggangi sepeda berwarna biru tua itu.
Namun, wujud sepeda mini tersebut tidak seperti pada umumnya. Sepeda itu sudah dimodifikasi sedemikiam rupa. Di bagian atasnya dipasangi papan mirip atap sehingga pengendara tidak kepanasan. Teduh.
Pria itu tampak menikmati perjalanan siang hari dengan sepeda uniknya. Sepeda melaju mulus di aspal. Namun, ketika diamati lebih dekat dua kakinya tidak mengayuh pedal sepeda. Kakinya tak bergerak sama sekali.
Ternyata eh ternyata, yang dikendarai pria itu adalah sepeda listrik bertenaga sel surya. Papan mirip atap yang memayungi si pengendara adalah adalah panel surya. Lilik Suprawanto adalah pengendara sekaligus pemilik sepeda itu.
Kebetulan, saat itu Koran ini menemuinya di kawasan Jalan Sumatera. Dia sedang asyik mengendarai sepeda listrik bertenaga sel surya itu. "Ini belum lama kok, baru setahunan," ujar warga Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul ini, ditemui sepekan yang lalu.
Sepeda listrik tenaga surya yang ditumpangi itu tidak dibeli, tapi dia rakit sendiri. Memanfaatkan sepeda mini bekas merek Paragon hasil pemberian rekannya, Lilik berupaya mengubahnya menjadi sepeda listrik dengan tenaga surya.
Dia memanfaatkan panel surya sebagai pembangkit listrik. Biasanya, panel surya tersebut juga digunakan sebagai sumber tenaga listrik di rumah-rumah. "Semuanya saya rakit sendiri. Saya las sendiri. Tapi ya nggak begitu rapi karena memang nggak bisa nge-las," katanya, lantas tertawa.
Sepeda listrik miliknya itu, jelas dia, masih belum sempurna. Dia masih akan menyempurnakannya lagi. "Rencananya memang saya uji coba dulu. Nah, Covid-19 ini lebih sering saya operasikan sekalian diuji coba. Saya coba pastikan daya yang dihasilkan sudah sesuai dengan perhitungam atau belum," jelasnya.
Setelah diuji coba beberapa kali, ternyata sudah sesuai dengan perhitungan. Sementara waktu ini, sepeda listrik itu dia manfaatkan sebagai kendaraan pribadi. "Ya, saya gunakan untuk aktivitas bekerja sehari-hari," tutur teknisi elektro panggilan ini.
Pria 52 tahun ini memang sudah puluhan tahun bergelut di bidang elektronik. Padahal, kemampuannya mengotak-atik mesin elektroni itu tidak diperoleh dari sekolah kejuruan maupun perguruan tinggi. Melainkan secara otodidak.
Dia hanyalah lulusan SMA dan tidak meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Memang sejak usia remaja, Lilik suka dengan dunia elektronik. "Saya itu dari dulu memang senang otak-atik barang-barang elektronik. Akhirnya jadi keterusan hingga jadi mata pencahrian," cerita bapak tiga anak ini.
Dimulai sekitar 1989 silam, Lilik menjadikan hobinya itu sebagai mata pencaharian. Dia membuka jasa servis barang-barang elektronik. Mulai televisi, radio, kulkas hingga AC atau pendingin ruangan.
Jasa servis elektronik yang dibukannya itu lambat laun semakin berkembang. Jumlah pelanggannya kian bertambah. Selain membuka jasa servis di rumah, juga menerima jasa servis panggilan.
Hingga berjalannya waktu, Lilik merasa jenuh dengan pekerjaannya itu. Dia menganggap pekerjaannya monoton. Tidak berkembang. Dia ingin mencari hal baru agar bisa mengeksplorasi kemampuannya.
Saat itu, dia mencoba beralih ke pembangkit tenaga surya. Teknologi Pembangkit listrik yang sudah lama diimpikan untuk dimanfaatkan. "Ini cita-cita saya. Ingin sekali mengekplorasi hal-hal baru," tutur pria berkacamata ini.
Akhirnya, dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang servis barang-barang elektronik. Dia memilih untuk mengembangkan kemampuannya pada tenaga surya.
Dia memulainya sejak lima tahun belakangan ini. Bermodal nekat, dia mengawalinya dengan memasang panel sel panel surya di atas genting rumahnya. Dengan kemampuan di yang ada, Lilik memasang komponen-komponen panen surya itu sendiri.
Dengan usaha keras, panel surya berhasil terpasang. Seluruh kemampuan di bidang elektronik dan kelistrikan diaplikasikannya. "Alhamdulillah, setelah di otak-atik akhirnya panel surya bisa beroperasi. Meski perlu penyempurnaan-penyempurnaan saat itu," ujarnya.
Hingga kini, panel surya yang terpasang di atap rumahnya itu masih berfungsi normal. Belum ada kerusakan yamg berarti. Selama ini, Panel surya itu dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik di rumahnya.
Untuk menyalurkan listrik, dia harus menggunakan aki. Yang fungsinya juga untuk menyimpan tenaga listrik. "Kalau sel surya ini khusus untuk listrik lampu rumah, pompa air dan mesin cuci. Biasanya kalau malam hari saya baru pakai listrik dari panel surya," tutur pria ramah ini.
Dengan memanfaatkan tenaga sel surya tersebut, Lilik mengaku lebih beruntung. Sebab, bisa menghemat listrik yang disuplai dari PLN. "Tarif listriknya juga lebih hemat," katanya.
Tetapi, untuk bisa memanfaatkan tenaga surya sebagai pembangkit listrik itu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perlu modal yang cukup.
Sebab, harga sebuah panel surya untuk saat ini berkisar Rp 300-400 ribu hingga jutaan. "Itu tergantung besaran ukuran daya dari panel tersebut," ujarnya. Semakin besar daya otomatis harga juga semakin mahal.
Tak heran, jika panel surya untuk sekarang ini belum bisa dinikmati oleh semua kalangan. Meski demikian, itu bisa menjadi alternatif seseorang agar bisa menghemat biaya listrik.
Nah, terkait sepeda listrik tenaga surya tersebut, Lilik mengaku saat itu tidak terlalu merogoh kocek banyak untuk modal. Modalnya hanya untuk dibelikan panel surya dan beberapa komponen pendukung.
Sementara sepedanya hasil pemberian. Sedangkan untuk komponen lain, sebagian dari barang bekas. Beberapa komponen pendukung itu di antaranya, aki, dinamo dan pedal gas. "Untuk aki saya menggunakan tiga. Kapasitas masing-masing 14 volt," bebernya.
Semua komponen itu dirakitnya sendiri hingga menjadi sepeda listrik. Dua dinamo di pasamg di dua roda depan dan belakamg sebagai penggerak.
Lilik masih akan menyempurnakam sepeda listriknya itu. Rencananya, akan dibuat menjadi sepeda beroda tiga. Dengan tata letak pemasangan papan panel suryanya yang lebih elegan. "Kalau seperti ini, banyak orang yang mengira mirip bakul etek (pedagang sayur keliling, Red)," katanya, lantas terkekeh.
Kendati sering mendapat komentar aneh dari sejumlah orang, Lilik tidak mempermasalahkan itu. Dia tetap percaya diri mengendarai sepeda uniknya itu.
Melalui sepeda listriknya itu, dirinya sudah mampu berkeliling ke sejumlah wilayah di Blitar. Puluhan kilometer. Jalan menanjak dan menurun dilalui.
Sejauh ini, belum pernah sampai kehabisan tenaga. "Semua bergantung dari cuaca. Kalau cuaca panas, justru tenaga listrik semakin bertambah. Otomatis daya menjadi tahan lama," ujarnya. (*)
Editor : Choirurrozaq