Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Anakan Termurah Rp 500 Ribu, Tak Beri Makan 6 Minggu Lihat Keganasan

Choirurrozaq • Kamis, 17 Desember 2020 | 18:27 WIB
anakan-termurah-rp-500-ribu-tak-beri-makan-6-minggu-lihat-keganasan
anakan-termurah-rp-500-ribu-tak-beri-makan-6-minggu-lihat-keganasan

Memelihara ikan kini tengah menjadi tren tersendiri, apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Seperti yang dilakukan oleh Nanda Nayu Seta. Pasalnya, kendati masih tercatat sebagai santri di salah satu pondok pesantren wilayah Kecamatan Durenan, dengan aktivitas pembelajaran di rumah, dia punya lebih banyak waktu luang untuk melihat koleksi ikan gabus predator peliharaannya.


Ikan gabus adalah sejenis ikan predator yang hidup di air tawar, yang dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah, seperti haruan, bogo, kutuk, dan sebagainya. Selain ganas, juga ikan gabus tersebut kaya akan manfaat bagi kesehatannya. Namun, di balik itu semua ternyata ikan gabus sangat cantik, jika dipakai untuk hiaaan akuarium. Seperti yang dilakukan oleh Nanda Bayu Seta.


Ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek, di rumahnya yang berada di wilayah Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, terlihat Nanda biasa disapa sedang duduk termenung di teras depan rumahnya. Ternyata apa yang dilakukan bukan hanya asal duduk, melainkan melihat ikan gabus peliharaannya yang diletakkan di akuarium teras rumahnya tersebut. Terlihat ikan gabus miliknya tersebut bukan asal ikan gabus, melainkan ikan gabus hias yang habitatnya di Myanmar. "Jika tidak mondok, inilah pekerjaan saya (melihat ikan gabus peliharaanya, Red) ketika di rumah untuk menghilangkan rasa jenuh apalagi ketika pandemi korona," ungkap Nanda kepada Koran ini.


Alasannya, karena ikan gabus, predator tersebut salah satu ikan yang bisa diajak interaksi. Buktinya, setiap kali dirinya datang ke tepi akuarium, ikan gabus tersebut selalu mendekatinya. Apalagi ketika menggerakkan jentik jari dengan menyentuh akuarium, ikan tersebut selalu mengikuti arah jemari tempat dia bergerak. "Karena itu, sekitar dua tahun lalu saya mulai mengoleksi ikan gabus ini," katanya.


Awal mula Nanda menyukai ikan predator tersebut ketika dirinya berkunjung ke rumah temannya sesama santri di wilayah Tulungagung. Seketika itu, oleh sang teman dirinya dikenalkan oleh komunitas penggemar ikan gabus di wilayah tersebut. Karena dilahirkan di daerah pesisir, sejak kecil dirinya senang memelihara ikan dan berniat untuk membeli anakan ikan gabus tersebut. Sebab kala itu, ikan gabus yang dilihat memiliki corak berbeda dengan yang ada selama ini. Karena selain bewarna putih dan hitam, juga terdapat corak oranye. Sehingga lebih terlihat menarik.


Namun saat ingin membeli, dirinya seakan tidak percaya melihat harga ikan tersebut. Sebab, untuk anakan yang baru menetas, paling murah dihargai Rp 500 ribu. Itu pun jika pembelinya sesama anggota komunitas. Karena sudah telanjur suka, dirinya tidak mau berpikir dua kali dan langsung membelinya. Kendati harus merogoh kocek-nya dalam-dalam. Sebab selain membeli ikan, Nanda juga harus membeli akuarium tempat ikan tersebut.


Tidak cukup sampai di situ, ketika membeli satu ekor ikan dan memeliharanya, rasa kesukaannya terhadap ikan tersebut semakin menjadi-jadi. Sebab, cara memelihara cukuplah mudah. Buktinya Nanda tidak perlu setiap hari memberi makan. Cukup sekitar sekali dalam seminggu. Untuk makanan, sangatlah bervariasi. Mulai dari konsentrat, ikan kecil, daging, dan sebagainya. Dari situ, makanan cukup mudah didapat.


Apalagi, ikan tersebut akan terlihat lebih energik ketika lapar. Bahkan, Nanda sering tidak memberi makan ikan piaraannya tersebut selama enam minggu. Tujuannya untuk melihat keganasan sang ikan predator. "Ini termasuk ikan berkepala ular. Paling menyenangkan melihat keganasannya waktu makan ketika lapar," imbuh pria 27 tahun ini.


Karena kesukaannya itu, kini dirinya memiliki sedikitnya 13 jenis ikan gabus yang berasal dari beberapa negara seperti Myanmar, Vietnam, India, dan sebagainya. Ikan-ikan tersebut diletakkan di tempat terpisah pada tiap akuarium di rumahnya. Seperti satu di teras rumah, dua di ruang tamu, lima di ruang tengah, dan sebagainya. Itu dilakukan karena ikan tersebut memiliki teritorial sendiri. Sehingga jika ditempatkan dalam satu akuarium, pasti bertarung dan saling membunuh. Ikan tersebut sangat menyukai air keruh. Sehingga karena ditempatkan sebagai hiasan, sekitar satu bulan Nanda membersihkan akuarium tersebut. "Karena sudah hobi, puluhan juta sudah saya habiskan untuk mengoleksi ikan ini mulai dari peranakan. Sebab, beda corak beda pula harganya," jelas Nanda. (*)


 

Editor : Choirurrozaq