Mulai tergerus zaman, eksistensi wayang orang mulai dilupakan masyarakat. Beruntung Kota Patria masih punya sanggar yang tetap produktif memunculkan seniman-seniman muda di bidang wayang orang yang tetap mempertahankan seni wayang orang agar tetap eksis. Vicky Krisna Setiawan salah satunya.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kepanjenkidul, Radar Blitar
Perawakannya berbadan kecil tapi posturnya cukup jangkung. Kalau sudah mulai tampil di atas panggung, gerakannya luwes, suaranya gahar bak Arjuna, salah satu tokoh pewayangan. Dia adalah Vicky Krisna Setiawan, salah seorang pegiat seni wayang orang asal Kota Blitar. Kepada koran ini ia berbagi cerita terkait kegiatannya sebagai seorang pementas.
Semua berawal saat Vicky duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) pada tahun 2013 lalu dimana ia mengikuti kegiatan kesenian tari di sekolahnya dan kesenian jaranan atau kuda lumping di kampungnya. Sang guru tari melihat ada bakat lain dalam diri Vicky yang harus dikembangkan. Akhirnya, guru seni tari Vicky pun menarik Vicky untuk bergabung ke dalam sanggar seni Patrialoka. "Guru seni saya mengajak saya gabung ke sanggar. Karena selain mengajar tari di sekolah, kebetulan beliau juga mengajar tari di sanggar Patrialoka," ujar pemuda yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul ini.
Di sana, Vicky mulai dikenalkan dengan dunia wayang orang. Tak butuh waktu lama bagi Vicky untuk menguasai teknik-teknik pementasan wayang orang. Sebab, ia memang sudah menguasai salah satu teknik dasar wayang orang, yaitu tari tradisional. Singkat cerita, pemuda 20 tahun ini pun mulai dipercaya untuk memerankan beberapa tokoh wayang. "Ceritanya pasti tentang ramayana dan mahabarata. Pas lakon sumantri saya jadi Ratu Sabrang, pernah juga jadi Adipati Karno," sebut anak kedua dari dua bersaudara ini.
Vicky mengaku, banyak ilmu yang ia peroleh selama ia tergabung dengan sanggar. Tak melulu soal bagaimana memerankan tokoh wayang, Vicky mulai banyak tahu tentang teknis-teknis dan berbagai macam unsur lin yang ada dalam sebuah pagelaran seni budaya. "Menjadi lebih tahu bagaimana membuat suatu pertunjukan. Saya juga mengamati bagaimana mengatur artistik, mengatur jadwal latihan, clip on, sound system dan saya dibimbing oleh guru untuk membuat naskah alur cerita," kata mahasiswa semester I di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Lantas, kendala apa saja yang harus dihadapi oleh Vicky dan juga rekan-rekan sanggarnya? tentu tak lain dan tak bukan kendalanya di pandemi Covid-19. Vicky menyebut, si Covid-19 bikin latihan harus dilakukan secara terbatas. Bukan cuma pembatasan jumlah peserta latihan, tapi juga pembatasan jam. "Kita juga belum punya tempat latihan sendiri. Selama ini kita latihan kan di Istana Gebang atau di Gedung Kesenian Aryo Blitar. Jadi (latihannya, Red) harus bergantian dengan sanggar lain," ucap dia.
Tak terhitung jumlah panggung seni yang sudah ia lakoni sebagai penampil. Mulai pagelaran di tingkat lokal hingga tingkat provinsi pun pernah ia jajal. Mulai dari festival seni Cak Durasim di Surabaya, pekan kesenian di Jakarta, festival seni di Candi Prambanan dan pekan kesenian di Bali pun pernah masuk ke dalam daftar pentas.
Teranyar, Vicky dan kawan-kawan berkesempatan menjadi penampil di festival kesenian di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Namun, akibat pandemi, acara pun harus digelar secara virtual dengan disiarkan langsung di kanal-kanal media sosial (medsos).
Vicky mengaku, itu semua bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia ingin agar seni wayang orang tak ikut pudar dan dilupakan masyarakat, terutama anak-anak muda. Untuk itu, ia tetap kritis mengajak anak-anak muda di Kota Blitar untuk terus melestarikan kesenian wayang orang yang kini disebutnya hanya ada dua sanggar di wilayah Jawa Timur (Jatim) yang masih mempertahankan wayang orang. Yakni Sanggar Patrialoka Blitar dan satu lainnya adalah sanggar seni di Suarabaya.
"Harapannya semoga kesenian wayang orang bisa tetap lestari. Kita bisa berkarya mengikuti zaman, dengan mengikuti tren zaman dan ditambahi kreasi sedikit agar gak monoton sehingga bisa menarik orang-orang lain,". (*)
Editor : Choirurrozaq