Di zaman yang serba digital ini, mungkin tak banyak anak muda yang serius melestarikan budaya tradisional. Untungnya, Kota Patria tak pernah kehabisan bibit muda yang aktif melestarikan budaya. Salah satunya, Catur Aprilian Wijayanto, pelaku kesenian jaranan.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Sukorejo, Radar Blitar
Awan mendung terlihat masih betah berlalu lalang di langit Bumi Bung Karno. Aspal di Jalan Joko Kandung pun tampak belum kering, bekas diguyur hujan sore. Di salah satu rumah di sudut jalan itu, terlihat beberapa perlengkapan kesenian jaranan. Itu adalah rumah Catur Aprilian Wijayanto, pegiat kesenian jaranan.
Awalnya, Catur -panggilan akrab Catur Aprilian Wijayanto- terkesan malu-malu saat mulai menuturkan ketertarikannya pada kesenian tradisional ini. Dia mengaku, hobi jaranan yang ditekuninya sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). "Suka jaranan dari TK. Kalau tidak salah tahun 2010. Karena mbah (kakek, Red) saya dulu juga pegiat jaranan. Jadi saya disuruh meneruskan," kenangnya.
Darah seni dari sang kakek begitu kental sehingga si cucu pun getol belajar jaranan dalm 10 tahun ini. Bahkan, Catur pun memutuskan untuk bergabung dengan salah satu sanggar kesenian jaranan demi menambah ilmu dan menambah relasi. Berbagai macam pentas pun pernah dicobanya. Mulai dari pentas seni oleh pihak perorangan, swasta, hingga pemerintah daerah, pernah dilakoninya. "Kalau pentas sih bisa kalau ada acara tasyakuran, agustusan, atau karnaval budaya yang diadakan oleh pemkot," sebut bungsu dari empat bersaudara ini.
Remaja kelahiran 5 April 2004 ini mengatakan, bukan cuma panggung lokal saja, sejumlah panggung luar daerah pun pernah jadi tempat bagi Catur dan teman-teman sanggarnya menambah pengalaman. Sebut saja, mulai dari pementasan seni di Jakarta, Bali, Ngawi, Surabaya, hingga Prambanan sudah di-jajal.
Namun, itu cerita sebelum pandemi. Kondisi berbeda harus dihadapi Catur dan kawan-kawan setidaknya sejak Maret lalu, di mana pandemi Covid-19 mulai merambah Kota Blitar. Kini, Catur tak banyak pentas karena minimnya jumlah undangan, berkaitan dengan perizinan kegiatan sosial oleh pihak berwenang. "Dulu latihan semingga empat kali. Kalau sekarang latihan cuma kalau mau pentas saja. Sedangkan, saat ini kini dalam sebulan kita pentas paling cuma tiga kali," terang siswa kelas X SMKN 3 Blitar ini.
Beruntung, pihak pemerintah kota melalui dinas terkait memberikan wadah bagi para pegiat seni di Kota Blitar, yang belakangan jarang mendapatkan izin pentas secara langsung. Yaitu dengan digelarnya pementasan seni secara virtual oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Blitar. "Sekarang kita pentas jaranan secara virtual. Jadi, seluruh pegiat seni digilir untuk dipentaskan dan direkam untuk diunggah di YouTube atau Facebook Disparbud,” ungkapnya.
Disinggung mengenai antusiasme generasi milenial terhadap kesenian jaranan, Catur mengaku, sebenarnya banyak anak muda Blitar yang peduli dengan budaya tradisi ini. Namun, hal tersebut perlu diberikan wadah dan pembinaan, agar bibit-bibit baru terus bermunculan.
Justru, Catur lebih mengkhawatirkan hilangnya jenis jaranan lokal khas Blitar. Jenis jaranan yang dimaksud antara lain, jaranan Pegor, jaranan Jur dan jaranan Kucingan. Catur menyebut, jenis jaranan tersebut merupakan ciri khas jaranan Bumi Bung Karno. "Beberapa masih ada yang melestarikan jenis ciri khas jaranan Blitar itu. Tapi jumlahnya sudah sangat sedikit,” ujarnya. (*)
Editor : Choirurrozaq