Mengubah limbah klobot jagung menjadi rangkaian bucket bunga yang bernilai ekonomis sedang dilakoni Lailatul Chodriyah. Dara 24 tahun ini berhasil memadukan klobot jagung dengan aneka bunga kering yang cocok untuk kado maupun hantaran pernikahan.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Ngunut, Radar Tulungagung
Tumpukan kulit jagung yang sudah mengering tampak berserakan di samping kediaman pasangan suami istri (pasutri) Sumar dan Sunarti di Desa Sumberingin Kidul, Kecamatan Ngunut. Tak lama, seorang gadis berjilbab membawa tumpukan kulit jagung atau yang sering disebut dengan klobot masuk ke ruang tamu. “Klobot-klobot yang sudah mengering ini nantinya akan saya buat buket bunga,” jelasnya kepada Koran ini sembari merapikan tumpukan klobot yang sedari tadi dibawanya dengan loyang.
Remaja yang akrab disapa Lailatul Chodriyah ini merupakan seorang penulis sekaligus perajin (crafter) bucket bunga asal Ngunut. Kecintaannya pada kerajinan tangan membuatnya menggeluti bisnis buket bunga sejak Agustus 2015 silam. Saat itu, dia yang masih duduk di bangku kuliah kerap melihat teman-teman sebayanya bingung memberi kado wisuda. “Di situ tercetuslah ide membuat buket bunga dari pita satin. Karena terbuat dari pita, jadi bisa disimpan dan menjadi kenangan bagi penerima hadiah,” terangnya mengawali cerita.
Dari situ Ella, sapaan akrabnya, mulai tertarik mengembangkan hobinya menjadi sebuah bisnis menjanjikan. Buket bunga yang semula hanya dari pita satin dan kain flanel berkembang menjadi buket bunga kering berbahan klobot jagung. Bermula dari daerah sekitar rumahnya yang memproduksi jagung. Usai panen, warga setempat selalu bingung mengolah klobot jagung. Tak jarang klobot-klobot ini hanya terbuang sia-sia atau hanya menjadi bahan pakan hewan ternak. “Dari situ saya merasa sayang saja kalau klobo-klobot itu hanya dibuang begitu saja. Saya pun coba memanfaatkannya dan rupanya bisa menjadi buket bunga kering,” imbuhnya.
Dara 24 tahun ini mengaku hanya bermodal referensi dari YouTube untuk membuat klobot jagung ini menjadi sebuah bunga. Agar tampil menawan dan beda dengan perajin yang lain, Ella pun memadukan bunga yang terbuat dari klobot jagung dengan aneka bunga kering lainnya. Seperti pinus-pinusan, bunny tail, alang-alang kering, hingga aneka dedaunan kering lain. “Ini untuk memberikan kesan rustic karena kini banyak yang menyukai gaya rustic ini baik untuk dekorasi pernikahan maupun kado ulang tahun,” terangnya.
Untuk produksi, sarjana ilmu sosiologi ini dalam sehari mampu menghasilkan sekitar lima hingga enam 5-6 buket bunga. Tergantung dari besar kecilnya dan tingkat kerumitan buket. Agar tampak seperti bunga asli, dia pun kerap memodifikasi bentuk bunga. Tak heran ketika sedang musim wisuda atau perayaan tertentu seperti Hari Guru, dia pun banjir pesanan. “Kadang bisa sampai overload juga karena memang masih dikerjakan sendiri. Jadi ya hanya mampu mengerjakan yang saya bisa saja untuk sementara waktu,” ungkapnya.
Proses produksi pun tergolong cepat. Pertama klobot yang baru saja diambil dari jagung dibersihkan terlebih dahulu menggunakan air. Jika sudah, dikeringkan hingga tidak ada lagi sisa-sisa air pada permukaan klobot. Selanjutnya masuk pada proses pewarnaan, seperti warna hijau atupun merah menyesuaikan bentuk bunga yang akan dibentuk. Jika sudah, klobot dibiarkan kering kembali sampai warna benar-benar terserap dengan baik pada permukaan klobot. Selanjutnya, lembaran klobot dipola dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan. “Kalau sudah dipola, tinggal dibentuk menjadi kelopak bunga lalu dirangkai menjadi buket bunga. Bisa juga untuk ditanam di pot plastik untuk hiasan meja,” urainya.
Disinggung mengenai imbas Covid-19, Ella mengaku bersyukur sampai kini bisnisnya masih mampu bertahan. Bahkan, dapat dibilang tidak terlalu berdampak. Untuk pemasaran dan penjualan, dia pun memanfaatkan media sosial dan marketplace. Ini dinilai lebih efektif melihat situasi seperti saat ini yang mengharuskan mematuhi protokol kesehatan (prokes). Untuk penjualan, buket buatannya telah melanglang buana hingga luar daerah. Seperti Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulon Progo, Magelang, Purwokerto, Klaten, Blitar, Kediri, dan Surabaya. (*)
Editor : Choirurrozaq